Seutas Cerpen oleh Hanafabdu
Duduk, diam, kaku dan mematung. Kadang matanya terpejam, lalu terbuka lagi dengan gerakan yang seperti menahan diri, berat, seolah kelopak matanya menyimpan beban batu. Namanya, kini terpahat kuat dibenak emojiku, menjadi momok bagi detak nadiku yang nggak pernah tenang. Setiap kali masuk kelas X 4, di balik meja yang sama, ia akan melakukan rutinitas itu, sebuah ritual yang membuat urat leherku menegang. Bagiku, ia adalah misteri yang enggan kupecahkan, sebuah teka-teki yang terlalu malas kupikirkan. Aku hanya tahu satu hal yang tampak di permukaan: ia tidak peduli. Dinding dingin antara kami terasa semakin tebal setiap hari, dilapisi oleh prasangka dan kekecewaan.
“Rezy, mau berapa kali lagi Bapak ingatkan? Kalau hanya mau tidur bukan di sini tempatnya. Kamu jangan memaksa Bapak untuk mengambil tindakan tegas.” Suaraku naik satu oktaf, emosi sudah mencapai ubun-ubun. Ada rasa panas yang membakar di dada, perpaduan antara kemarahan dan keputusasaan seorang pendidik yang merasa gagal. Namun, ia hanya mengangguk samar, sebuah gerakan yang lebih mirip upaya putus asa melawan kantuk daripada sebuah tanda penyesalan. Anggukan itu terasa seperti menantang, mengolok-olok otoritas yang kupancarkan. Aku merasakan pahit di lidahku, rasa yang berasal dari kata-kata yang tak terucap. Andai tidak mengingat hukum, akan kualirkan suhu panas tangan ku tepat di pipinya.
“Dasar generasi gamang. Ke sekolah hanya merek saja. Nggak mau belajar dan susah diatur.” Omelan itu keluar begitu saja saat aku memasuki kantor. Kata-kata itu mengalir deras dari kerongkonganku, sebuah luapan emosi yang telah kutahan sekian lama. Di mataku, Rezy adalah representasi dari kegagalan pendidikan yang tak bisaku sentuh, sosok yang mengingatkanku pada batasan dan ketidakberdayaan.
“Entah bagaimana dia menjalani hari-hari panjang yang silih berganti, dengan rutinitas yang sama, meski pelajaran yang bereda. Entah untuk alasan apa dia memaksa diri tetap ada dibelakang meja. Entah untuk tujuan apa dia pasrah menjadi bahan pelampiasan amarah guru-guru, seperti diriku.” Pikiran itu pernah terlontarkan, namun tidak pernah ada jawab.
Guru-guru lain dengan cepat membenarkan pandanganku. “Dasar tukang tidur. Entah mau jadi apa nantinya,” timpal Bu Nurul, guru Fisika, sambil menggelengkan kepala. Suara Bu Nurul, yang biasanya lembut, kini terdengar penuh kekesalan, seperti bunyi gesekan kapur di papan tulis yang menusuk. Pak Budi, guru Bahasa Indonesia, menambahkan dengan nada yang lebih pasrah, “Capek kita bangunin. Kayaknya nggak ngaruh. Mending biarin aja, banyak anak yang harus kita peduliin daripada ngurus yang nggak bermanfaat gitu.” Kata-kata Pak Budi menancap dalam sanubariku, menguatkan keyakinan bahwa Rezy adalah seorang patung di kursi belakang yang tidak menguntungkan siapa pun. Mereka adalah cermin dari pikiranku sendiri, dan aku merasa benar.
Mengajar adalah prosesi kehidupan, keterpaksaan demi memenuhi rekening pada akhir bulan. Tidak ada pilihan. Aku pun terperangkap dalam rutinitas: mengajar, menuntaskan tugas, dan mengabaikan kursi belakang yang selalu mengantuk itu. Setiap kali aku menoleh ke belakang dan melihatnya, hatiku terasa dingin, seolah tembok tebal itu telah terbentuk untuk menjadi batas antara kami. Awalnya, sempat berpikir, mungkin ini hanya denganku, atau mungkin pelajaran ekonomi yang membosankan. Aku mencoba berbagai cara. Menyisipkan humor kering yang garing, berjalan ke arahnya dengan langkah yang dipaksakan, dan bertanya langsung, “Apa yang sulit, Rezy?” Tapi jawabannya selalu sama—anggukan samar yang tidak memberikan petunjuk apa-apa. Anggukan itu adalah pintu yang tertutup rapat, dan aku terlalu lelah untuk mencoba membukanya.
***
Bumi dalam damai, setelah tanah basah diguyur hujan, udara terasa sejuk dan aroma petrichor tercium kuat, sebuah aroma yang menenangkan. Aku berjalan santai di koridor sekolah, berencana menikmati secangkir kopi di kantin. Langit masih kelabu, dan rintik sisa hujan menetes dari atap, menciptakan irama lembut yang berbisik. Semuanya terasa tenang, sampai suara riuh rendah dari salah satu ruang kelas menarik perhatianku. Naluriku sebagai guru memaksa mendekat. Semakin dekat, semakin jelas terdengar gelak tawa yang memecah keheningan. “Apa yang terjadi? Apakah tidak ada guru di sana?” gumamku.
Dari celah pintu yang sedikit terbuka, aku melihat Bu Niar, guru kimia yang energik, sedang berada di tengah-tengah para murid, bukan di meja guru. Wajahnya berseri-seri, memancarkan energi positif yang kontras dengan suasana kelasku.
“Dia memang nggak mau kuliah, Bu,” terdengar suara seorang murid.
“Mau lanjutin usaha jualan emas orang tuanya.”
“Biasa, Bu. Anak orka,” yang lain menimpali, memancing tawa beberapa teman lainnya. Tawa itu menusuk hatiku, mengingatkanku pada sinisme yang juga pernah kulontarkan.
Bu Niar, alih-alih menegur, justru tersenyum. Senyumnya tulus, bukan senyum penghakiman. Ia menatap anak laki-laki yang menjadi sasaran olok-olok itu.
“Jadi kamu anak toke emas?” tanya Bu Niar dengan nada tenang. Yang ditanya mengangguk pelan, menunduk dalam-dalam.
“Justru anak toke emas yang harus lebih rajin belajar kimia,” lanjut Bu Niar, suaranya kini penuh semangat, seperti air yang mengalirkan kehidupan ke tanaman yang layu.
“Karena dengan belajar kimia, kamu jadi tahu bagaimana emas bisa lebih tahan warnanya. Bagaimana emas itu terbentuk dan dari ikatan apa.”
Murid-murid yang tadi tertawa kini terdiam, penasaran. Perlahan sosok yang menjadi objek pembicaraan tadi mendongakkan kepalanya. Ternyata itu Rezy. Aku melihatnya, dan untuk pertama kalinya, matanya tidak terlihat kosong. Ia terlihat berbinar penuh harap, sebuah cahaya yang belum pernah kulihat sebelumnya. Bagai tersengat listrik, otakku tersentak. Rezy. Dia tidak mengantuk sama sekali. Ia begitu antusias, menatap Bu Niar dengan penuh kekaguman. Senyum tipis mengembang di bibirnya.
Bu Niar mengambil spidol dan mulai menuliskan rumus kimia di papan tulis. “Misalnya, bagaimana cara membedakan emas asli dan imitasi secara sederhana? Atau bagaimana proses pemurniannya? Bukan hanya sekadar menjual, tapi kalian juga bisa memberikan edukasi yang lebih dalam kepada pelanggan. Itu namanya berdagang dengan ilmu,” jelasnya.
Aku masih terpaku di ambang pintu. Di luar sana, aroma petrichor masih sangat kuat tercium, namun di sini, di ambang pintu kelas ini, aku mencium aroma pencerahan. Pembelajaran itu begitu hidup, ceria, dan bermakna. Bu Niar tidak hanya mengajar dengan semangat, tetapi mengajar dengan hati. Dia tidak mematahkan semangat anak didiknya, melainkan membangunnya dengan cara yang luar biasa.
Niat untuk menikmati kopi sejenak hilang, terbuai pemandangan yang jauh lebih hangat dan melenakan. Pemandangan itu adalah ruang kelas yang penuh semangat dan keceriaan, yang berhasil dibentuk oleh guru berdedikasi seperti Bu Niar. Memang secara pengalaman, dia hanya anak kemarin sore yang masih seumur jagung. Namun, penguasaan kelas nya benar-benar berkelas.
Langkahku menapak pelan. Lunglai, meninggalkan mereka dengan seribu kekaguman di hati. Benteng ego mulai mencair, seolah meleleh diterpa cahaya yang terpancar dari balik kelas istimewa. ‘Selama ini, mungkin hanya ego yang bersemayam dalam diriku. Merasa diri paling hebat dan serba mengerti, yang enggan berbenah, enggan mencoba hal-hal yang baru. Kesombongan telah menggerogoti hati, yang membuatku melabeli seorang murid sebagai tidak berharga. Alih-alih membangunkan semangat mereka, justru menjadi sosok yang menjatuhkan. Aku mulai sadar, menjadi guru bukan hanya soal berapa lama mengajar, atau berapa banyak buku yang dihafal, atau posisi apa yang disandang. Mengajar adalah proses pengembangan jiwa, semangat, dan rasa ingin tahu murid. Mengajar adalah tentang menjadikan mereka manusia yang utuh, yang mencintai ilmu, mencintai diri dan sesama, menghadirkan anak anak yang terus berpikir untuk kemajuan bangsa dan agama.[]
