Sebuah Cerpen oleh Ustz. Murhamah (Guru MTs)
Di sebuah sudut Dayah Jeumala Amal yang sejuk oleh hembusan angin pegunungan, hiduplah seorang murid bernama Eka Maisarah. Ia adalah anak perempuan yang tubuhnya kecil, namun memiliki mata yang selalu berbinar setiap kali mendengar kata ilmu. Orang tuanya hidup sederhana; ayahnya buruh harian yang pulang dengan tubuh penuh peluh, sementara ibunya membantu tetangga membuat kue untuk menambah rezeki.
Sejak kecil, Eka sudah paham bahwa ia tidak memiliki banyak hal di dunia. Tetapi ia juga paham satu hal yang lebih penting: siapa pun bisa menjadi besar jika ia tidak berhenti belajar. Setiap pagi sebelum fajar sepenuhnya terbit, Eka selalu bangun lebih awal dari teman-temannya. Ia menyapu halaman kecil depan asrama putri, merapikan tempat tidurnya, lalu berjalan pelan menuju musalla. Di sana, ia menutup mata dan berbisik lirih kepada dirinya sendiri:
“Ilmu itu cahaya… dan cahaya hanya singgah di hati yang dijaga.”
Kata-kata itu ia ulang setiap hari. Entah sejak kapan ia mulai meyakininya, namun ia merasakan kedamaian setiap kali mengucapkannya. Di sekolah, Eka selalu memberi salam pelan namun penuh rasa hormat setiap melewati ustaz dan ustazah.
“Assalamu’alaikum, Ustaz…”
“Wa’alaikumussalam, Eka,” jawab mereka, sering kali disertai senyum hangat.
Ia selalu duduk di baris paling depan. Tidak ada yang menyuruhnya, namun baginya duduk dekat guru adalah tanda bahwa ia ingin menangkap setiap cahaya yang guru pancarkan—meskipun hanya setetes. Ia mencatat rapi, tidak pernah memotong pembicaraan, dan selalu siap jika diberi amanah. Pernah suatu hari, Ustazah Maryam memanggilnya setelah kelas selesai.
“Eka, bisa bantu ustazah mengangkat buku ke kantor?”
“Dengan senang hati, Ustazah,” jawabnya sambil mengangkat tumpukan buku tanpa mengeluh sedikit pun.
Ustazah menatapnya sejenak. Ada sesuatu pada anak itu—kerendahan hati yang jarang terlihat pada anak seusianya. Eka tidak banyak bicara, tetapi sikapnya berbicara lebih keras dari kata-kata.
Ada satu prinsip yang ditanamkan ayahnya saat Eka hendak masuk ke dayah:
“Nak, hormatilah gurumu. Orang yang memberi ilmu itu seperti sumber air. Jika kau menghormatinya, air yang keluar akan jernih. Kalau tidak… ia bisa keruh.”
Eka tidak sepenuhnya mengerti maknanya saat itu. Namun seiring waktu, ia merasakan bahwa setiap doa dan nasihat guru seperti pintu yang hanya terbuka ketika ia mendekatinya dengan hati yang tunduk. Ia tidak pernah berdebat ketika ditegur. Ia menerima tugas tambahan tanpa protes. Ia mencium tangan guru dengan penuh rasa syukur, bukan sekadar kebiasaan. Dan perlahan, hasilnya mulai terlihat—bukan hanya pada nilai, tetapi pada wajah Eka yang selalu tampak tenang dan bercahaya.
Hari demi hari, Eka semakin menonjol. Hafalannya bertambah, akhlaknya dipuji, dan banyak ustazah yang diam-diam mendoakannya. Teman-temannya sering heran melihat kesungguhannya.
“Ek, kok rajin banget sih? Capek kali kalau tiap pagi nyapu sendiri,” kata temannya, Rani.
Eka tersenyum.
“Kalau hati kita dibersihkan dulu, belajar jadi lebih ringan, Ran.” Rani mengernyit. “Maksudnya?”
Eka tidak menjawab panjang. Ia hanya berkata pelan:
“Ya… pokoknya, kalau kita menghormati orang yang ngajarin kita, Allah sendiri yang bukakan jalannya.”
Rani tidak membalas apa-apa. Tapi dalam hati, ia tahu Eka tidak sedang membual. Waktu berlalu cepat. Tanpa terasa, Eka menapaki tahun terakhir pendidikannya. Ia menjadi salah satu lulusan terbaik. Ketika namanya dipanggil di acara wisuda, tepuk tangan menggema di ruangan. Orang tuanya menangis bangga. Namun kebahagiaan itu belum sebanding dengan rasa haru yang ia rasakan ketika tiba saatnya ia bersalaman dengan guru-gurunya. Eka menggenggam tangan Ustazah Maryam sambil menahan isak.
“Ustazah… maaf kalau selama ini saya banyak salah,” ucapnya dengan suara bergetar.Ustazah Maryam memeluknya pelan.
“Eka… kamu bukan hanya murid yang baik. Kamu adalah doa yang dikabulkan setiap guru.” Eka menangis semakin keras.Ketika tiba gilirannya untuk berbicara di depan para guru, ia menghela napas panjang. Airmatanya belum kering sepenuhnya.
“Ustaz… ustazah yang saya muliakan…”
Suara Eka bergetar, tetapi penuh ketulusan.“Jika hari ini saya bisa berdiri sedikit lebih tinggi… itu bukan karena saya pintar. Itu karena doa-doa kalian… yang tidak pernah putus, bahkan ketika saya tidak tahu.”
Beberapa guru terlihat menyeka mata mereka.
“Saya anak dari keluarga sederhana. Tidak punya banyak hal. Tapi ustaz dan ustazah menerima saya seperti anak sendiri… membimbing saya dengan sabar, menegur saya dengan kasih, dan mendidik saya dengan hati.”
Ia menatap semua guru satu per satu.
“Saya percaya… keberkahan itu datang dari hati yang tunduk kepada orang yang membimbingnya. Guru-guru adalah cahaya yang Allah kirimkan untuk menerangi jalan saya.”
“Saya mohon doa agar saya bisa menjadi anak yang bermanfaat… sebagaimana ustaz dan ustazah harapkan.”
Ruangan itu hening—hening yang penuh doa dan bangga.
Kelak, ketika Eka telah dewasa dan mencapai kesuksesan yang jauh lebih besar dari apa yang ia bayangkan, ia tetap pulang ke dayah itu. Bukan untuk menunjukkan siapa ia sekarang, tetapi untuk mengingatkan dirinya sendiri:
Bahwa perjalanan seorang murid bukan diukur dari seberapa jauh ia pergi, tetapi dari seberapa dalam ia menghormati tempat awal ia belajar.
Karena di sanalah cahayanya pertama kali menyala.
