00.00 PM

Oleh: Niswatul Chaira

Suara kicauan burung sore itu terdengar riuh, kembali pulang memenuhi pohon untuk berteduh. Langit jingga bersinar indah membuat mata tiada henti memandangi suasana sore yang selalu ditunggu. Satu per satu, santri keluar dari kamarnya sembari merapikan mukena lalu berjalan menuju mushalla untuk menunaikan shalat berjamaah. Di antara kerumunan itu, Ica berjalan paling pelan. Tas kecil berisi Al-Qur’an ia genggam di dada, seolah takut terlepas. Sementara suara langkah teman-temannya bergema ringan di jalan setapak.

Mushalla itu sederhana, namun hangat. Lantainya bersih juga ada “balee” kecil didepannya. Ica duduk di saf paling belakang, tempat paling aman yang ia rasa. Azan magrib berkumandang, lembut tapi menyentuh hati. Ica ikut mengangkat tangan, mengikuti gerakan jamaah, namun dadanya terasa penuh. Ada sesuatu yang datang tiba-tiba, sesuatu yang tidak bisa ia sebutkan namanya.

Waktu berlalu. Cahaya sore perlahan memudar, digantikan biru gelap yang merayap naik. Setelah isya, mushalla mulai sepi. Selesai mufradat, para santri kembali ke kamar masing-masing sambil bercanda kecil, tetapi Ica tetap menapaki lorong panjang dengan langkah ragu.

Setibanya di kamar, setelah membaca do’a bersama suasana kembali berubah sunyi. Lampu-lampu kamar satu per satu mulai padam. Malam datang perlahan, bersama malam datang pula sesuatu yang sudah Ica simpan terlalu lama, sesuatu yang akhirnya mendorongnya menatap kertas kosong di atas lemari.

Malam itu, di bawah cahaya lampu kamar 13 yang redup, ia tahu ada hal yang harus ia tulis sebelum keberaniannya menghilang. Malam itu adalah malam ketiganya menangis tanpa suara. Bukan karena dimarahi, bukan karena dimusuhi, tapi karena ada sesuatu yang terasa sesak, sesuatu yang tidak tahu kepada siapa harus ia ceritakan.

Di luar, jam asrama baru saja menunjukkan pukul 00.00 WIB, semua orang seharusnya tidur. Tapi malam itu, dengan tangan kecil yang gemetar, Ica mengambil pulpen dan mulai menulis. Sebuah surat yang tak pernah ia bayangkan harus ia tulis. Sebuah surat yang entah bagaimana, harus sampai ke Wali Kamarnya sebelum pagi.

“Untuk ustazah Wali Kamar Madinah 13 … Maaf kalau ana sering terlihat membuat masalah. Ana sebenarnya tidak bermaksud begitu.”

Kalimat itu berhenti di sana. Ia menatap kosong, lalu menghapus air mata yang mulai mengalir. Hari-harinya sebagai anak baru tidak mudah. Ia sering diingatkan karena kurang rapi, kadang terlambat, dan sering lupa menaruh sandal di tempatnya. Ia juga masih canggung berbicara dengan teman satu kamar.

Sementara itu, Wali Kamarnya Ustazah Niswa adalah ustazah yang bertanggung jawab mengawasi dan membimbing santri dikenal tegas, tapi hatinya lembut. Ica tahu itu, tapi ia terlalu malu untuk bercerita langsung.

Itulah kenapa malam ini ia memilih menulis surat.

Setelah menarik napas panjang, Ica kembali menulis…

“Ustazah…Afwan ya, ana sedang belajar menyesuaikan diri. Kadang ana rindu rumah, rindu ayah bunda, rindu kamar ana yang sepi. Ana tidak tahu bagaimana caranya cepat dekat dengan teman-teman. Ana takut dianggap aneh.”

Tinta pulpen hampir habis, tetapi Ica tetap lanjut menulis.

“Kalau ana membuat masalah, tolong ajari ana ya ustazah, jangan marah. Ana ingin berubah. Ana ingin betah di sini.”

Setelah selesai, Ica lalu melipat surat dengan rapi, berdiri pelan-pelan agar tidak membangunkan teman sekamar. Ia menaruh surat itu di bawah pintu kamar Wali Kamarnya. Setelah memastikan surat itu masuk dibawah pintu, ia kembali berbaring, mencoba tidur.

Pagi hari.

Ica langsung terkejut ketika melihat Ustazah Niswa berdiri di depan pintu, memegang surat yang ia tulis. Ica ingin berlari, atau pura-pura tidak melihat, tapi Usatzah Niswa menatapnya sambil tersenyum hangat yang selama ini jarang terlihat.

“Ini surat anti?” tanya Ustazah dengan lembut.

Ica menunduk pelan. “Iya ustazah, maaf kalau ana….”

Belum selesai, wali kamar nya sudah berjongkok, menatap Ica sejajar. “Terima kasih karena anti berani menulis ini. Tidak banyak yang mau jujur tentang perasaannya.”

Ica mengangkat kepala perlahan, matanya berkaca-kaca.

“Tahukah kamu?” tanya beliau lembut. “Dulu waktu ustazah pertama masuk, ustazah juga diam, sering membuat kesalahan, dan rindu rumah setiap malam.”

Ica terkejut. “Ustazah dulu juga bergitu? Ustazah serius?”

Ustazah tertawa kecil. “Iya. Dulu ustazah juga kirim surat untuk wali kamar… tengah malam juga.”

Ica ikut tersenyum. Hatinya menghangat, seolah beban yang selama ini ia pikul perlahan turun.

Wali kamarnya berdiri dan mengusap kepala Ica. “Mulai hari ini, kalau ada apa-apa… anti cerita langsung ke ustazahya? Kita belajar sama-sama.”

Ica mengangguk paham. “Na’am ustazah”

“Dan satu lagi,” kata ustazah sambil menunjuk dada Ica, “Anti tidak aneh sayang, hanya sedang belajar menemukan tempatmu di sini.”

Untuk pertama kalinya sejak tinggal di asrama, Ica merasa benar-benar diterima. Ia menatap kamar 13 dengan perasaan berbeda, bukan sebagai tempat asing, tapi sebagai awal dari perjalanan baru. Malam nanti, ia tidak perlu menulis surat lagi. Karena ia tahu, ada seseorang yang siap mendengarkannya [].

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *