Masa Depan Gemilang Dimulai dari Diri Sendiri

Oleh: Teuku Afif Almusyraf (Murid Kelas IX B MTsS Jeumala Amal) Juara III Librofest

Cita-cita untuk meraih masa depan yang cerah akan kesuksesan tidak pernah luput dari seluruh perjuangan dan pengerbanan yang telah kita kerahkan dengan sepenuh jiwa dan raga kita. Namun, jika cita-cita yang telah kita impi-impikan selama ini terus berangan-angan di dalam pikiran kita tanpa rencana yang pasti trntang bagaimana cara mewujudkan cita-cita tersebut, dan yang terus-menerus kita lakukan hanyalah mengharap akan terwujudnya cita-cita tersebut. Maka jangan heran, jika suatu saat nanti hasil yang kita dapatkan tidak sesuai dengan apa yang kita harapkan.

“Aku sudah melakukan yang terbaik yang mampu kulakukan, mengapa hasilnya tak sebaik yang kuharapkan?” Tanya kita. Ternyata, ada satu hal lagi yang kerap kali kita lupakan bahkan sering kita abaikan. Bahwa tindakan dibatasi oleh kemampuan. Mungkin kita biasa merasa bahwa kita bisa melakukan apa saja yang kita ingin lakukan. Kita bisa melukis, kita bisa berenang, kita bisa bermain basket (meski hanya sekedar memantul-mantulkan bola), dan lain sebagainya. Namuun, kemampuan adalah yang membedakan antara yang ahli dengan yang biasa.

Lalu dari mana datangnya kemampuan? Ia datang dari latihan yang dirutinkan terus-menerus hingga menetap dalam diri. Tak ada ahli yang tak gemar belajar, sebab keahlian pastilah merupakan rangkaian dari beragam potongan pengetahuan. Kita banyak menyaksikan para ahli memiliki deretan nama guru yang diburunya hingga berbagai penjuru. Tiap guru menyumbang sebuah potongan ilmu yang satu persatu terangkai menjadi gambar keahlian yang indah dalam diri dang murid.

Kita saksikan pula para ahli sangat tekun dalam mengolah apa yang diketahuinya hingga menyatu dalam dirinya. Ia terus tekun mendidik diri meski tak setiap saat ilmunya terpakai. Karena para juara tak pernah berlatih dalam pertandingan, mereka bersungguh-sungguh dalam persiapan selama bertahun-tahun. Dan masa persiapan selalu lebih panjang daripada pertandingan. Lihatlah kembali tujuan hidup kita, sumbangan apa yang hendak kita tinggalkan pada kehidupan? Apa tindakan yang patut kita biasakan untuk mewujudkannya? Lalu perhatikan apa saja kemampuan yang perlu kita kembangkan?

Perhatikan lagi keseharian kita, adakah ia telah melahirkan hasil-hasil terbaik? Yang setiap kali menjelang tidur kita bisa berbangga dengannya? Jika belum kita temukan, cermatilah kemampuan kita. Sebab, hari yang memuaskan hanyalah hasil dari kemampuan yang baik. Sesuatu terpenting yang harus kita persiapkan pertama kali ialah “rencana”. Gagal merencanakan berarti merencanakan kegagalan. Merencanakan sesuatu perlu kesungguhan, sesungguh menjalankannya. Sebaik-baik rencana adalajh ia yang mudah dijalankan.
Hampir tak ada seorang pun yang menginginkan hari yang buruk. Hari yang brakhir hampa tak menghasilkan apa-apa. Bahkan mereka yang sedang lelah dan ingin bersantai di atas kasur pun menghendaki santai yang akan berujung menyegarkan. Bukan santai yang tanpa hasil. Tak satu pun karya besar manusia lahir tanpa adanya perencanaan. Negara dengan masyarakat bermoral, gedung yang menjulang tinggi, semuanya memerlukan rencana.

Para ahli dalam menciptakan karya adalah mereka yang ahli dalam merencanakan. Seorang presiden dapat membayangkan kondisi negaranya di masa depan kala ia mengatur kondisi negaranya saat ini. Seorang pebisnis mampu memperkirakan potensi yang akan lahir dari sebuah gedung atau ide. Seorang arsitek bisa melihat gambaran rumah yang bisa dihasilkan kala menetap sebidang tanah. Bahkan, benda sekecil peniti juga diciptakan dengan sebuah rencana. Jika demikian adanya, mengapa waktu ini, hidup ini, banyak yang tak merencanakan apapun?

Adakah masyarakat yang bersedia mencoblos calon presiden yang tak memiliki rencana untuk menata ulang negara? Adakah seorang pengguna jasa angkutan umum mau bertaruh waktu dan uang pada bus yang tak jelas rutenya? Dan jika tidak, sudahkan kita rencanakan hari kita? Kita mungkin memiliki rencana tahunan, bulanan, mingguan. Itu semua tentu bagus adanya. Namun, sejatinya apa yang akan terjaddi pada minggu, bulan, dan tahun, hanyalah buah dari apa yang dilakukan setiap hari.

Rencanakan harimu dengan bertanya dan menuliskan “Apa saja hal yang bisa kulakukan esok, yang akan mrngantarkanku pada targetku? Pada harapanku untuk mrnjadi orang yang lebih baik?”

“Aku sudah memiliki rencana, tapi banyak yang tak terlaksana.” Keluh kita. Sebaik-baik rencana adalah ia yang dijalankan. Maka sebelum dijalankan, ia tak pernah menjadi sebuah rencana yang baik, sesempurna apapun ia direncanakan. Maka tanda baiknya sebuah rencana adalah daftar tindakan untuk dikerjakan. Sebab tiada hasil tanpa usaha. Setelah berusaha, liatlah adakah ia setara dengan hasilnya? Jika tidak, perbaiki tindakannya. Jika iya, lanjutkan hingga ia bisa dikerjakan tanpa banyak memikirkannya. Teruslah berusaha meski ada rintangan.

Hidup adalah serangkaian ujian, dan karenanya muncul serangkaian rintangan. Kita baru mampu mengetahui maksud dan tujuan dibaliknya setelah melewatinya. Tapi bagaimana kita sanggup melewatinya jika yang tampak di depan mata adalah kesulitan yang tak ada henti-hentinya? Dengan memasang tujuan, tujuan yang menginspirasi, tujuan yang menembus kehidupan dunia. Lalu berjalanlah terus menuju ke arahnya.

Karena tiap rintangan itu unik dan baru, tentu banyak cara mengatasi yang diri kita belum ketahui. Lalu bagaimana kita tahu bahwa sesuatu yang baik menunggu dibaliknya? Dengan terus berjalan. “Pukulan yang tak mematikanmu, membuatmu lebih kuat.”

Maka, jika suatu saat nanti engkau gagal dan jatuh sejatuh-jatuhnya, lalu tiada seorang pun lagi yang peduli dengan dirimu, maka mintalah kepadanya yang maha adil lagi bijaksana. Niscaya akan dikabulkan. Allah selalu ada untuk hambanya yang membutuhkan.

Karenanya, ingatlah Allah karena tanpanya, engkau tidak akan bertahan hingga saat ini. Ingatlah 2 hal ini: “Bisa jadi sesuatu itu tampak baik, namun sejatinya buruk, dan bisa jadi sesuatu itu tampak buruk, namun sejatinya baik.”

Cermatlah mengenali keluh yang tak henti-hentinya. Sebab itu tanda diri sedang fokus pada apa yang hanya bsia dipedulikan. Bukan yang dapat dilakukan. Segeralah picu pikiran dengan bertanya: Apa yang bisa kulakukan? Lalu bertindaklah, bergeraklah, bekerjalah jika bisa. Jika tak ada, maka tinggalkanlah segera agar waktu dan tenaga tak terbuang sia-sia. Karena masih banyak hal yang menunggu untuk dikerjakan demi masa depan yang gemilang.[]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *