oleh: Niswatul Chaira
Namaku Uni.
Aku adalah anak perempuan yang hidup terpisah dengan keluargaku. Bukan tanpa sebab, setelah menyelesaikan pendidikan, aku memilih untuk menjadi ustazah di sebuah pesantren. Hidupku penuh dengan rutinitas mengajar, membimbing anak-anak di asrama, dan mengajarkan mereka tentang agama dengan penuh semangat.
Meski jarak memisahkan, hati kami tetap terikat kuat dalam ikatan kasih sayang yang tak terucapkan. Aku jarang pulang, karena tugas dan tanggungjawabku di dayah harus aku penuhi. Namun, setiap kali ada kesempatan, aku sempatkan untuk mengunjungi kedua orang tuaku walaupun hanya sebentar. Jika aku tidak bisa pulang, dering telepon dan suara lembut dari ayah dan ibu selalu mampu membendung kerinduaanku.
Sementara Ayah adalah imam masjid di desa kami. Sejak aku kecil, aku tumbuh dalam lingkungan yang penuh dengan suara adzan, bacaan Al-Qur’an, dan dzikir yang selalu terdengar dari mulutnya. Ia adalah sosok yang teguh dan penuh keteladanan, yang mengajarkan kami tentang keikhlasan dalam beribadah dan banyak pelajaran hidup yang beliau ajarkan. Di masjid, ia dihormati oleh masyarakat. Di rumah, ia adalah kepala keluarga yang sederhana namun bijaksana, yang tidak pernah banyak bicara, tapi setiap kata yang keluar dari bibirnya selalu penuh makna.
Aku masih ingat jelas, hari itu Aceh sedang tidak baik-baik saja. Banjir besar melanda Aceh, menyapu jalan-jalan dan rumah-rumah, meninggalkan jejak kemarahan alam yang tak bisa dibendung. Suasana mencekam, namun penuh ketegangan. Di tengah perjuangan masyarakat untuk melanjutkan kehidupan diantara puing-puing rumah yang tertimbun lumpur, listrik dan internet padam, krisis bahan makanan hingga kelangkaan BBM ikut menambah penderitan masyarakat Aceh saat itu.
Bensin mulai langka, bahkan harganya pun melambung tinggi. Begitu banyak orang yang bergulat dengan kesulitan. Pada suatu malam di atas jembatan saat aku sedang mencari jaringan, telpon dari Ayah tiba-tiba masuk. Aku segera mengangkat berharap mereka bisa mendengarkan suaraku untuk mengurangi kekhawatiran.
“Uni… bagaimana kabarmu? sehat nak?”.
Suaranya tenggelam oleh hujan dan angin.
Sontak aku berteriak takut suara ku kalah dengan derasnya hujan “sehat Ayah, Alhamdulillah aku baik-baik saja”.
Ayah tidak banyak bicara. Hanya mengucap Alhamdulillah berulang-ulang, seolah itu sudah cukup baginya. Kemudian Ayah berkata “Motor Ayah bensin nya tinggal sedikit. Jadi susah ke mana-mana. Bensin di kampung juga langka”.
Aku menggigit bibir, menahan perih.
“Iya yah, disini juga demikian, kalau pun ada harganya jauh lebih mahal”. Jawabku menjelaskan.
Rasanya ingin sekali ku katakan, “nanti Uni usahakan ya Yah. Kalau dapat bensin, Uni bawakan. InsyaAllah Uni segera pulang”. Tapi melihat kondisi begini aku tidak ingin memberi harapan palsu kepada Ayahku, akan aku usahakan apapun untuk mencari sebotol bensin demi Ayah supaya langkah nya tidak terbatas.
Keesokan harinya aku berjuang mencari bensin. Dalam perjalanan, aku merasakan gelombang kecemasan di dadaku. Hujan membuat perjalanan semakin sulit, dan antrean panjang di pom bensin sudah menunggu di depan mata. Di setiap pom bensin yang kulewati, aku hanya melihat antrian panjang dan wajah-wajah yang lelah. Hujan membuat segala sesuatunya menjadi lebih rumit. Bahkan di warung kecil dan agen minyak pun semuanya habis, jika ada pun harga yang ditawarkan tidak masuk akal. Akhirnya percobaan ku untuk mendapatkan sebotol bensin belum bisa aku lakukan.
Aku memutuskan untuk kembali ke pesantren dan berniat untuk menghubungi teman-teman. Seandainya mereka mendapatkan bensin, aku ingin membelinya sebotol walaupun dengan harga yang mahal. Tidak masalah, demi Ayahku supaya tidak menunggu terlalu lama. Tiba-tiba telpon ku kembali berdering, tenyata dari ustazah Alla. “Ustazah dimana? sama ana ada lebih bensin ni, mau engga?”. Tanya teman sekamarku.
“Ya Allah ustazah, ana mau…. dari tadi keliling tapi sampai sekarang belum ada” ungkapku terharu seakan Allah menjawab do’aku secepat itu.
“Baik ustazah nanti ambil di asrama ya” ujar ustazah Alla.
“Baik ustazah, syukran… semoga Allah membalas kebaikan nya” ucapku berterimakasih sambil menutup telepon. Aku langsung bergegas kembali ke asrama. Akhirnya bensin yang ingin aku berikan untuk Ayahku ada.
Keesokan harinya, setelah mengisi penuh tangki motor ku dan menyisakan sebotol untuk dibawa pulang, keinginan ku untuk segera memberikannya kepada Ayah masih belum Allah kabulkan. Karena situasi belum kondusif aku tidak bisa pulang, kejutan yang ingin aku berikan harus aku tunda mungkin sampai beberapa hari kedepan. Aku melanjutkan pekerjaanku dan selalu mengabari orang tua setelah pekerjaanku beres. Semua baik-baik saja, mereka sehat, kami saling bertukar cerita bahkan tidak pernah terbesit dipikiranku jika sesuatu yang tidak aku inginkan akan terjadi.
Selepas subuh, aku menerima telpon dari Abangku dirumah. “Uni, bisa pulang sebentar tidak? Ayah sakit” ucapnya singkat.
“Baik abang, aku segera pulang. Keadaan Ayah baik-baik saja kan?” tanyaku khawatir. “Pulang saja dulu ya dek…” Kata abangku sambil mengakhiri pembicaraan.
Seketika pikiranku kalut, aku takut dan bingung. Tidak pernah keluargaku menghubungiku sepagi ini, dan kenapa tiba-tiba Ayahku sakit. Seingatku semalam kami baru saja bertukar cerita dan aku berjanji akan segera pulang. Langsung aku berlari menemui kepala Asrama untuk meminta izin. Tidak lama aku mengambil motor di parkiran dan bergegas pulang, pikiranku tidak karuan, aku hanya ingin segera sampai kerumah dan memastikan Ayahku baik-baik saja.
Sesampainya dirumah, aku melihat ada bendera kuning dan banyak sekali orang dirumahku. Seketika pikiranku terhenti. Aku menuju ruang tamu. Ayah terbaring kaku diatas ranjang. Wajahnya yang dahulu penuh senyum kini terlihat pucat. “Ayahhh…..” panggilku setengah berteriak.
“Kenapa Ayah tidak menungguku, aku membawakan hadiah untuk Ayah…yah bangun Ayahh…” seketika tangisku pecah dan sadar Ayah telah pergi untuk selama-lamanya.
Aku merasa begitu gagal. Bahkan keinginan untuk memberikan sebotol bensin untuk Ayah tidak lagi bisa aku lakukan, aku menggengam erat botol bensin dan berkata” Ayah ini aku bawakan hadiah untuk Ayah supaya Ayah bisa ke mesjid, ke sawah dan ke pasar, Ayah bangun Ayah…”. Air mataku tidak terbendung seakan ini adalah penyesalan terbesarku. Aku menyadari betapa tak berdayanya aku saat itu, terjebak dalam krisis yang begitu besar dan tak bisa melawan keadaan.
Tak lama kemudian, ibu kembali ke sisi ayah dan meremas tangannya dengan penuh kasih. Waktu terasa berjalan begitu lambat, dan dalam keheningan itu, aku merasakan sebuah kehilangan mulai menyelubungi rumah kami. Aku tahu, saat itu adalah detik-detik terakhir Ayah di dunia ini.
Ayah pergi, meninggalkan kami dengan sejuta kenangan dan kisah tentang kebesaran hatinya yang tak pernah meminta lebih dari apa yang sudah dimilikinya. Ia adalah sosok yang tak banyak bicara, tapi penuh dengan cinta yang tak terucapkan. Sebotol bensin itu, pada akhirnya, menjadi simbol dari sebuah perjuangan kecil yang tak terwujud, tetapi mengajarkan aku tentang ikhlas dan menerima takdir.
Aku kembali ke pesantren setelah beberapa hari berduka. Di sana, aku mencoba mengajar dengan semangat baru, meski dalam hati masih ada ruang yang kosong, yang tak akan bisa diisi oleh apapun. Ayahku telah pergi, tetapi ia meninggalkan warisan yang lebih besar dari sekadar keinginanku memberikan sebotol bensin. Sebuah teladan tentang ketulusan, kesabaran, dan keberanian untuk menerima setiap takdir yang datang.
Dan aku akhirnya lebih memahami makna “ikhlas” lewat sebotol bensin [].
