Seuntai Cerita Oleh Hanaf Abdu
Pagi ini, udara di koridor sekolah terasa lebih dingin dari biasanya. Gerimis halus yang turun sejak subuh menyebabkan aroma tanah basah yang pekat berpadu dengan aroma kopi hangat dari ruang guru, menciptakan kontras yang aneh dengan kegelisahan di hatiku. Langkah kakiku gontai menuju ruang kelas, pikiranku terkontaminasi dengan konten yang berseliweran di media sosial. Momen hari guru, terisi dengan aneka kegiatan yang bersifat euforia. Mungkin aku terlalu kuno untuk memaknai hakikat fenomena yang terjadi saat ini. Namun aku harus mencoba untuk menyadari keberadaan waktu hari ini. Sempat berpikir untuk menolak pergi ke sekolah pagi ini. Namun aku tidak mungkin mangkir; ada tugas. Bagaimanapun suasana hati, tugas sebagai guru harus dijalankan penuh tanggung jawab. Terlepas dari perasaan pribadi, komitmen terhadap peran guru tetap kuat. Kewajiban untuk mendidik, menginspirasi, dan membimbing generasi berikutnya menjadi alasan utama untuk terus bergerak dan beraktivitas.
“Selamat hari guru!”. Suara lirih Yani, murid di pojok kelasku hari ini. Aku menoleh ke arah sumber suara, dan hatiku terenyuh melihat sebuah buku di tangannya, justru menjadi ‘kado’ terindah yang bisa dia berikan. Aku yakin dia baru saja selesai membacanya, berharap kata-kata di dalamnya bisa memberikan ketenangan hati.
“Kamu kenapa sendiri di sini? Kawan-kawan yang lain pada kemana?” tanyaku, mencoba menyembunyikan perasaan yang mulai merayap. Pasti mereka tidak ingin belajar di hari ini, merayakan hari guru bersama wali kelas lebih menarik, tapi aku butuh konfirmasi, butuh mendengar kebenaran itu langsung.
“Anu Pak, hmm… mereka sedang mempersiapkan…” tiba-tiba suaranya terhenti, tatapannya beralih ke lantai, menghindari mataku.
“Iya…?” aku mendorongnya sedikit, mencoba menembus dinding keengganannya.
“Hmm… tadi mereka keluar. Mungkin mereka mau buat acara.”
Aku masih pura-pura bingung, “Maksudnya?”. Dia tampak enggan bercerita, menjaga rahasia teman-temannya sekaligus rasa hatinya sendiri. Aku mencoba membaca pikirannya, apa yang ingin dia sampaikan, dan apa yang sedang dilakukan teman-temannya. Acara, kataku membatin. Yah, hari ini Hari Guru. Mereka sedang mempersiapkan sesuatu yang istimewa di hari istimewa. Tapi kenapa Yani tidak ikut?
“Kenapa kamu tidak ikut?” aku mencoba mencari titik terang.
“Mereka sepakat kumpul uang, tetapi saya nggak punya uang. Saya malu kalau harus ikut,” kata-kata itu terdengar begitu lirih, nyaris tak terdengar, tapi menghantamku telak.
“Mestinya kamu nggak harus malu. Kan itu acara bersama. Lagian wali kelas kamu pasti lebih senang kalau kamu ikut. Kamu salah satu anak terbaik di kelas ini”. Aku coba menguatkan.
“Nggak apa Pak. Saya disini saja. Justru saya bersyukur bisa mengucapkan selamat hari guru sendiri kepada Bapak” ucapnya sambil tersenyum getir.
“Bapak bangga dengan kamu. Tulus dan baik. Teruslah menjadi pribadi yang kuat, rajin dan berakhlak mulia”. Kataku sambil menepuk pundaknya.
Meski mulut ini mencoba menguatkan, tetapi rasa hati ini bagai tercabik. Mungkin aku akan merasa hal yang sama andai dulu waktu masih sekolah budaya ini sudah ada. Bukankah aku juga termasuk salah satu murid yang kurang mampu, jangankan untuk membeli hadiah untuk guru, untuk jajan sendiri saja jarang ada. Budaya pemberian hadiah, iuran patungan untuk hadiah, adalah hal yang umum sekarang, tapi dampaknya bisa begitu mendalam bagi mereka yang secara ekonomi lemah.
Tidak salah dengan penghargaan setahun sekali bagi orang-orang yang telah memberikan begitu banyak hal dalam hidup. Guru layak diapresiasi. Namun, bagaimana dengan orang-orang seperti Yani? Apakah perayaan ini menjadi momen yang indah bagi semua, atau justru menjadi pengingat tajam akan jurang pemisah sosial di antara mereka?
Aku perlahan menuruni tangga, berjalan gontai di koridor sekolah yang terasa semakin sepi. Kelas-kelas terlihat lengang. Sayup suara euforia terdengar di beberapa tempat, tawa riang dan sorak sorai perayaan. Agak jauh di sebelah Utara terlihat segerombolan anak-anak yang sedang ceria, sepertinya sedang merayakan Hari Guru bersama wali kelasnya. Mereka terlihat bahagia, tumpukan kado di meja guru menjadi saksi kemeriahan itu. Begitu juga di arah Selatan, di lapangan terbuka dekat kantin, sekelompok lain berkumpul dengan spanduk kecil bertuliskan “Selamat Hari Guru”. Aku terus berjalan menuju kantor, berharap tidak berpapasan dengan rombongan yang tengah merayakan hari istimewa itu, bukan karena iri, tapi karena rasa risih dan was-was yang semakin membesar di dadaku.
Sesampai di kantor, suasana jauh lebih riuh. Sekelompok anak-anak dari kelas lain sedang bersorak sorai, terdengar tawa renyah dari mereka. Sebuah nasi tumpeng berdiri gagah di tengah ruangan, dengan lauk-pauk melimpah.
“Selamat Hari Guru, Pak!” ucap mereka serempak, mata mereka berbinar penuh kebanggaan.
“Ya, terima kasih,” jawabku sekenanya. Aku berjalan menuju mejaku yang agak ke pojok, sudut tersembunyi yang kuharapkan bisa memberiku sedikit ketenangan. Tidak ingin mengganggu dan terganggu dengan acara mereka. Terlihat murid-murid memegang bungkusan kado yang ingin diberikan kepada wali kelas mereka. Tapi bagaimana dengan guru yang bukan wali kelas? Tiba-tiba pikiranku lebih sensitif. Budaya hadiah ini, meskipun niatnya baik, seringkali hanya berfokus pada wali kelas atau guru-guru tertentu, melupakan esensi kebersamaan dan penghargaan universal terhadap semua pendidik. Ya sudahlah, mungkin ini caraku untuk sedikit menjauh dari keramaian ini. Belum lagi aku duduk dan meletakkan buku, terdengar ucapan salam dari arah pintu.
“Waalaikumsalam,” serempak yang di dalam menjawab. Ketika wajah mereka nongol satu persatu di balik pintu, langsung aku mengenali mereka. Siapa lagi, mereka anak-anak kelasku.
“Aduh Pak, kami sudah cari Bapak kemana-mana, Bapak kemana saja?” cecar Ridha, ketua kelas, tampak agak kecewa karena seolah-olah kami melewatkan momen penting.
“Cari Bapak kenapa?” aku malah sok nggak paham. Padahal aku tahu pasti dengan tujuan mereka. Apalagi terlihat beberapa kado di tangan mereka.
Pikiranku kembali melayang ke Yani, karena kutahu pasti anak-anak kelasku juga ada yang bernasib seperti dia. Bahkan Heru itu yatim piatu, tiga bersaudara dan dia anak pertama yang sekarang dirawat neneknya yang hanya seorang petani. Juga ada Andi, Kiki, Yusran, mereka juga anak-anak yang kurang berada. Apakah mereka ikut patungan? Atau mereka dipaksa ikut demi menjaga solidaritas kelas? Pikiran-pikiran itu mengganggu ketenangan hatiku.
“Selamat Hari Guru Pak!” sebuah kue yang terhias indah disodorkan oleh Ridha.
Aku tersenyum, menerima kue itu dengan perasaan campur aduk. Tanganku bergerak mengambil namun terasa berat, seolah beban sistem sosial sekolah ini berpindah ke pundakku. Di balik senyum mereka yang tulus, aku teringat Yani yang tersisih di pojok kelas, dan anak-anak lain yang mungkin merasa malu karena tak mampu berkontribusi. Hari Guru, hari penghargaan bagi pendidik, justru membuka mata hatiku tentang arti inklusivitas dan empati yang sesungguhnya.
“Ini hadiah kecil dari kami untuk Bapak,” Fadhil sebagai bendahara menyodorkan sebuah kado.
“Ini satu lagi pak, semoga bisa dipakai”. Kali ini Yusran sebagai sekretaris kelas yang memberikan. Tanganku bergerak mengambilnya, namun hatiku terasa perih dan tersayat. Ingin menolak, tapi takut menyakiti. Namun menerima, justru aku yang merasa tersakiti.
“Terima kasih. Tapi, mau Bapak hadiahnya jangan hanya setahun sekali”. Aku coba mencandai mereka.
“Ye Bapak. Kalau setiap hari mati kami nggak ada uang”. Jawab Ozi yang terkenal ceplas ceplos.
“Nggak kok, hadiah kan nggak mesti pakai uang”. Jawabku diplomatis.
“Kalau nggak pakai uang, terus dapat dari mana hadiahnya?” Rezi nampak kebingungan.
“Ya, bisa kok. Coba aja kalian berikan perhatian sepenuh hati waktu belajar. Tunjukkan saja perilaku yang baik setiap jumpa. Itu hadiah terindah bagi kami guru,” jawabku penuh semangat.
“Hmmm, iya sih, Pak. Kami akan coba. Setidaknya kami bisa hemat uang jajan, kan?” Jawab Ozi sambil tertawa renyah, kali ini lebih tulus.
Hari guru berlalu, namun hatiku masih ragu. Cerita Yani, cerita pilu yang mungkin juga dirasakan oleh aku pada masa lalu. Juga cerita yang sama dirasakan banyak anak di masa akan datang. Tidak semua punya uang untuk memberikan hadiah, namun tidak semua anak mampu menyembunyikan semua rasanya. Aku yakin, ini bukan hanya tentang kegalauanku, tetapi tentang sistem sosial di sekolah yang tanpa sadar menciptakan sekat dan melukai perasaan mereka yang kurang beruntung. Hadiah terindah bagiku hari itu bukanlah kue atau kado, melainkan kesadaran mendalam akan kerentanan hati seorang anak, dan tanggung jawabku sebagai pendidik untuk menciptakan lingkungan yang lebih inklusif dan adil, di mana setiap murid merasa dihargai, terlepas dari status ekonomi mereka. Perayaan seharusnya tentang kebersamaan, bukan tentang kemampuan materi.[]
