Opini oleh Muhammad Nabil Rahali (Murid Kelas IX-5)
Sebagai santri di Dayah Jeumala Amal, kita pasti sudah melewati berbagai problematika selama menempuh pendidikan. Masalah yang muncul pun beragam, mulai dari perkara sepele sampai yang bisa bikin orang tua pusing tujuh keliling. Semua itu wajar terjadi dalam kehidupan santri. Walaupun sering membuat mood jadi kurang enak, nyatanya kebanyakan anak dayah bisa melewati situasi itu dengan cukup mudah. Pertanyaannya: apa sebenarnya “rahasia” di balik kemampuan tersebut?
Menurut pengamatan saya, kuncinya terletak pada kesadaran dalam diri santri itu sendiri. Namun tidak semua anak mampu mengelola atau menyelesaikan masalahnya secara mandiri. Salah satu faktor yang paling signifikan justru datang dari orang tua. Walaupun ada ustadz dan ustadzah yang membimbing kita setiap hari, peran orang tua tetap sangat terasa meskipun mereka tidak hadir secara fisik. Dalam banyak kasus pelanggaran atau kenakalan remaja, karakter anak biasanya masih berkaitan erat dengan pola kehidupan dan atmosfer keluarga di rumah. Bahkan sebuah survei dari Universitas Pendidikan Indonesia menunjukkan bahwa anak yang tumbuh dalam lingkungan keluarga kurang hangat, minim perhatian, atau penuh konflik lebih rentan melakukan pelanggaran norma. Ketika hubungan anak dan orang tua tidak karib, anak jadi tidak punya tempat untuk menyalurkan pikiran dan keresahan mereka. Akhirnya mereka memilih menyembunyikan masalah, lari dari kenyataan, dan memikul beban sendiri.
Di sisi lain, anak yang terlihat mudah dan cepat menyelesaikan masalah biasanya datang dari keluarga dengan pola asuh yang lebih suportif. Walaupun jauh di dayah, nilai-nilai dan kebiasaan yang ditanamkan orang tua tetap melekat. Mulai dari cara berpikir, cara menenangkan diri, sampai keberanian untuk bercerita ketika ada yang mengganjal. Banyak santri yang menjadikan orang tua sebagai core motivation mereka. Setiap langkah, keputusan, dan usaha sering kali dilandasi kesadaran bahwa orang tua bekerja keras demi pendidikan dan kehidupan anaknya. Itu sebabnya anak dayah paling tidak mau jika persoalan mereka sampai membebani ayah dan ibu. Namun dalam kasus tertentu, menghadapkan anak yang bermasalah kepada orang tua justru menjadi momen penting untuk memperbaiki karakter, karena orang tua paling paham sifat, kebutuhan, dan kelemahan anak mereka sendiri.
Kesimpulannya, orang tualah yang menjadi main key dalam keberhasilan hidup seorang anak. Anak yang tidak merasa dekat dengan orang tuanya sering kali memikul masalah sendirian, dan dari situlah muncul beban yang tak terselesaikan. Meski begitu, kita harus ingat bahwa orang tua, dengan segala kekurangannya, selalu berusaha memberikan versi terbaik dari kasih sayang. Mereka tidak ingin peluh dan susah payahnya menjadi beban anak. Karena itu, mari kita terus menghargai, menyayangi, dan melakukan yang terbaik demi ayah dan ibu. Sebab keberhasilan seorang santri tidak hanya lahir dari kerasnya usaha dirinya, tetapi juga dari doa, dukungan, dan cinta orang tua yang tidak pernah putus.
