Kado Terindah

Oleh: Afiqa Rizara (VII-6)

Hujan mengguyur desa kala itu. Jutaan tetesan mendarat di atas genteng rumah menciptakan suara harmonika yang membuat suasana tenang nan damai. Ditambah suara riuh wajan Ibu dari dapur membuat suasana semakin hangat.

Nalaesa sedang merajut kardigan sembari mendengarkan musik di kamarnya. Beberapa hari belakangan, Nalaesa sangat suka memutar lagu bergenre Indie yang direkomendasi teman sebangkunya, Keyla. Suara hujan dipadu musik Indie adalah kombinasi paliing pas menurut Nalaesa. Saat sedang asyik merajut, tiba tiba… “Prang!!” Suara memecah kedamaian. Nalaesa terkejut dan langsung beranjak menuju sumber suara. Ia tertegun saat mendapati panci yang digunakan ibu memasak tumpah mengenai tangan Ibunya.

Nalaesa yang melihat itu langsung berlari dan mengambil air dingin untuk mengompres tangan ibunya. “Ibu tidak apa-apa?” tanyanya khawatir. “Tidak apa-apa nak… terimakasih ya.” Ibu tersenyum menatap Nalaesa yang langsung cepat menangani situasi darurat. “Ibu duduk saja, biar Nalaesa yang membereskan ini”. Ucapnya. “Baik nak, makasih ya”. Balas ibu sambil tersenyum.

Nalaesa langsung mengambil alih menjadi koki dadakan untuk membuat teh dan donat gula, sedangkan ibu duduk dimeja makan berhadapan langsung dengan taman yang dibatasi pintu kaca. Ibu termenung melihat gadis kecilnya kini beranjak remaja. Nalaesa memang anak yang di didik mandiri oleh orang tuanya. Nalaesa anak tunggal yang kini berusia genap 14 tahun. Ibu menganggapnya sebagai pelita pertama didalam hidupnya.

“Ibu makanan nya sudah jadi…” Nalaesa menuju ke arah ibu membawa nampan berisi 2 gelas teh hangat dan donat gula. “Wah kelihatannya enak sekali, gimana kalau kita duduk di balkon taman saja?” tanya ibu kepada Nalaesa. “Boleh bu…” ucap Naelasa sembari menuju ke arah pintu kaca dan duduk di meja bundar.

Mereka duduk di balkon taman sambil memandang rintik-rintik hujan yang satu persatu jatuh membasahi rumput. Nalaesa juga mengompres tangan ibunya sambil bertukar cerita diantara derasnya hujan. Mereka bercanda dan tertawa bersama. “Ibu, Nala mau ambil kardigan rajutan Nala dulu ya…” ucapnya. “Iya Nak” balas ibunya. Nalaesa bergegas mengambil benang wol dari kamar nya dan duduk disisi ibunya. Ia sudah menyelesaikan sebagaian rajutannya. Kardigan itu berwarna biru muda dengan bunga camelia putih campur kuning di setiap sisinya yang mengambarkan sosok Nalaesa yang ceria dan penyayang.

Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 5 sore. Nalaesadan ibu masuk ke dalam rumah. “Tok…tok..tok” suara pintu diketuk terdengar dari luar. “Ayah pulang…..” teriaknya di balik pintu. Nalaesa beranjak dari ruang makan dan membuka pintu. “Ayah….” ucapnya riang sambil memeluk ayahnya. Kemudian mereka berjalan ke ruang makan bersama.

Di meja makan mereka bertukar cerita tentang hari yang sudah dilewati, ruangan kecil itu dipenuhi tawa dan cerita penuh makna. Nalaesa bercerita tentang rajutan yang sedang ia buat, Ibu bercerita kejadian saat memasak tadi sedangkan Ayah bercerita bahwa penjualan mie ayam nya meningkat karena orderan Bupati untuk pernikahan anaknya.

Hari berlalu, keesokan harinya Nalaesa duduk di Halte sambil menunggu bus sekolah menjemputnya, ia merajut sambil mendengarkan musik. Semua mata tertuju padanya, ada yang memuji secara langsung, ada yang berbisik karna mau menyampaikan bahkan ada yang hendak membeli baju hasil rajutannya. Nalaesa hanya bisa tersenyum dan mengucapkan terimakasih, ia tidak berniat menjualnya karena itu adalah kardigan pertama yang ia buat setelah belajar merajut lebih dari 2 tahun.

Nalaesa dikenal sebagai anak yang baik, ia sering membantu temannya yang kesusahan bahkan ia membayar SPP temannya yang yatim piatu menggunakan tabungannya dengan sukarela. Nalaesa adalah tempat bagi teman-temannya bercerita, ia adalah pendengar yang baik dan pemberi solusi yang tepat menurut teman sekelasnya. Nalaesa bukan tipe anak yang suka mengumbar aib orang lain. Bahkan saat dia membeli makanan ia selalu ingat pada orang lain, tidak jarang ia juga selalu membagikan jajanannya walaupun tidak ada yg tersisa untuknya sendiri. Dia memang lahir dari keluarga yang amat sangat sederhana namun tidak perhitungan dalam membantu, jiwa dermawan hidup dalam keluarganya.

Beberapa hari kemudian, Nalaesa memberikan sentuha akhir pada kardigan yang ia rajut, menambah manik-manik dan segera ingin menyelesaikan pekerjaannya karena besok adalah hari ulang tahunnya. Sebagai bentuk apresiasi untuk dirinya sendiri ini adalah karya pertama yang selesai dia kerjakan. Tak lama ia merasa haus dan berlari ke dapur, tiba tiba….”Priing!!” gelas yang ia pegang jatuh dan pecah. Tiba-tiba ia hilang kendali, kepalanya sakit, dan rasa nyeri seketika menyambar tubuhnya hingga ia tak sadarkan diri.

“Tit…tit…tit…” Suara itu berasal dari layar monitor yang berada tepat di samping Nalaesa. Layar itu menunjukkan kondisi detak jantung Nalaesa yang sedang dirawat di ruang ICU. Ia divonis terkena penyakit kanker yang mempengaruhi saraf otaknya. “Aku dimana?” ucapnya setelah sadar dan melihat sekeliling. Ibu dan Ayah langsung memegang tangan Nalaesa dan haru karna akhirnya ia sadar dari tidur yang panjang. Entah bagaimana perasaan mereka saat itu, hati mereka hancur mengetahui anak yang sangat mereka cintai harus menanggung penyakit yang sangat mengerikan.

“Dimana kardiganku?” tanyanya khawatir. “Hah, kardigan?” tanya ayah penasaran. Itu adalah pertanyaan kedua setelag ia sadar dari kondisi yang sangat memprihatinkan. “Besok hari ulang tahunku, aku ingin memakainya besok” ucapnya lirih. Ayah langsung pamit pulang untuk mengambil kardigan yang dicari Nalaesa, kata ibu kardigan itu ia simpan di atas kasur di kamar Nalaesa.

Jam sudah menunjukkan pukul 23.45 WIB. 15 menit lagi adalah hari ulang tahun Nalaesa. Ibu langsung memakaikan kardigan yang sudah ayah ambil. Itu adalah kali pertama Nalaesa mengenakan hasil rajutan yang selama ini dia kerjakan. Ia merasa sangat senang, ini terpancar dari raut wajah dan senyuman di bibirnya. Tepat pada jam 00.00 WIB hari itu, Nalaesa mengucapkan terimakasih kepada kedua orang tuanya, ia juga meminta maaf atas segala kesalahan yang dia buat selama ini. Nalaesa menghembuskan nafas terakhirnya tepat pada hari ulang tahunnya.

Tangisan Ayah dan Ibu pecah, teman-teman nya yang mendengar kabari itu juga ikut menangis dan masih tidak menyangka itu terjadi. Nalaesa mengenakan kardigan yang dia rajut selama 5 bulan untuk pertama dan terakhir kalinya.

Semenjak Nalaesa pergi, hampa sudah rasanya setiap sudut rumah yang mengingatkan Ayah dan Ibu akan kehadiran Nalaesa dalam hidup mereka. Ibu membingkai kardigan baju untuk mengenang Nalaesa dan memajangnya di ruang tamu. Nalaesa memang pergi, tapi karyanya abadi dan tetap membekas di hati mereka yang selalu menyayanginya [].

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *