Oleh: Niswatul Chaira
Di tengah hiruk pikuk dunia pendidikan saat ini, guru tidak hanya disuguhi fenomena murid yang sibuk memoles wajah sebelum masuk kelas. Ada gejala yang jauh lebih memprihatinkan yaitu merosotnya adab dilingkungan sekolah. Make up menjadi simbol baru yang menutupi keresahan lama ketika penampilan dirayakan, tetapi sikap terlupakan. Fenomena penggunaan make up di kalangan pelajar kini tidak lagi sekadar soal ingin tampil rapi atau percaya diri. Pada titik tertentu, ia telah berubah menjadi tanda darurat baru, darurat make up yang berjalan beriringan dengan darurat adab.
Di banyak sekolah, ruang kelas berubah seperti ruang rias kecil, sementara ruang batin untuk memupuk kesantunan makin sempit. Fenomena ini bukan sekadar soal riasan berlebih, melainkan tanda bahwa ada sesuatu yang lebih penting sedang terabaikan. Pertanyaannya, bagaimana mungkin wajah diperindah, sementara adab perlahan memudar?
Ironisnya siswa lebih mengenal jenis make up daripada etika berbicara, lebih hafal nama produk kecantikan daripada nama-nama sikap baik yang seharusnya dipraktikkan. Bukan make up-nya yang menjadi masalah, tetapi pergeseran fokus dan perhatian murid terhadap penampilan berkembang jauh lebih cepat dibanding perkembangan sikap santun dan hormat. Perubahan prioritas inilah yang menjadi sinyal bahaya. Tanda bahaya dan darurat yang harus segera diselesaikan.
Darurat make up tercermin dari bagaimana sebagian pelajar merasa belum siap masuk kelas tanpa riasan tertentu. Ada rasa “wajib tampil sempurna” yang justru menekan mereka. Media sosial memperparah situasi dengan menjadikan standar kecantikan instan harus dimulai dengan make up dan skincare.
Darurat adab tercermin dari sikap menghormati guru menurun, kebiasaan menyapa makin jarang, dan kemampuan mengendalikan diri melemah. Ada siswa yang begitu percaya diri memainkan make up, tetapi ragu mengucap maaf atau terima kasih. Ini menunjukkan bahwa penampilan berkembang, tetapi karakter terabaikan.
Dikutip dari akun SMAN Samozar ” Aturan No Make up disekolah bukan untuk membatasi, tapi supaya para murid fokus dengan tujuan utama yaitu ilmu dan prestasi, kecantikan sejati bukan soal bedak dan lipstik teapi bagaiaman kita menghargai diri apa adanya dan tidak melanggar norma”.
lebih lanjut Nurhanifah Ardayani, S.Psi seorang Konselor Sekolah dalam akun tiktoknya juga berkata “Banyak siswa merasa harus tampil sempurna, tetapi lupa memperbaiki sikap. Ini bukan sekedar make up, tetapi kegagalan memahami nilai diri.”
Istilah sekolah darurat adab juga bukan sekadar kalimat dramatis untuk menarik perhatian. Ia adalah gambaran nyata tentang kondisi pendidikan yang semakin rapuh dari sisi moral dan kesantunan. Ketika etika mulai luntur di lingkungan belajar, siswa mudah membantah, sulit diarahkan, kurang menghormati guru, dan minim kesadaran sosial. Pertanyaannya “siapa yang harus bertanggung jawab atas semua ini?“
Jawabannya tidak sesederhana menunjuk satu pihak!
Jelas bahwa krisis adab adalah tanggung jawab bersama. Tidak ada pihak yang bisa lepas tangan. Keluarga harus kembali menjadi fondasi utama, sekolah harus memperkuat budaya positif, masyarakat harus menunjukkan contoh, dan media perlu diarahkan agar tidak hanya menghibur, tetapi juga mendidik.
Pada akhirnya, adab dan make up bukan sekadar aturan semata. Ia adalah cermin nilai yang akan menentukan masa depan generasi. Sekolah darurat adab dan make up bukan sekedar peringatan. Ini adalah panggilan untuk bergerak bersama. Sebab, jika ingin melahirkan generasi yang hebat, kita harus memastikan mereka tidak hanya cerdas, tetapi juga beradab. Jika adab kembali ditempatkan sebagai prioritas, maka riasan hanya menjadi pelengkap, bukan penutup kekurangan. Wajah mungkin memudar, tetapi adab yang baik akan selalu abadi [].
