Sebuah Cerpen oleh Thasoedi (Guru MTs)
Kamu duduk di bangku panjang bercat hijau yang mengelupas di teras rumah kontrakan itu. Catnya terkelupas tak rata, memperlihatkan lapisan lama yang lebih pucat, seperti ingatan yang pernah ingin dihapus tapi gagal sepenuhnya. Di bawah bangku, tanah lembap mengeluarkan bau khas—bau hujan semalam yang belum benar-benar pergi. Gang di depan rumah selebar dua sepeda motor; jika dua orang berpapasan, salah satunya harus mengalah.
Kamu tersenyum pahit memikirkan itu.
Jam dinding di ruang tamu berdetak keras, berdetak dengan ritme yang tidak sabar. Setiap detiknya seperti mengetuk kepala. Dari kamarmu, kamu bisa melihat ia berdiri di ambang pintu kamarnya sendiri, satu tangan memegang gagang pintu, satu tangan lagi menggenggam ponsel. Kemeja abu-abu yang ia kenakan terlihat kusut, bukan karena malas, tapi karena sudah lama tak lagi ia perhatikan.
Ia berusia dua puluh delapan tahun.
Dan rencana pernikahannya batal pagi itu.
“Jadi… betul?” tanyamu akhirnya.
Ia mengangguk. Pelan. Seperti orang yang sudah lama mempersiapkan diri untuk jawaban itu.
“Betul.”
“Sudah fix?”
“Iya.”
Kamu menunggu sesuatu—helaan napas panjang, suara pecah, atau setidaknya gerakan gelisah. Tapi ia hanya duduk di lantai, menyandarkan punggung ke dinding, lututnya ditekuk.
“Harusnya aku nangis, ya?” katanya, setengah bercanda.
“Kau mau nangis?”
Ia menggeleng.
“Ndak tau.”
Kata ndak tau itu terdengar jujur. Lebih jujur daripada segala kalimat panjang yang biasa ia ucapkan dulu untuk menjelaskan perasaannya.
Kamu mengenalnya cukup lama untuk tahu bahwa kebingungan seperti ini bukan hal baru. Yang baru hanyalah caranya menghadapinya.
Dulu, setiap kebingungan selalu diakhiri dengan satu keputusan: mengalah.
Kamu ingat jelas bagaimana ia dibesarkan. Rumah masa kecilnya tidak pernah benar-benar sunyi. Selalu ada suara orang dewasa berbicara lebih keras dari yang seharusnya. Di meja makan, ia belajar bahwa pendapat anak kecil adalah hiasan, bukan kebutuhan. Jika ia keberatan, ada kalimat yang selalu muncul:
“Sudah, kau ngalah saja. Kau kan yang paling ngerti.”
Dan ia memang mengerti. Terlalu mengerti.
Suatu hari, bertahun-tahun lalu, di bangku sekolah yang dingin oleh hujan pagi, kamu pernah bertanya,
“Kau capek nggak sih selalu nurut?”
Ia tertawa kecil, menggaruk tengkuk.
“Biasa saja. Dari kecil awak gitu.”
“Kalau awak marah?”
Ia menggeleng.
“Marah itu bikin ribut. Ribut itu bikin orang pergi.”
Kalimat itu melekat di kepalamu sampai sekarang.
Di ruang tamu kontrakan, ponselnya kembali bergetar.
“Kau nggak mau angkat?” tanyamu.
Ia melirik sekilas, lalu meletakkannya lagi di meja.
“Biarlah.”
“Biasanya kau paling nggak enakan.”
Ia menoleh ke arahmu. Tatapannya berbeda. Lebih lurus.
“Biasanya, iya.”
Ada jeda panjang. Di luar, suara ibu-ibu lewat sambil membawa kantong belanja. Bau cabai dan ikan asin sesaat masuk lewat jendela.
“Mereka pasti kecewa,” katamu.
Ia mengangkat bahu.
“Orang kecewa itu urusan mereka. Aku capek ngurus perasaan semua orang.”
Kata capek keluar tanpa nada minta maaf.
Dan di situlah kamu sadar: sesuatu telah bergeser.
Beberapa minggu setelah pembatalan itu, kamu masih sering menemuinya di warung kopi pinggir jalan. Warung itu sederhana—meja kayu kasar, gelas-gelas kaca yang sudah buram, kipas angin tua yang berdecit seperti mengeluh. Jalan raya di depan warung selalu ramai; suara klakson bercampur debu, membuat siapa pun harus berbicara sedikit lebih keras.
“Kopi apa?” tanya penjual.
“Kopi hitam. Panas,” jawabnya cepat.
Penjual itu menatapnya sejenak.
“Manis?”
“Ndak.”
Kamu tersenyum. Dulu, ia pasti akan menambahkan, terserah bang.
“Kau berubah,” katamu sambil duduk.
Ia mengaduk kopi perlahan. Uap panas naik, membawa aroma pahit yang tajam.
“Berubah atau pulang ke diri sendiri?”
Kamu tidak langsung menjawab.
“Dulu,” lanjutnya, “aku kira kalau aku selalu baik, semua bakal bertahan. Ternyata ndak.”
“Kau marah?”
“Bukan marah,” katanya sambil menyesap kopi. “Lega.”
Seorang kenalan mampir.
“Eh, nanti sore bantuin pindahan ya?”
Ia mengangkat wajah.
“Ndak bisa.”
“Kenapa?”
“Aku mau istirahat.”
Kenalan itu terlihat kikuk.
“Oh… ya sudah.”
Setelah orang itu pergi, kamu bertanya,
“Kau nggak takut orang jadi menjauh?”
Ia tersenyum tipis.
“Kalau mereka cuma dekat karena aku selalu bilang iya, biarlah.”
Kalimat itu terdengar sederhana, tapi berat.
Namun malam tetap malam. Sunyi tetap datang.
Pada suatu malam hujan, suara air memukul atap seng seperti ribuan jari kecil. Bau lembap memenuhi kamar. Kamu melihat ia duduk di tepi ranjang, menatap lantai.
“Kepikiran lagi?” tanyamu.
“Iya,” jawabnya tanpa menoleh.
“Aku takut… jangan-jangan aku keterlaluan.”
“Keterlaluan gimana?”
“Menolak. Nggak peduli.”
Kamu diam sejenak.
“Kau menolak karena kau mau, atau karena kau dendam?”
Ia berpikir lama.
“Karena aku mau.”
“Berarti bukan keterlaluan.”
Ia menghela napas.
“Dulu aku kira jadi baik itu soal mengorbankan diri. Sekarang aku sadar… aku cuma takut ditinggal.”
Hujan makin deras.
“Dan kau ditinggal juga akhirnya,” katamu pelan.
Ia tersenyum pahit.
“Iya. Tapi anehnya, aku masih berdiri.”
Pagi datang dengan cahaya terang. Debu-debu kecil menari di udara. Ia berdiri di depan cermin, merapikan rambut seadanya.
“Kau kelihatan lebih tenang,” katamu.
Ia mengangguk.
“Karena aku nggak lagi sibuk jadi versi orang lain.”
“Kau nggak kangen jadi orang yang dulu?”
Ia menatap bayangannya sendiri.
“Kasihan dia. Tapi aku ndak mau hidup di tempat dia terjebak.”
Di luar, gang sempit itu tetap sama. Orang-orang tetap lalu-lalang. Dunia tidak berubah hanya karena satu orang berhenti mengalah.
Kamu berdiri di sana, sebagai saksi.
Menyaksikan seorang pria dua puluh delapan tahun gagal menikah—namun akhirnya berhasil memilih dirinya sendiri.
Dan untuk pertama kalinya, ia hidup bukan untuk menyenangkan semua orang,
melainkan untuk bernapas dengan utuh.
