Oleh: Hanaf Abdu
Duk! Duk! Duk!
Suara pisau yang menghantam cangkang pinang itu seirama dengan detak jantung Rahmat. Peluh membasahi sekujur kausnya, meluncur deras di sela wajah yang memerah terpanggang terik. Di belakangnya, Mak hanya bisa duduk terpaku di kursi roda, menatap punggung anak semata wayangnya dengan tatapan yang sulit diartikan—seolah ada rahasia besar yang tertahan di tenggorokannya.
“Istirahat dulu, Nak. Besok dilanjutkan lagi. Lagian sebentar lagi azan asar, kamu harus ke kebun memetik kangkung untuk menu buka puasa kita,” ucap Mak lembut.
“Iya, Mak. Tanggung sedikit lagi,” balas Rahmat tanpa menoleh. Tangannya lincah mengayunkan pisau. Ia begitu semangat mengumpulkan uang agar ponsel Android impiannya segera bisa terbeli. Rahmat sadar, ia tak mungkin berharap pada Mak. Sejak ia lahir, ayahnya pergi tanpa pesan, meninggalkan Mak berjuang sendiri sebagai orang tua tunggal. Kegigihan Mak selama ini membuat Rahmat tidak pernah merasa kekurangan kasih sayang, meski hidup dalam kesederhanaan.
Namun, beberapa bulan lalu kehidupan lebh miris lagi. Mak jatuh sakit; kaki kanannya tak lagi bisa digerakkan. Mak harus berjalan menggunakan tongkat, bahkan terkadang terpaksa menggunakan kursi roda. Rahmat yang masih duduk di kelas XI SMA itu terpaksa menjadi ujung tombak kehidupan. Di sela sekolah, ia membanting tulang di sawah dan merawat kebun demi sesuap nasi.
“Ayo, Nak. Apa kamu tidak lelah puasa-puasa membelah pinang sejak pagi tanpa henti?” lanjut Mak. Ia tidak tega melihat anaknya terlalu memforsir tenaga.
“Iya, Mak. Ini juga sudah siap,” balasnya singkat sambil bangkit berdiri. Rahmat mengambil kantong kresek lalu menuju ke kebun yang letaknya tidak begitu jauh.
Namun, setibanya di sana, dunianya seolah runtuh. Pagar kayu yang ia bangun susah payah bersama Mak telah terbuka lebar. Tanaman kangkung yang hijau kini rata dengan tanah, diacak-acak kawanan monyet hutan. Tak hanya itu, jagung-jagung yang sebentar lagi panen kini hanya menyisakan batang kosong. Rahmat tertegun. Air matanya menitik menatap kehancuran itu. Entah bagaimana dia akan menjalani hidup kedepannya, salah satu sumber kehidupannya kini telah musnah tanpa sisa.
Dengan hati hancur dan tangan hampa, ia melangkah pulang. Kebingungan melanda Rahmat, bagaimana harus menjelaskan kepada Mak ? Kenyataan ini pasti sangat membuat Mak hancur. Sesampainya di rumah, langkah Rahmat terhenti di balik pintu yang sedikit terbuka. Ia mendengar suara Apa Din, adik Mak, sedang berbincang serius.
“Pokoknya Rahmat tidak boleh tahu soal ini!” suara Mak terdengar tegas namun bergetar.
“Tapi Kak, dia harus tahu kondisi Kakak yang sebenarnya. Kakak harus segera berobat ke kota. Saya tidak bisa membantu keuangan, satu-satunya cara adalah menjual aset yang Kakak punya. Sawah atau kebun. Atau mungkin keduanya,” desak Apa Din.
Rahmat tercekat. Napasnya tertahan di tenggorokan.
“Kalau itu dijual, lantas dari mana kami bisa makan?” jawab Mak tersedu.
“Kita tidak punya pilihan, Kak! Kesembuhan Kakak paling penting. Jika tidak diobati, penyakit ini akan terus menggerogoti hingga Kakak benar-benar tidak bisa berjalan, bahkan duduk di kursi roda pun tidak akan sanggup lagi!”
Mendengar kenyataan pahit itu, pertahanan Rahmat runtuh. Isaknya pecah, membuat Mak dan Apa Din tersentak kaget. Rahmat mendorong pintu dan langsung bersimpuh di kaki Mak.
“Kenapa Mak tidak bilang?” tangis Rahmat meledak. “Kenapa Mak harus menahan sakit sendirian?
###
Waktu terus berputar tanpa menunggu siapa pun. Ambang sore yang penat mengirimkan luka di hati ibu dan anak itu. Mereka terpaku di depan menu buka puasa yang sangat sederhana: nasi putih, ikan asin, serta kuah daun singkong pemberian Cek Ni, tetangganya. Dua gelas kanji dari meunasah menjadi menu istimewa yang tak terlewatkan. Empat butir boh romrom sedekah Wak Nu ikut melengkapi meja mereka hari ini.
Mak dan Rahmat hanya diam membisu, sibuk dengan pikiran masing-masing sambil memandang langit-langit rumah yang tak berplafon.
“Maafkan Mak, Nak. Bukan maksud Mak menyembunyikan ini, tapi Mak tidak ingin membebanimu. Insya Allah Mak akan sembuh,” ucap Mak lirih.
“Besok Mak harus ke rumah sakit. Mak tidak boleh menolak!” ujar Rahmat berapi-api. “Nanti setelah tarawih, Rahmat akan lihat tabungan. Semoga cukup untuk pengobatan awal Mak.”
Malam mengirimkan suasana misteri di antara gema ayat suci Al-Qur’an. Rahmat berjalan tergesa dari meunasah usai menunaikan salat tarawih. Dia tidak sabar membuka celengannya dan menghitung uang yang telah ditabungnya sejak dua tahun lalu.
Namun, alangkah terkejutnya ia ketika mendapati pintu rumah terbuka lebar. Ia bergegas masuk ke kamar tengah, dan di sana, ia mendapati kamarnya telah diacak-acak. Celengan bambu di bawah tempat tidurnya telah terbelah dua—isinya raib tak bersisa.
“Maaaaaaaak!” teriakan Rahmat membelah malam.
Mak tertatih keluar dari kamarnya, terkejut mendengar anaknya berteriak kencang. Seketika, tetangga berhamburan datang memenuhi rumah kecil itu. Keriuhan pecah; suara bisik-bisik prihatin, umpatan geram pada sang pencuri, hingga isak tangis ibu-ibu yang tak tega melihat kondisi Rahmat, menciptakan suasana yang menyesakkan.
“Astaghfirullah, siapa yang tega melakukan ini? Selama ini tidak pernah ada pencurian di kampung kita,” Wak Nu mencak-mencak.
“Ini tidak boleh dibiarkan. Kampung kita sudah tidak aman lagi,” sahut warga yang lain.
Rahmat tertunduk lesu di lantai. Jemarinya yang kasar gemetar memunguti serpihan bambu celengannya yang kini hancur berkeping-keping. Ia meraba celah-celah lantai kayu, berharap ada selembar uang yang tertinggal, namun hanya debu dan kekosongan yang menyapa ujung jarinya.
Dari kejauhan, gema tadarus Al-Qur’an dari meunasah masih terdengar syahdu, memuji kebesaran Sang Pencipta. Suara suci itu seolah beradu dengan hiruk-pikuk simpati warga yang memenuhi ruangan sederhana itu. Rahmat mendongak sejenak, menatap Mak yang mematung di tengah kerumunan dengan air mata yang mengalir tanpa suara. Hatinya hancur luluh, lebih perih dari tergores pisau.
Di tengah kepanikan itu, para tetangga mencoba memberi kekuatan. Rahmat menyadari bahwa ujian di bulan penuh berkah ini terasa begitu berat. Kebunnya dijarah monyet, dan kini harapan terakhirnya dijarah manusia. Rahmat menarik napas panjang. Entah rahasia apa yang sedang Allah siapkan untuknya, ia hanya bisa pasrah menerima semua cobaan. Baginya, hidup adalah perjalanan yang telah digariskan oleh Sang Pemilik Hidup. Sebagai hamba, ia akan terus berjuang segenap jiwa untuk melakukan yang terbaik. Ia yakin, Allah tidak akan memberi cobaan melebihi kekuatan hamba-Nya.
###
Lueng Putu, 16 Maret 2026
