Karang di Lautan Hati

By : Hanaf Abdu

Desau suara basah meniup daun kelapa yang tumbuh tak beraturan. Di antara embusan angin asin pesisir yang tak pernah lelah mendera, Alvan tumbuh dalam pelukan kesepian yang pekat. Bukan karena ketiadaan orang, melainkan karena perpisahan yang berulang. Di usianya yang masih belia, semesta Alvan terbelah. Ayah dan ibu memilih jalan berkelok masing-masing. Sang ibu mengejar pilihan hatinya yang baru, meninggalkan bocah itu dalam asuhan ayah—seorang nelayan tangguh yang terpaksa merangkap peran ganda: menjadi nahkoda pencari nafkah sekaligus pelabuhan kasih yang hampa.

Hari-hari Alvan dijalani dengan ritme alam: sepi saat fajar menyingsing, ketika ayahnya melaut; dan bergantung pada belas kasih tetangga yang sesekali mengawasi dari kejauhan. Kesunyian itu nyata, mengakar kuat dalam senyum manisnya yang sering kali terlihat hampa.

Dua tahun yang panjang, dua tahun yang menikam. Kehidupan dijalani dalam ketiadaan sentuhan kasih seorang ibu. Sang ayah, dalam segala keterbatasannya, hanya mampu menyentuh raga, menelantarkan jiwa Alvan kecil yang terbengkalai tanpa asupan emosional dan cinta. Ia hidup dalam kehampaan, seolah cinta hanyalah fatamorgana di gurun pasir kehidupannya. Keadaan pilu itu justru menempa Alvan tumbuh begitu kuat dan tegar, melebihi karang di lautan.

Buah kesabaran mulai menuai asa, kala semesta mengirimkan secercah cahaya. Hadirlah Mak, sosok wanita sederhana berhati samudra. Ia mengisi kekosongan itu dengan kehangatan tulus, menjahit kembali kain keluarga yang robek. Tawa Alvan mulai terdengar lebih renyah, dan kebahagiaan mereka kian lengkap dengan kehadiran seorang adik laki-laki. Meski hidup dalam kesederhanaan, pendar sukacita terpancar nyata di gubuk kecil mereka. Denyut Ayah lebih bersemangat, sang nelayan bertanggung jawab, memastikan roda kehidupan berputar. Namun, bahagia itu rapuh, sekejapan mata belaka. Allah Maha Berkehendak. Laut yang dulu memberi kehidupan, kini menelan ayahnya dalam tragedi kelam. Dunia Alvan kembali runtuh berkeping-keping.

Di tengah balutan duka, ibu kandungnya muncul, seolah mengeklaim kembali miliknya. Hati Alvan meronta, ingin berlabuh di sisi Mak. Namun, ia kembali tidak disuguhkan pilihan; ia hanya seonggok raga yang terpasung oleh jerat takdir. Mak tak punya hak apa-apa secara hukum. Dengan hati yang remuk, Alvan terpaksa meninggalkan satu-satunya cinta tulus yang baru ia temukan.

Hari-hari di rumah ibu kandung terasa membeku. Alvan, anak kelas 2 SD itu, harus menghadapi tantangan baru, bersaing ketat dengan dua adik tirinya. Dalam dinamika keluarga yang baru ini, ia sering kali merasa disalahkan dan dipaksa untuk mengalah. Kekuatan batin anak seusianya membuatnya bertahan dalam situasi yang sulit ini.

Setahun berlalu, dan kerinduan Alvan pada Mak semakin kuat. Permohonannya untuk kembali didengar. Dengan alasan yang mungkin hanya diketahui oleh sang ibu, ia akhirnya mengantarkan Alvan kembali ke pelukan Mak. Kepulangan Alvan disambut dengan sukacita, meskipun keputusan ini ditentang keras oleh ibu Mak sendiri, yang mengusir Mak karena dianggap menambah beban hidup.

Perjalanan hidup Alvan bersama Mak menjadi semakin sulit. Meskipun berlimpah kasih sayang, kesulitan finansial sangat membebani kehidupan mereka. Mereka hidup dalam kondisi yang serba kekurangan, bahkan pernah hanya makan sehari sekali. Mak, yang bekerja keras sebagai tukang serabutan, sering kali tidak mampu memenuhi kebutuhan sehari-hari untuk jiwa-jiwa yang kini bergantung padanya. Jangankan menabung, untuk menyewa tempat tinggal sederhana saja terasa sangat berat. Beruntung, pemilik tempat tinggal tersebut berbaik hati, memberikan keringanan bagi Mak untuk membayar sewa seadanya.

Di tengah kesulitan hidup, muncul isu-isu tidak sedap yang merusak nama baik Mak. Gosip tentang kedekatan Mak dengan pemilik tempat tinggal menyebar luas, menyebabkan Mak terpaksa membawa Alvan dan adiknya pergi sementara waktu untuk menghindari sorotan. Mak, Alvan, dan adiknya adalah pejuang yang tidak pernah menyerah. Dalam kehidupan yang penuh tantangan, mereka saling menguatkan. Di sela-sela kesibukan bekerja, Mak terus mencari informasi tentang tempat tinggal yang lebih terjangkau. Pencarian itu penuh dengan rasa sakit dan kekecewaan. Mak sering kali harus mendengar perkataan pedas dari ibunya sendiri, yang seolah mencela keputusannya. Puncaknya, Alvan pernah tidak diberi makan seharian karena lupa memberi makan hewan ternak sang nenek. Alvan kecil itu kini harus membantu pekerjaan rumah ibu Mak sebagai ganti makanan dan tempat tinggal.

Di tengah perjuangan yang berat itu, kabar duka kembali datang. Ibu kandung Alvan meninggal dunia karena sakit. Mungkin itulah alasan tersembunyi mengapa sang ibu rela Alvan diasuh oleh Mak. Satu lagi tempat Alvan menaruh harapan kasih sayang harus hilang ditelan takdir. Kini, di dunia yang penuh cobaan ini, hanya tersisa Mak, satu-satunya tempat Alvan bisa menemukan kenyamanan dan kasih sayang.

Satu per satu pergi, menempati ruang abadi. Hakikat kehidupan itu menempa Alvan kecil untuk tidak pernah lelah mengirimkan doanya setiap selesai salat. Doa yang melangit luas, memohon mukjizat di tengah keterbatasan mereka. Ada tabir yang begitu tebal yang tidak mampu manusia tembus dengan logika. Hanya keimanan yang mampu menerjemahkan semua makna itu. Begitu juga dengan rahasia Allah untuk semua kehendak terbaik-Nya bagi Alvan dan Mak.

Dalam kepasrahan dan kepiluan yang teramat sangat, Allah kirimkan berita bahagia menghampiri mereka. Mak mendapatkan sebuah gubuk layak huni dengan harga sewa yang sangat murah, yang bahkan bisa dibayarkan secara dicicil. Sebuah rasa syukur yang beralasan.

Pergulatan hidup Alvan jalani dengan senyuman khasnya. Hampir tidak pernah terlihat Alvan kecil yang murung. Entah terbuat dari apa hati anak itu, sepertinya lebih kuat dari karang di lautan. Mak menjadi perisai satu-satunya, selain Allah, yang membingkai hari-harinya. Keterpaduan dua kekuatan itu diikat begitu kuat oleh kasih sayang dan cinta tulus. Atas alasan itu pula yang membuat mereka bisa meniti hari meski dalam kesakitan.

Alvan kini sudah berusia 12 tahun, tepatnya menduduki kelas 6 sekolah dasar. Sebuah fase yang menuntut Mak untuk memikirkan tentang kelanjutan pendidikan Alvan. Dengan keterbatasan yang dimiliki, sulit baginya untuk bisa menyekolahkan Alvan ke jenjang menengah. Tapi membiarkan Alvan putus sekolah adalah satu hal yang tidak pernah terpikirkan olehnya. Mak ingin Alvan menjadi anak yang cerdas dan berakhlak mulia. Keinginan itu sejalan dengan pikiran Alvan yang pernah tanpa sengaja mengutarakan niatnya untuk masuk pesantren. Tapi kata-kata Alvan itu hanya dianggap angin lalu oleh Mak; dia tahu persis, dalam kondisinya tidak mungkin bisa mewujudkan keinginan setinggi langit itu.

Pagi menyapa, di tengah rutinitas sekolah yang hampa, Alvan duduk sendiri dikursi pojokan kelas. Dia menikmati kesendirian, baginya disisihkan bukanlah penderitaan namun sebuah kenyamanan yang tidak perlu dipertentangkan. Dalam konsentrasi guru yang mengajar, sekelompok orang asing memasuki kelas Alvan, menyosialisasikan penerimaan murid baru bagi Dayah mereka. Yang membuat mata Alvan berbinar, tatkala berita yang disampaikan bahwa di Dayah itu juga diterima jalur khusus bagi anak-anak yang kurang mampu. Berita itu bagaikan siraman air hujan di padang yang tandus.

Brosur itu didekap erat, hati Alvan mengembang memenuhi rongga dadanya. Lonceng pulang berbunyi, dan ia segera berlari secepat angin menuju rumah. Kabar itu disampaikan kepada Mak dengan napas tersengal, penuh harapan dan kebahagiaan. Mimpi itu kini memenuhi isi benak Mak. Secercah harapan itu nyata dihadapannya, namun keraguan masih membayangi. Pikirannya melayang pada pertanyaan logistik yang konkret: Pendidikan dan makan mungkin gratis, tapi bagaimana dengan uang jajan? Pakaian layak? Akankah anak desa miskin sepertinya diterima di lingkungan yang mungkin didominasi orang berada?

Pertanyaan-pertanyaan itu menekan ulu hati Mak, namun ia menepisnya. Ia tidak hendak melenyapkan mimpi suci Alvan.

Udara pagi yang dingin dan basah telah berganti menjadi hangat oleh semburan sinar mentari yang cerah. Minggu pagi itu, mentari seolah ikut merayakan momen penting bagi Alvan, seorang anak dengan mata berbinar penuh harap. Di hadapannya, menjulang sebuah gerbang megah: gerbang Dayah impian yang selama ini memenuhi imajinasinya.

Namun, suasana hati Alvan yang cerah berbanding terbalik dengan perasaan Mak. Dia memegang tangan Alvan dengan erat, cemas, dan ragu. Satu tangannya yang lain menjinjing tas kresek berisi tumpukan persyaratan pendaftaran—berkas-berkas yang terasa seberat langit di matanya.

Dayah itu, dengan sederet prestasi dan prestise, adalah institusi pendidikan terkemuka di daerahnya. Sebuah impian yang terasa terlalu tinggi, terlalu muluk bagi mereka. Mak menatap Alvan penuh haru, ada keinginan kuat untuk berbalik pulang. Hanya binar mata putranyalah yang menahan langkahnya.

Keduanya mematung di sisi gerbang, tenggelam dalam pikiran masing-masing. Keheningan itu pecah oleh klakson mobil yang nyaring. Sebuah mobil melaju masuk, diikuti oleh beberapa mobil dan motor lainnya. Pemandangan itu membawa mereka kembali ke realitas: hari ini adalah jadwal penerimaan murid baru. Antusiasme para pendaftar, terutama mereka yang libur kerja di hari Minggu, sangat terasa. Halaman Dayah yang bersih dan asri itu mulai dipenuhi aktivitas.

            Alvan, penuh tekad, menarik lembut tangan Mak yang masih berdiri kaku. Mak tersentak dan segera mengikuti langkah Alvan. Dalam keraguannya, Mak mencoba membuang segala ketakutan. Dia berpegang teguh pada satu-satunya kekuatan yang membuatnya bertahan hidup hingga kini: berserah penuh pada Rabb-nya. Ia memantapkan hati, meraih mimpi yang terasa sangat tinggi itu, dan memasrahkan segala kehendak pada takdir Ilahi. Mereka pun melangkahkan kaki melewati gerbang megah itu. Semoga ini menjadi gerbang awal menuju babak baru dalam hidup Alvan. Babak yang lebih indah dan bermakna.

Lueng Putu, 15 Desember 2025

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *