Warisan yang Tersisa

Seuntai cerita dari Hanaf Abdu

“Andi, bangun salat subuh. Tolong bangunkan adikmu juga, ya!” Suara Mak terdengar dari arah dapur. Seperti biasa, setelah salat subuh, Mak langsung mempersiapkan menu istimewa pagi untuk kami sekeluarga. Memasak di dapur dan membangunkan kami setiap pagi; rutinitas itu dijalankan Mak penuh sukacita.

Biasanya aku langsung bangun ketika mendengar panggilan Mak, namun hawa dingin pagi ini membuatku lebih betah berlama-lama di tempat tidur. Hujan yang turun sejak semalam menjadikan udara pagi ini sangat berbeda.

“Andi, cepat salat, Nak. Bantu Ayah angkat barang-barang. Adikmu tak usah dibangunkan saja, biar tidak mengganggu Ayah bekerja.” Suara Ayah terdengar dari luar.

Aku segera singkap selimut dan melipatnya, bergegas menuju sumur untuk mencuci muka dan berwudu. Aku sempat menoleh ke luar, ternyata air sudah memenuhi halaman.

“Ayah, banjir, ya?” tanyaku.

“Sepertinya akan banjir, sana, cepatan salat.”

Aku bergegas salat dan membantu Ayah berbenah rumah petak mungil kami. Televisi, kulkas, dan beberapa perabotan lain kami naikkan ke atas meja makan yang terbuat dari kayu. Lalu Ayah mengambil jas hujan menuju halaman. Air sudah di atas lutut, Ayah sibuk memindahkan kayu-kayu yang tertahan di parit depan rumah. Kayu-kayu itu terus berdatangan dalam jumlah yang tidak biasa. Aku bermaksud membantu, tetapi Ayah melarang.

“Andi, bantu Mak saja, arus air agak deras, bahaya kalau keluar!” kata Ayah seperti berteriak karena melawan suara hujan yang masih saja turun.

“Baik, Ayah!” Aku segera ke dapur membantu Mak yang sudah siap masak. Nasi goreng istimewa buatan Mak yang sudah ditaruh dalam baskom segera kubawa ke depan.

“Taruhlah di lantai saja. Bangunkan Adik, ya, biar kita makan,” kata Mak sambil membawa lauk seadanya.

“Ayah, masuk dulu kita makan. Hujan kayaknya bakalan lanjut hingga malam nanti,” kata Mak.

“Ya, kalian aja dulu, ini kayunya sangat banyak sudah nyangkut. Takut aliran air tersendat dan akan menguap ke mana-mana,” teriak Ayah sambil terus mengangkat kayu-kayu yang terus datang entah dari mana.

“Ayah masuk saja dulu, makan. Nanti baru kerja lagi.” Mak tahu persis watak Ayah; kalau sedang bekerja lupa makan kalau tidak dipaksa. Seperti biasa, Ayah tidak bisa berargumen banyak menghadapi Mak. Mereka seolah sangat paham dengan watak masing-masing. Memang sering mereka beda pandangan, sifat Mak yang tidak mau mengalah berbanding terbalik dengan Ayah yang lebih santai.

“Makmu, super wonder women, siapa mau lawan ?,” pernah beberapa kali terdengar canda Ayah sambil menyunggingkan senyum khasnya. Aku juga ikut senyum mendengarnya, sambil mengiyakan dalam hati. Karena tidak berani benar-benar berpihak pada Ayah, bisa-bisa kena siraman rohani sampai lima jam nantinya.

“Biarin, yang penting hidup,” jawab Mak sambil memonyongkan mulutnya.

Kadang aku melihat mereka seperti anak remaja di film India yang sedang dimabuk cinta. Suka sindir namun penuh kehangatan dan kasih sayang. Aku merasa bersyukur memiliki mereka, sosok istimewa yang menyayangi penuh cinta, yang selalu menghadirkan kehangatan dan mencukupkan kebutuhan meski tidak berlebihan. Ayah sebagai seorang guru, benar-benar mendidik kami untuk menjalani hidup penuh rasa syukur.

Setelah selesai makan, aku ingin bersiap-siap ke sekolah, namun Mak melarang. Hujan belum reda, ditambah air yang terus naik membuat Mak melarang kami keluar rumah. Padahal biasanya hujan begitu menjadi waktu paling berharga bagi aku dan Zayyan. Kami berlari memutar pekarangan rumah yang ditumbuhi berbagai macam tumbuhan ini. Bunga Mak tertata rapi di taman kecil yang dibuat persis di sebelah kiri rumah. Sedangkan di depan dan sebelah kanan tumbuh pohon yang agak besar dan rindang, seperti mangga dan jambu milik Ayah. Tanpa perjanjian, mereka telah membagi pekarangan sesuai dengan selera masing-masing. Perpaduan itu menjadikan rumah kami harmonis, asri dan tertata rapi. Banyak yang memuji istana kediaman kami, menjadikan perasaan Mak terbang seperti bidadari.

Tak jarang kegemaran kami main hujan ditemani oleh Ayah. Ayah paling suka bersih-bersih selokan atau sekadar mencuci sepeda, sepeda motor, atau barang lainnya. Kami tahu itu cara Ayah mengawasi kami ketika bermain hujan. Namun tidak pada hari ini, meski tidak ke sekolah dan Ayah tidak pergi mengajar, Mak sudah mewanti-wanti tidak ada yang boleh keluar lagi, juga Ayah. Hujan itu terlalu deras dan sudah berlangsung sangat lama. Ditambah lagi air yang mengalir sangat deras membuat perasaan Mak tidak tenang. Kami tidak punya pilihan lain selain patuh sama Mak dan berdiam diri di rumah, sambil sesekali melirik keluar melalui jendela rumah.

“Sepertinya hujan ini tidak akan reda dan air sedikit lagi sudah masuk ke dalam rumah. Kalau banjir datang kita tidak mungkin bertahan di sini,” ucap Mak khawatir setelah membereskan peralatan makan yang baru saja selesai kami lakukan.

“Yah, gimana lagi. Sudah nasib kita kan langganan banjir. Coba kalau Ayah jadi pejabat pasti kita tidak akan tinggal di sini,” jawab Ayah bernada canda.

“Ya Ayah, kalau Ayah jadi presiden kita enak ya bisa tinggal di istana benaran. Nanti saya kalau sudah besar pasti jadi wakil presiden, ya.” Aku ikut melucu juga.

“Anak sama Ayah sama saja. Ayo mandi dulu.” Mak bergegas ke belakang sambil membawa Zayyan, adik semata wayangku yang masih berumur 4 tahun untuk dimandikan.

Perjalanan waktu begitu cepat. Mentari hampir tidak terlihat nyata, tertutupi derai hujan yang semakin meraja. Sebuah keluarga kecil terduduk resah, memandang hujan yang terasa terlalu panjang. Dalam kegalauan hati tiba-tiba terdengar jeritan. Suara-suara bising itu bersahutan, memenuhi setiap penjuru desa.

Ayah segera mengambil jaketnya, membuka pintu, dan hendak keluar. Terlihat arus air begitu kencang. Arus air itu berwarna kuning pekat, sepertinya berkolaborasi utuh bersama lumpur. Derunya begitu dahsyat, menghantam pohon kesayangan Ayah, pagar, dan taman Mak tanpa ampun.

“Ayo kita keluar, ayo cepat. Sini Zayyan Ayah gendong. Kamu Andi, pegangan dengan Mak.” Suara komando Ayah langsung terdengar sigap.

Mak mengikuti tanpa kata, mulutnya terdengar mengucap tasbih. Kami berempat terus menyusuri pekarangan, bergerak pelan menerobos air yang terasa semakin kencang. Kami tidak peduli lagi hujan yang membasahi, hanya berbekal baju yang dipakai saja. Terus berjalan hingga ke jalan, lalu kami berpapasan dengan banyak warga yang telah juga keluar rumah mencari tempat yang lebih tinggi. Persis di seberang jalan, rumah Wak yang berlantai dua menjadi incaran. Bang Firman, anak Wak yang sedang berjualan di lantai bawah, langsung menghampiri kami dan membawa masuk. Aku dengan Zayyan langsung ke lantai dua, bersama anak-anak tetangga lain yang juga sudah berada di sana.

Aku memutuskan ke teras depan lantai dua, sambil memantau arah luar, juga Mak dan Ayah yang balik ke rumah. Deru air semakin kencang, kuning kecokelatan bercampur dengan lumpur dan pepohonan. Terlihat orang dewasa lalu lalang, satu dua anak kecil dipapah orang tuanya. Air telah memenuhi jalan, banjir ini tidak seperti biasanya, ini lebih besar dan arusnya lebih deras berbaur dengan pekatnya lumpur.

Aku belum juga melihat Mak dan Ayah keluar, dari lantai dua terlihat pintu masih dibiarkan terbuka, tapi apa yang sedang Mak dan Ayah lakukan di dalam sana? Aku mulai khawatir, air semakin deras saja. Tiba-tiba Zayyan berteriak kencang.

“Mak, Ayah, cepat keluar!”

“Mak, Ayah, hati-hati!” Aku ikut memanggil Mak dan Ayah yang sudah terlihat di pintu. Air sudah mencapai pinggang. Satu tangan Ayah memegang buntalan baju, satu memegang tangan Mak, yang juga sedang mengapit buntalan, lalu mereka berjalan pelan.

“Hati-hati,” suara Wak yang tiba-tiba sudah berdiri di samping kami. Wak memegang Zayyan, yang mau naik ke atas besi di dekat teras itu.

Dari arah jalan terlihat beberapa sepeda motor dan mobil bergerak sangat pelan, menerjang arus mencari tempat teraman. Namun fokusku tetap ke Ayah dan Mak yang terus berjalan menghampiri jalan. Arus air begitu cepat dan bergejolak. Tiba-tiba segerombolan kayu datang begitu liar, diseret arus air yang bergemuruh dan menghantam tepat pada tubuh Ayah dan Ibu yang sedang melawan arus. Mereka hendak menghindar namun tidak kuasa, lalu Mak terjerembap dalam air. Ayah menarik tangan Mak, namun arus air terlalu kuat membawa Mak. Terdengar suara Ayah histeris, aku juga ikut histeris memanggil Mak dan Ayah. Aku hendak berlari turun, namun Wak memegang tanganku lebih kuat, kuku-kukunya mencengkeram lenganku, seolah menahan duniaku yang runtuh tepat di depan mata. Dari lantai dua, aku hanya bisa melihat Mak terlempar seperti boneka kain, menghilang dalam putaran arus kuning pekat itu. Ayah terus mengikuti arus air, sambil mengais kayu yang berpapasan. Orang-orang berteriak, memanggil Ayah untuk menuju arah yang lebih landai, namun Ayah terus mencari Mak. Dalam arus yang cepat lalu tubuh ayah pun lenyap dalam pandangan. Tenggorokanku serasa robek karena terus berteriak memanggil mereka, namun suara kami lenyap ditelan gemuruh air yang kini merenggut segalanya.

Empat hari empat malam berlalu, empat hari tanpa senyum Mak, empat hari tanpa canda Ayah. Hanya ada kebekuan di dada. Mak sudah damai di alamnya, aku hanya bisa melihat gundukan tanah makam Mak yang masih berwarna merah, sambil mengirimkan untaian Al Fatihah. Ayah belum juga diketahui entah ke mana, hanya berharap ada keajaiban dari Sang Penguasa Hidup membawa kembali Ayah dalam kondisi sehat. Hari-hari kulalui begitu hampa, makan dan minum di tempat pengungsian terasa bagaikan duri, menusuk tenggorokan begitu dalam, menyesakkan. Setiap suapan nasi pengungsian bagai pasir, mengingatkanku pada nasi goreng istimewa Mak yang takkan pernah kurasakan lagi.

Di tempat pengungsian yang sesak dan gelap, di bawah sinar bulan redup tanpa listrik, aku memeluk Zayyan erat. Tubuhnya kurus, matanya kosong menatap langit-langit terpal, mencari sosok Ayah dan Mak yang tak kunjung kembali.

Wak, Abang Firman, dan masih banyak orang-orang yang peduli, memberi kekuatan dan pengharapan. Mereka tidak hanya diam, terus mencari kabar Ayah, dan berharap sama sepertiku, Ayah kembali dengan keadaan selamat. Namun, semakin hari rasa itu semakin mengecil, tersisa puing-puing keyakinan akan kekuasaan Allah yang tidak pernah terbatas. Aku percaya Allah akan memberikan hal terbaik kepada hamba-Nya. Kekuatan ini sama halnya yang sering terdengar dari Ayah ketika menasihatiku.

Aku ingin menangis sekeras-kerasnya, mencabik tanah lumpur itu, menerjang puing-puing bangunan dan pohon yang terjerambah saling tindih, mencari ayah yang mungkin tertidur lelap di antara celahnya, tapi mata Zayyan menatapku penuh harap. Aku tidak boleh hancur. Aku harus tumbuh menjadi anak yang kuat, harus ikhlas menerima warna kehidupan yang Allah kehendaki. Aku harus menjadi karang di tengah badai ini, meskipun hatiku sendiri telah pecah berkeping-keping.

Petuah-petuah Mak dan Ayah datang silih berganti menghampiri pikiranku. Seolah menerjemahkan semua kenyataan yang kualami hari ini. Bagaikan sebuah skenario yang telah tersusun begitu lengkap, yang harus mampu keperankan dengan baik menjalani hari-hari yang tidak mudah ini. Ya, hidup di remang-remang pekat malam yang hanya ditemani sinar bulan yang redup. Berselimut awan dan beralaskan bumi, karena tidak ada lagi rumah yang menaungi, musnah diterjang air yang mengila.

Aku pasrah pada cerita yang telah Allah tuliskan sempurna. Aku yakin akan menjalani hari yang berat bersama Zayyan, sisa harapan peninggalan Mak dan Ayah yang masih utuh milikku. Yang harus kujaga segenap jiwa. Aku harus bangkit untukku bersama warisan terindah dari Mak, yang harus kukuatkan hatinya pasti lebih menyayat dariku. Aku tidak akan membiarkan diriku larut yang menjadikan Zayyan semakin terpuruk dan terluka. Aku harus ada untuknya, menjadi Mak, menjadi Ayah, menjadi diriku yang utuh menyayangi dan menuntun jalannya. Dalam genggaman Allah Yang Maha Pengasih, aku yakin warna hidupkan akan lebih indah setelah lumpur kelam tersaput derai hujan yang murni. Jalanku akan lebih terang setelah semua kegelapan ini berlalu. Semoga, Selamanya.  

Lueng Putu, 2 Desember 2025

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *