Azmi Abubakar (Pengajar Sejarah Islam)
Kita sekarang kembali berada di bulan Rajab, bulan yang dimuliakan oleh Allah SWT. Para ulama menjelaskan bahwa Rajab adalah bulan untuk menahan diri, menahan lidah dari ucapan yang tidak perlu. Rajab adalah bulan persiapan, membersihkan niat sebelum kita memasuki bulan Sya’ban dan Ramadan. Rajab juga mengingatkan kita pada peristiwa besar Isra dan Mikraj Nabi Muhammad SAW. Dalam peristiwa inilah Allah mewajibkan salat lima waktu kepada umat Islam. Salat adalah tiang agama, tempat kita belajar disiplin, tunduk, dan taat. Salat menjadi latihan jiwa agar hidup tertib dan bertanggung jawab. Karena itu Allah berfirman bahwa salat mencegah perbuatan keji dan mungkar.
Di dalam kisah para Nabi, kita diajarkan untuk membaca tanda tanda Allah dalam kehidupan. Kisah Nabi Adam ‘alaihissalam memberikan pelajaran yang sangat halus. Setelah wafatnya Habil, putra beliau, para ulama meriwayatkan bahwa Nabi Adam merasakan perubahan pada alam sekitarnya. Binatang binatang tidak lagi mendekat, tanah menjadi keras dan berdebu, dan buah buahan tidak lagi terasa enak seperti sebelumnya. Diriwayatkan oleh Ibn Abbas dalam Tafsir Imam Qurtubu bahwa Nabi Adam tidak tersenyum dalam waktu yang lama kesedihan itu membuat beliau semakin tunduk dan semakin sadar bahwa dosa manusia membawa dampak yang luas.
Pelajaran dari kisah ini untuk mengajak kita peka. Ketika alam berubah, ketika musibah datang berulang, Islam mengajarkan agar manusia tidak hanya berkata ini takdir, tetapi juga bertanya apa yang perlu kita perbaiki. Allah melarang manusia membuat kerusakan di muka bumi setelah Allah memperbaikinya. Musibah banjir yang menimpa Aceh hari ini hendaknya kita terima dengan muhasabah. Sabar bukan berarti diam tanpa usaha, dan tawakkal bukan berarti menyerah tanpa ikhtiar. Ada tanggung jawab bersama untuk menjaga alam, menegur dengan adab, dan memperbaiki dengan hikmah.
Sejarah peradaban sering kali tidak runtuh oleh satu serangan besar yang datang dari luar, melainkan melemah secara perlahan dari dalam melalui kebiasaan kecil yang berulang. Salah satu kebiasaan paling berbahaya itu adalah kegagalan para pemegang amanah dalam menjaga lidah. Ketidakmampuannya menjaga lisan menjadikan bumerang adanya pengkhianatan. Pada akhirnya melahirkan kebijakan yang terlepas dari kenyataan hidup rakyat.
Andalus sebagai peradaban Islam yang pernah berdiri megah dengan ilmu, adab, dan kebudayaan tinggi, mengalami kemunduran bukan semata karena kekuatan musuh, tetapi karena lidah para penguasanya. Dalam fase kemunduran itu, sejarah mencatat hadirnya Yusuf bin Tasyfin dari Maghrib, seorang pemimpin yang mampu mengemabalikan marwah muslimin Andalus di tanah Eropa. Pada masa yang sama, ulama besar Andalus, Ibnu Abdul Barr dan Ibnu Hazm mewariskan nasihat agar manusia terutama mereka yang diberi amanah agar menjaga lidahnya, karena banyak kerusakan dalam kehidupan bersama bermula dari ucapan yang tidak ditimbang dengan ilmu dan tanggung jawab.
Nasihat ini seharusnya dibaca sebagai prinsip kepemimpinan, di mana lidahnya pemegang kebijakan bukan lagi milik pribadi, ia wujud sebagai bagian dari nasib publik. Kalimat yang dilontarkan ke ruang publik membawa pengaruh tingkat kepercayaan masyarakat kepada negara. Dalam konteks hari ini, kegagalan menjaga lidah tampak dalam pernyataan pernyataan penguasa yang terlalu mudah menjanjikan kepastian kepada publik, di sini lidah justru melangkah lebih cepat daripada kemampuan, dan kata kata yang dimaksudkan untuk menenangkan berubah menjadi sumber kekecewaan.
Mari kita jadikan bulan Rajab ini sebagai waktu untuk memperbaiki salat kita, Salat yang benar seharusnya membentuk kepekaan. Orang yang salatnya terjaga akan mudah tersentuh melihat penderitaan orang lain, akan berat lidahnya untuk berkata yang tidak benar, dan akan takut hatinya untuk berbuat kerusakan.
Inilah bulan untuk kembali memperbaiki akhlak dan hubungan kita dengan alam. Mari kita berusaha menjadi generasi muslih, generasi yang bukan hanya saleh untuk dirinya, tetapi juga berusaha memperbaiki keadaan sekitarnya. Kita berdoa semoga Allah melindungi Aceh dari segala musibah, menguatkan saudara saudara kita yang tertimpa cobaan, dan membimbing para pemimpin agar amanah, jujur, dan takut kepada Allah dalam setiap kebijakan. Semoga Allah menjadikan kita hamba hamba-Nya yang peka, tunduk, dan selalu mau belajar membaca isyarat kehidupan.
