25 November, Ditikam Luka

By. HanafAbdu

Dua puluh lima November, waktu terluka
Hujan mendera, mengalir tanpa reda
Air membuncah, meluap tanpa leka

Terus menghujam nanggroe
Menyayat bumoe indatu

Masih berharap hujan mereda,
Waktu terlampau lama
Tanpa jeda, air membuncah semakin meraja
Mengamuk tanpa celah, melumat tanpa sisa

Debit air mencapai dada, meluap hingga kepala
Rumah terendam, perabotan melayang
Jasad tenggelam, nyawa pun hilang

Ini lukaku,
Lukamu,
Luka Nanggroe
Bukan luka mereka,
Bukan luka bangsa yang buta

Tak usah mengemis pada pengemis yang tak berhati
Jangan meminta pada peminta yang tak punya harga diri
Karena kita lebih berharga dari mereka yang mati nurani
Allah t’lah jadikan kita insan yang kuat
Jiwa kita tertata sedemikian hebat
Kita hanya perlu semangat untuk bangkit bersama
Dengan kaki, dengan tangan, dengan jiwa kebersamaan

Kalaupun mereka datang,
Katakan saja: enyah dari sini
Jangan biarkan pandang jalang mereka menikam jantung
Jangan sudi bau busuk mulutnya mengkontaminasi isi otak kita

Ingat saudaraku, kita punya Allah, Pemberi jalan
Yang tak lelah, Yang tak biarkan kita larut dalam kehancuran
Yang tak akan tinggalkan kita dalam duka yang mendalam.

Lueng Putu, 28 November 2025

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *