Seutas Haba Peuingat oleh Thasoedi (Guru MTs)
Kata orang-orang tua, dunia ini ibarat pasar yang riuh. Ada penjual yang menimbang dengan benar, dan ada pula yang menyelipkan batu di bawah timbangan supaya kantongnya cepat penuh. Si pembeli yang cerdik kadang pura-pura tak tahu, karena tahu lidah panjang bisa lebih tajam dari pisau. Mereka yang pandai menipu sering paling rajin berkhotbah soal kejujuran, seakan dirinya penentu benar dan salah. Anehnya, semakin sering kata “jujur” keluar dari bibirnya, semakin kotor pula tangan yang memegang timbangan. Tapi itu cerita di negeri jauh, bukan di sekitar kita—jelas itu tidak ada di dekat kita.
Di sudut lain, kabarnya ada pemimpin yang saban hari mengangkat tangan ke langit, doa panjang, suara merdu, bahkan kadang air matanya jatuh di atas sajadah. Tapi selepas itu tangannya kembali menghitung amplop, matanya membaca angka-angka yang hanya membuat rakyatnya lapar. Hukum yang ia tegakkan bagai parang tumpul: bila menimpa orang kecil, ia tebas dengan lantang; bila menimpa orang besar, ia letakkan begitu saja. Orang tua dulu pernah berkata: hukum yang hanya berani pada lemah, tapi takut pada kuat, itu bukan hukum, melainkan cambuk yang salah alamat. Tapi tentu, itu hanya hikayat masa lampau, jelas itu tidak ada di dekat kita.
Di jalan raya, orang muda menunggang sepeda motor seperti garuda baru belajar mengepak sayap. Suaranya bising, kepalanya tegak, matanya menoleh kanan-kiri memastikan dunia tahu kehadirannya. Mereka cepat sekali di jalan, seolah waktu mengejar mereka, tapi betapa lambatnya kalau disuruh mengangkat beras dari dapur atau menimba air di sumur. Kata nenek moyang: kuda liar memang gagah di padang, tapi akhirnya jatuh juga di lumpur. Sungguh, itu sekadar perumpamaan lama, jelas itu tidak ada di dekat kita.
Di pasar, ada kabar tentang ibu-ibu yang pandai menawar hingga lidahnya kering, menekan harga telur sampai setengahnya. Tapi sesampai rumah, tangannya mengangkat gelang emas dan memamerkannya di depan tamu. Ada pula bapak-bapak yang setiap hari menggerutu harga beras, padahal rokoknya tak pernah putus dan kopinya selalu penuh. Semua ingin dihormati, sedikit sekali yang rela menunduk. Namun, itu hanyalah cerita kocak dari kampung orang, jelas itu tidak ada di dekat kita.
Di sekolah, murid-murid ada yang rajin mencontek, lalu tersenyum bangga saat nilai merah berubah jadi hijau. Guru-guru ada yang lantang menasihati tentang rajin dan disiplin, tapi diam-diam pulang lebih awal, absen panjang, atau sibuk rapat yang tak jelas arah. Semakin pandai orang berbicara tentang kebaikan, semakin lihai pula ia menyembunyikan kelicikan. Tapi itu hanya dongeng dari negeri seberang, jelas itu tidak ada di dekat kita.
Di meunasah, ada jamaah yang rajin berzikir dengan suara lantang, menghentak-hentak, sampai semua orang tahu dia hadir. Tapi tetangganya yang sakit tidak pernah ia tengok, anak yatim di seberang rumah tidak pernah ia sapa. Ada pula yang sibuk menunjuk dosa orang lain, padahal bajunya sendiri penuh noda. Mereka menyebut dirinya penjaga agama, padahal yang dijaga cuma kursi dan dompet. Tapi itu hanyalah kisah penglipur lara dari masa lalu, jelas itu tidak ada di dekat kita.
Di kampung, ada orang kaya yang menggelar pesta tiga malam tiga hari, tenda dipasang, lampu berkelap-kelip, penyanyi didatangkan, petasan dibakar. Semua demi gengsi, agar namanya harum, meski harus berhutang sampai tujuh turunan. Anehnya, ketika tetangganya butuh biaya berobat, pintu rumahnya rapat tertutup. Orang tua pernah berucap: bila rumahmu terang benderang tapi hati tetanggamu gelap, maka itu bukan cahaya, itu api yang membakar. Tapi itu cuma peribahasa tua yang sering dibacakan di warung kopi, jelas itu tidak ada di dekat kita.
Dan tentang bumi ini, katanya kita adalah khalifah, penjaga tanah dan air. Tapi pohon-pohon ditebang tanpa ampun, sungai dicemari limbah, laut dijaring serakah. Semua disebut pembangunan, padahal pembangunan kantong pribadi. Saat banjir datang, saat gajah masuk kampung, saat tanah longsor merobohkan rumah, mereka sibuk mencari siapa yang salah, padahal jawabannya ada di cermin. Tapi itu hanya kisah alam di negeri lain, jelas itu tidak ada di dekat kita.
Konon, orang-orang yang melampaui batas selalu merasa paling aman. Mereka percaya singgasana takkan runtuh, harta takkan habis, suara takkan padam. Padahal sejarah sejak Firaun sampai Qarun sudah memberi pelajaran, bahwa akhir dari melampaui batas bukanlah kejayaan, melainkan kehancuran. Tetapi entahlah, mungkin manusia zaman ini memang lebih suka belajar dari bencana yang ia buat sendiri, ketimbang dari kisah-kisah yang ditinggalkan orang dahulu. Tapi barangkali, itu juga bukan tentang kita—jelas itu tidak ada di dekat kita.
