Senja di Rimba Terkoyak

Oleh: Hanaf Abdu

Desir angin berhembus pelan, mengusik dedaun hijau yang melambai, sebuah melodi alam yang akrab di telingaku. Aku, si bocah dusun dengan langkah kaki yang terbiasa menapak bumi basah, menyusuri jalan setapak yang menjadi urat nadi kehidupanku menuju sekolah. Di antara akar-akar raksasa yang menjuntai bak tirai alam, pohon-pohon meranti dan ulin menjulang tinggi, menembus kanopi hutan yang tebal, menciptakan kubah hijau nan megah. Hutan ini hidup; ia bernapas melalui lumut yang membalut batang pohon dan embun pagi yang membasahi wajah.

Di atas sana, pesta kehidupan tak pernah usai. Burung-burung bernyanyi menyuarakan kebebasan, bergerak lincah dari satu pokok ke pohon yang lain, berkejaran sambil bercengkerama. Sesekali, lengkingan kera terdengar bersahutan, atau gemerisik dahan yang menandakan kehadiran tupai yang lincah.

Perjalanan menuntut ilmu saban hari adalah sebuah ziarah damai melintasi pesona dunia yang begitu asri. Ini bukan sekadar jalan, ini adalah galeri seni alam. Kadang menuruni lembah yang landai, kadang menyusuri tebing curam yang kokoh, setiap langkah adalah kenikmatan. Aroma tanah basah bercampur wangi bunga hutan adalah parfum termahal di dunia.

Di ujung jalan, pesona berubah rupa menjadi hamparan petak-petak sawah yang terstruktur rapi, cermin dari kerja keras para petani. Apalagi kala menguning, sawah-sawah itu tampak seperti permadani emas yang berkilauan diterpa matahari pagi. Di sisinya, mengalir sungai yang jernih, di dalamnya dipenuhi ikan-ikan kecil yang berlarian gesit ke sana kemari, mencerminkan birunya langit. Airnya segar, sumber kehidupan bagi kami dan sawah-sawah itu.

Aku dan beberapa sahabat kecilku yang mendiami bukit indah ini terus menikmati hidup yang begitu damai dan bersahaja. Kami tidak mengenal kemewahan kota, tetapi kami kaya. Kami kaya akan udara bersih, air jernih, dan ketenangan jiwa yang tak ternilai harganya. Di desa kami, waktu bergerak lambat, seirama dengan siklus alam. Kami hidup berdampingan dengan hutan, menghormatinya sebagai ibu yang memberi makan, minum, dan naungan. Kami kira kedamaian itu abadi, sebuah janji yang terukir di setiap batang dan dahan.

Namun, kenangan indah itu kini terasa hampa. Di usia senjaku, ketika rambut telah memutih dan langkah mulai gontai, bayang-bayang masa lalu itu hanya sebatas mimpi buruk yang mengusik tidur. Bahkan inginku—di penghujung usia—untuk sekadar bercengkerama bersama burung-burung sambil menikmati suara gemerisik daun, kini hanya tinggal angan. Kulit keriputku kini disengat oleh debu panas yang dihempaskan oleh angin kering. Setiap napas terasa berat dan berpasir, diiringi raungan brutal mesin-mesin diesel yang memuntahkan asap pekat, mengangkut pohon-pohon besar yang ditumbangkan tanpa hati.

Aku kini menjadi saksi bisu, dengan mata kepala sendiri, betapa alamku telah musnah dimamah oleh keserakahan yang tak terganti. Transformasi itu terjadi begitu cepat, dalam rentang waktu yang terasa sekejap mata. Batang-batang raksasa itu lenyap, bukan karena usia, tetapi oleh gergaji mesin yang menderu tanpa ampun, memekakkan telinga dan melukai sunyi. Bukit-bukit yang dulu hijau membiru kini tersisa tanah merah kering yang retak, seperti luka menganga di tubuh bumi, atau digantikan oleh monokultur kebun sawit, barisan hijau yang hampa makna. Beberapa area dibiarkan terbengkalai begitu saja, menjadi lahan tidur yang merana, diselimuti ilalang dan keputusasaan.

Keheningan mencengkeram. Tidak lagi terdengar nyanyian indah burung di pagi hari. Hutan telah kehilangan suaranya. Yang tersisa hanyalah kesunyian, desisan tunggul pohon yang membusuk dan lolongan angin dingin melintasi hampa. Tidak juga terlihat bekas derap gagah satwa liar, apalagi mendengar auman harimau yang dulu menjadi penjaga rimba—semua lenyap musnah, diusir oleh eksploitasi yang membabi buta.

Hutan kami, paru-paru bumi nanggroe ini, binasa oleh kerakusan yang tragis. Yang lebih menyakitkan, semua tindakan perusakan itu dilegalkan. Jabatan dan kekuasaan dijadikan alasan, stempel birokrasi menjadi pembenaran untuk memuluskan keserakahan. Demi pundi-pundi kekayaan pribadi yang tak pernah cukup, makhluk lain dikorbankan, ekosistem dihancurkan, dan kedamaian dipertaruhkan. Kehidupan manusia itu sendiri, pada akhirnya, menjadi ancaman. Ketika kemarau datang, tanah menjadi kering kerontang karena tidak ada lagi hutan yang berfungsi sebagai spons alami untuk menyimpan cadangan air. Ketika hujan tiba, tidak ada akar pohon yang menahan laju air, menyebabkan bencana.

Bencana itu kini nyata. Banjir bandang dan tanah longsor melanda di beberapa wilayah nanggroe. Hati ini hanya bisa menjerit, mengumpat kerakusan yang sistematis. Dari pemberi izin yang duduk di kursi empuk hingga mereka yang mengoperasikan alat berat di lapangan. Mereka menumpuk uang dengan serakah. Mereka menimbun mayat. Di bawah kekayaan itu, terkubur nyawa-nyawa tak berdosa.

Lumpur tebal itu bukan lumpur biasa. Ia adalah dendam bumi, yang kini memeluk paksa semua sisa kehidupan kami, menimbun harta benda dan harapan di bawah selimut kematian. Begitu kejam mereka yang tidak punya hati nurani. Mereka menjual masa depan kami, anak cucu kami, demi lembaran rupiah yang semata.

Kerakusan ini tentang hilangnya akal sehat dan hilangnya rasa kemanusiaan. Mereka lupa bahwa manusia adalah bagian dari alam, bukan pemiliknya. Mereka lupa bahwa tanpa hutan yang sehat, sungai yang jernih, dan udara yang bersih, uang sebanyak apa pun tidak akan bisa membeli napas kehidupan.

Kini, di penghujung usiaku, yang tersisa hanyalah keprihatinan mendalam dan harapan yang kian menipis. Cerita tentang hutan yang hijau, sawah yang menguning, dan sungai yang penuh ikan, hanya menjadi dongeng pengantar tidur bagi cucu-cucuku. Dongeng tentang surga dunia yang pernah ada, sebelum keserakahan menelannya bulat-bulat.

Aku kini hanya bayang-bayang dari ketidakberdayaan, mimpi kehancuran yang menyakitkan. Seonggok dunia tua yang rindu akan alamnya yang dulu asri, yang memberikan keindahan hakiki. Aku kadang menjelma jeritan panjang orang yang terzalimi, pada mereka yang memberi izin, pada mereka yang telah menebang tanpa belas kasihan. Dendamku pada mereka yang memburu keuntungan dari kerusakan alam, yang tidak menggubris konsekuensi fatal yang harus ditanggung oleh mereka yang tidak berdosa.

Usiaku kian senja, sedetik lagi akan lenyap seiring hembusan napas alam yang tersendat. Aku tidak mampu mempertahankan gerak nadiku, sebagaimana nadi hutan yang diterbangkan oleh keangkaramurkaan. Hutan adalah kehidupanku, kehidupanmu, kehidupan anak cucu. Kegagalan ini telah membuatku murka bersama murka alam yang akan terus menghantui, hingga bumi yang gersang dan tercabik. Musnah hilang tak tersisa.

Lueng Putu, 9 Desember 2025

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *