Bale-Bale Kasih

Oleh : Hanaf Abdu

Aroma nasi bungkus dari pasar itu selalu membawa getir yang menyesakkan. Di atas bale-bale kayu dayah yang berjejer rapi, tiap suapannya terasa hambar seperti pasir di mulutku. Ayah duduk di hadapanku, jemarinya yang mulai berkerut meremas ujung peci hitamnya, seolah sedang meremas kegelisahannya sendiri.

“Maafkan Ayah, Nak. Sepertinya kalian tidak bisa lanjut ke sekolah yang kalian impikan,” suara Ayah getir. Pandangannya lurus ke depan, menghindari mataku.

Kalimat itu menghantamku lebih keras dari badai mana pun. Ingatanku melayang pada kunjungan-kunjungan tahun lalu, saat wadah bekal kami selalu penuh dengan ayam kecap buatan Mak yang bumbunya meresap hingga ke tulang, teri medan kacang yang renyah pedas, dan kue puding istimewa sebagai penutupnya. Dulu, Mak adalah orang yang paling semangat menelepon sejak Kamis malam, hanya untuk menanyakan menu apa yang harus dibawa. Suaranya di seberang telepon selalu penuh binar. Namun kini, keheningan dan aroma nasi bungkus pasar ini seolah meratapi segala kemewahan kasih sayang yang telah hilang.

“Kakak kuliah di daerah kita saja, Yah. Dekat rumah, tidak perlu kos. Kakak bisa cari beasiswa,” potong Kakak dengan suara lembut, mencoba menambal luka di hati Ayah.

Ayah menoleh padaku. “Kamu, Qil… terpaksa melanjutkan ke SMA di dekat rumah juga. Enggak apa-apa, kan?”

Darahku mendidih. “Tapi Ayah… Ayah tahu itu bukan mimpiku!” suaraku meninggi.

“Kakak enak sudah sampai tamat di sini. Kenapa aku harus pulang ke kampung?”

“Sst, Qil…” Kakak menyentuh pundakku. “Ayah sudah berjuang. Untuk iuranmu saja sudah berapa bulan menunggak, Ayah harus minta dispensasi ke pihak keuangan dayah.”

Kata-kata Kakak seperti sembilu. Sakit sekali. Hening pun menyergap di antara riuhnya suasana hari Jumat itu. Biasanya, sejak pukul sepuluh pagi, dayah ini sudah penuh sesak dengan wali murid yang berkunjung.

Aku menatap Ayah yang membisu, lalu menatap Kakak yang begitu rela mengubur ambisinya demi memberi ruang untukku. Di titik itu, aku sadar: kegigihan Ayah datang ke sini setiap Jumat, meski tanpa mobil, adalah bentuk cinta yang tak ternilai.

“Tapi Ayah, Raqil mau tetap di sini. Tolong usahakan sekali lagi, Yah. Qil janji akan belajar lebih keras,” ucapku memelas.

Sepertinya Ayah tidak punya pilihan lain, harus membuang rasa malunya. Dengan langkah gontai Ayah menuju kantor berwarna putih yang berdiri tepat di bagian depan dayah yang megah ini untuk bernegosiasi dengan pihak manajemen perihal kelanjutan pendidikan ku.

####

Desir angin siang itu tetap tidak bisa meredam hawa panas yang menyelimuti jiwa ragaku. Otakku mendidih. Aku menatap Kakak yang duduk di sampingku, hanya termenung melihatku yang diam tertunduk.

“Maaf Kak, Raqil enggak sanggup lagi bertahan di sini,” akhirnya kata-kata itu keluar juga.
“Apa? Maksud mu?”

“Qil mau pindah sekolah ke kampung saja.”

“Enggak, itu enggak boleh!” Jawab Kakak begitu cepat.

“Kakak mudah bicara! Tapi Kakak tahu rasanya jadi Raqil? Menjalani hari dengan belas kasihan orang? Harus jajan dari pemberian kawan karena tidak punya uang?” Tenggorokanku tercekat.

“Cukup!” Kakak memotong tajam. “Kamu pikir Kakak senang? Tidak ada yang mudah bagi kita sekarang, Raqil. Ayah, Mamak, semua susah. Tapi kita bisa apa? Ini kehendak Allah. Ingat apa yang selalu Mak bilang?”

“Andai tidak ingat, Raqil sudah pindah dari dulu! Tapi maaf, Qil sudah enggak sanggup!” Pertahananku jebol. Air mata membasahi pipi. Saat Kakak mencoba mengusapnya, segera aku tepis karena tidak ingin menjadi pusat perhatian wali murid lain yang lalu-lalang di sekitar pekarangan dayah.

“Raqil tahu. Semua sayang Raqil. Tapi Raqil tidak pantas di sini. Raqil bukan murid pintar yang pantas dapat beasiswa di dayah sebagus ini. Raqil tidak pernah juara apa pun; tidak pantas rasanya menerima uang atau hadiah dari ustaz dan ustazah. Rasanya…” Napasku hampir habis karena sesak.

“Raqil…” sebuah suara bariton yang tenang memecah isak tangisku. Ustaz Darman berdiri di dekat kami. Entah sejak kapan Beliau memperhatikan.

“Pindah bukan berarti masalahmu selesai, Nak. Di sini, kami tidak hanya menilai angka. Kamu memang bukan juara kelas, tapi kamu murid yang paling rajin membantu dan memiliki akhlak yang baik. Itulah alasan guru-guru menyayangimu. Kebaikan budimu adalah prestasi yang pallig langka di zaman sekarang,” ucap Ustaz Darman teduh.

Beliau melanjutkan dengan suara merendah, “Kamu punya keluarga yang menyayangimu sepenuh jiwa. Termasuk Ayahmu”. Suara Ustaz Darman sejenak berhenti.

“Raqil… kamu tahu kenapa sebulan terakhir hanya Kakakmu yang menjenguk? Ayahmu sedang sakit, Nak. Beliau meminta Kakakmu untuk selalu mengunjungi. Karena ingin kamu tetap belajar tanpa perlu tahu bebannya.”

Telingaku berdenging. Ternyata di balik keluhanku tentang harga diri, Ayah sedang bertarung dengan rasa sakitnya dalam diam.

Aku menatap sebungkus nasi di depanku yang mulai dingin. Di sudut pekarangan dayah, pohon Seulanga tua sedang berbunga, mengirimkan keharuman yang lembut ke arah bale-bale kami. Dulu, Mak sering menyelipkan bunga itu di lipatan jilbabnya, menebarkan wangi keanggunan dan sukacita. Kini, meski tanpa ayam kecap istimewa, harum Seulanga yang terbawa angin seolah membisikkan pesan: bahwa kemuliaan tidak diukur dari apa yang kita bawa, tapi dari seberapa kuat kita bertahan dalam badai. Aku mencoba menikmati aroma nasi bungkus pasar ini agar terasa berbaur dengan wangi pengorbanan Ayah yang jauh lebih abadi. Di atas bale-bale kasih inilah, aku mencoba memaknai arti perjuangan yang sesungguhnya.

Kakak menggenggam tanganku erat. “Qil, Kakak punya kabar. Kakak lulus beasiswa LPDP ke Malaysia. Biaya S2 Kakak ditanggung Negara”

Aku hanya menatap wajah Kakak yang masih berbinar dan menggunung air mata. Bercampur antara kepedihan dan keharuan.

“Masya Allah, Rara. Selamat. Ustaz bangga dengan kamu. Cerdas, baik, dan penuh semangat.”

Kata-kata Ustaz Darman membuat hatiku berkecamuk; antara malu atas sikapku tadi dan bangga memiliki kakak sehebat Kak Rara. Gumpalan sesak di dadaku perlahan mencair. Aku menoleh ke sekeliling, melihat orang-orang larut dalam rima masing-masing, menikmati hari kunjungan dengan sukacita menjelang waktu sore ini. Aku mencoba memungut sisa-sisa bahagia yang sempat hancur berkeping-keping.

“Kamu tidak perlu khawatir, Qil. Tetaplah menjadi anak yang baik dan rajin. Usahakan masuk kuota eligible agar nanti punya kesempatan kuliah tanpa tes. Nanti Ustaz bantu daftarkan KIP Kuliah-nya,” Ustaz Darman meyakinkan.

“Terima kasih banyak, Ustaz. Mohon bimbingannya untuk Raqil,” ucap Kak Rara takzim.

Lalu, ia beralih padaku. Ia menggenggam jemariku, menyalurkan kehangatan yang selama ini aku abaikan karena egoku sendiri. “Qil, dengar Kakak. Kamu harus berjanji untuk menjaga amanah Ayah dan Mamak di sini. Kita buktikan bahwa kekurangan uang bukan berarti kita tidak punya tempat di bawah langit kesuksesan, ya?” Kata-kata Kakak yang lirih namun penuh penekanan itu terasa seperti bahan bakar baru bagi jiwaku.

“Tidak ada yang harus dikhawatirkan. Selama kita menggantungkan harapan pada Allah, tidak ada yang mustahil. Kamu juga jangan sungkan dengan kawan-kawan dan ustaz di sini. Bukankah kita keluarga besar? Kalian adalah anak-anak kami, selamanya,” tambah Ustaz Darman teduh.

“Maafkan Raqil, Ustaz… Kak. Raqil berjanji akan terus berusaha menjadi lebih baik dan semangat lagi. Raqil akan belajar lebih keras. Untuk Ayah, untuk Mamak, Ustaz… dan untuk mimpi Raqil sendiri.”

Seketika, semilir angin terasa lebih lembut membelai jiwaku. Aroma bunga Seulanga kembali berembus, menusuk lembut bak aromaterapi yang meluruhkan beban di pundak. Langit kian teduh seiring matahari yang condong ke barat. Sayup-sayup, lantunan ayat suci dari pengeras suara masjid kebanggaan dayah kami terdengar begitu merdu, menggetarkan sanubari.

“Ayo, kita bersiap ke masjid. Ustaz permisi dulu.”

Baik, Ustaz,” jawabku dan Kak Fara serentak. Aku bangkit, lalu menyalami dan mencium punggung tangan ustaz kebanggaan kami itu dengan takzim. Di atas bale-bale kasih inilah, aku berjanji akan melanjutkan perjuangan yang sesungguhnya.

Lueng Putu, 14 Maret 2026

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *