MENGUJI KETULUSAN CALON ISTERI DAN IBU MERTUA

Sebuah Cerpen oleh Syauqi, M.Pd (Guru MTs)

Kisah ini bermula seorang pemuda yang dikenal sebagai pengusaha sukses diam-diam menyamar menjadi pelayan di restorannya sendiri. Ia ingin menguji apakah calon istrinya dan ibu mertuanya benar-benar mencintainya atau hanya menginginkan hartanya. Namun saat mereka datang dan melihatnya dalam seragam pelayan, reaksi yang terjadi begitu kejam hingga membuat seluruh restoran terdiam. Dan di sinilah rahasia besar itu akhirnya terungkap.

Restoran mewah “Permata Sepuluh” sedang berada di puncak kesibukan. Para pelayan mondar-mandir membawa piring-piring yang mengepulkan uap untuk disajikan kepada para pelanggan. Di tengah keramaian itu, seorang pria muda dengan seragam hitam dan celemek rapi melangkah cepat di antara deretan meja. Sesekali tersenyum sopan kepada para pelanggan. Gerakannya lincah. Seolah ia sudah lama terbiasa dengan pekerjaan ini.

Pintu kaca besar berderik pelan. Ia menoleh sekilas lalu terdiam sejenak. Dua wanita masuk dengan penuh percaya diri dari arah pintu. Satu muda dengan riasan sempurna, sedangkan satunya lagi berusia paruh baya dengan pakaian mahal yang berkelas. Wanita yang lebih muda, bernama Santi, memegang lengan ibunya sambil tersenyum lebar menuju meja dekat jendela.

Pelayan muda itu merasakan detak jantungnya bertambah cepat. Ia segera menunduk mencoba mengatur napas. Namun ia tahu harus mendekat untuk melayani mereka meski hatinya belum siap. Dengan langkah terukur, ia mendekati meja tersebut sambil membawa buku catatan kecil dan pena di tangannya

“Selamat siang. Ada yang bisa saya bantu?” Suaranya terdengar ramah seperti pelayan profesional lainnya sambil membawa buku catatan kecil dan pena.

Santi menatapnya sebentar, lalu ia mengerutkan alis. Seketika ekspresi Santi berubah. Matanya melebar, mulutnya sedikit terbuka, namun Pelayan muda itu tetap berdiri tegak, menunggu mereka menyebutkan pesanan. Tatapan Santi semakin tajam.

“Astaga, kamu jadi pelayan sekarang?” Suaranya meninggi tanpa menyebutkan “Abang” kepada pelayan tersebut.

“Saya kira kamu sibuk mengurus bisnis besar, ternyata kerjaannya cuma menyuci piring dan mengelap meja,” Ucapnya laksana cambuk yang dihempaskan di depan umum.

“Pantas saja kamu jarang mengajak saya makan di tempat mahal. Uangnya ternyata habis buat sewa kamar kos dan beli deterjen buat seragam ini, ya?” Sambung Santi sambil melirik dari ujung kepala sampai kaki.

Pelayan itu akhirnya berbalik meninggalkan Santi dan ibunya melangkah pergi menuju dapur tanpa mengucapkan sepatah katapun. Hingga beberapa saat kemudian pelayan itu kembali dari dapur dengan membawa minuman di atas nampan perak. Langkahnya mantap. Begitu ia sampai di meja, Santi langsung menatapnya dengan senyum tipis penuh ejekan.

“Wah, cepat juga. Rupanya kalau untuk bos-bos di sini kamu bisa lincah, ya!” Katanya dengan nada meremehkan seolah ia sedang berbicara kepada pembantu di rumah.

“Santi, lihat tangannya kasar sekali. Sangat pantas untuk kerjaan mengangkat piring kotor. Ibu benar-benar tidak mengerti kenapa kamu mau berhubungan sama orang seperti ini. Dia itu bukan level kita”. Lontar ibunya dengan cukup keras. Hingga pengunjung di meja sebelah menoleh.

Pelayan itu tetap berdiri tenang, meletakkan minuman dengan hati-hati.

“Kamu tahu enggak? Semua rencana liburan, semua omongan soal beli rumah itu ternyata cuma mimpi. Nyatanya kamu di sini hanya menghapus noda saus di meja orang lain”. Katanya sambil mengangkat gelas minuman, lalu mengaduknya pelan sambil menatapnya seperti predator yang sedang bermain-main dengan mangsanya.

Seorang pelayan lain lewat dan melirik khawatir. Tapi sang pelayan muda itu hanya mengangguk singkat, memastikan rekan kerjanya tidak ikut campur. Namun, Santi belum selesai.

“Tapi mungkin kamu memang cocok di sini. Karena inilah batas kemampuanmu. saya duduk di sini pakai gaun mahal, makan di restoran mewah, dan kamu bahkan harus menghidangkan makanan untuk saya”. Kata Santi sambil mengekeh pelan.

Pelayan itu menghela napas pelan, menatap mereka sejenak. Matanya tidak menunjukkan kemarahan, lalu ia menulis pesanan makanan utama lalu berkata singkat.

“Baik, pesanan segera saya antar.” Katanya dan berbalik serta melangkah menuju dapur.

Pesanan makanan Santi dan ibunya akhirnya siap. Pelayan muda itu keluar dari dapur membawa nampan besar berisi pesanan mereka berdua. Aroma harum memenuhi meja, tapi bukannya senyum yang ia terima, justru tatapan meremehkan.

“Eh, hati-hati dong. Ini bukan piring warung nasi emperan. Ini mahal. Enggak cocok dipegang tangan yang bau bawang”. Kata Santi lantang

“Ibu sudah bilang dari awal dia itu cuma modal pura-pura kaya. Padahal sendalpun mungkin beli di pasar malam. Dan lihat gaya bicaranya terlalu sopan, terlalu merendah. Itu gaya orang yang tahu dirinya kecil”. Timpal ibunya tidak kalah kejam

“Kamu yakin ini bersih atau kamu cuci pakai air bekas cucian piring tadi?” katanya sambil tersenyum miring berpura-pura mengamati kebersihan gelas minumannya.

Pelayan itu menatapnya sebentar lalu hanya menjawab singkat.

“Bersih, Nona.” Kata pelayan dengan nada yang tenang dan itu justru membuat Santi semakin kesal.

“Saya tidak mengerti kenapa saya buang waktu dua tahun bersama kamu. Harusnya dari awal saya mendengar kata mama. Laki-laki tanpa uang itu sama saja seperti kursi patah. tidak ada gunanya dan bikin malu kalau dilihat orang”. Lanjut Santi dengan nada meninggi.

Pelayan itu hanya bisa menghela napas pelan lalu berkata,

“Kalau sudah tidak ada tambahan pesanan, saya permisi.” Katanya sopan sambil membungkuk hormat

“Ya, pergilah. Lebih baik kamu di dapur, cuci piring dari pada merusak selera makan kami”. Kata Santi sambil mengibaskan tangan seolah mengusirnya seperti lalat.

Sang pelayan muda berbalik dan melangkah pergi. Baru saja melangkah masuk ke dapur. Manager restoran, pria berjas abu-abu dengan dasi hitam bergegas menghampirinya.

“Tuan, tamu di meja jendela itu sudah membuat keributan. Bagaimana kalau saya usir saja!” Bisiknya dengan nada khawatir.

Pelayan itu hanya tersenyum tipis dan menggeleng.

“Tidak usah, waktu yang tepat sudah datang.” Jawabnya pelan.

Ia kemudian melepaskan celemeknya, melipatnya dengan rapi, dan menyerahkannya ke salah satu pelayan lain. Semua staf di dapur terdiam, seolah menunggu perintah.

Dengan langkah mantap, ia keluar dari pintu dapur tanpa seragam, hanya mengenakan kemeja putih elegan dengan jam tangan mewah yang tadi tersembunyi di balik lengan seragamnya. Begitu ia muncul di area makan, para karyawan restoran yang melihatnya langsung berdiri tegak.

“Selamat siang, Tuan.” Ucap mereka hampir serempak, membungkuk hormat.

Santi dan ibunya terdiam, menatapnya dengan ekspresi bingung. Santi sempat mengerutkan kening.

“Tunggu…! Apa yang sedang terjadi?” Tanyanya ragu.

Pria itu berjalan perlahan menuju meja mereka lalu berhenti tepat di depan kursi Santi.

“Maaf, saya lupa memperkenalkan diri hari ini, Nama saya Thariq, pemilik restoran ini”.

Katanya tenang.

Santi langsung membeku. Bibirnya terbuka, tapi tak ada suara yang keluar. Ibunya menegang dengan wajahnya yang pucat.

“Dua minggu terakhir saya sengaja bekerja sebagai pelayan di sini untuk melihat bagaimana calon istri dan calon mertua saya bersikap jika suatu hari saya kehilangan segalanya.” Lanjut Thariq dengan suara tenang.

Mendengar hal tersebut, Santi sempat menelan ludah lalu mencoba tersenyum gugup.

“Abang Thariq, itu tadi cuma bercanda. Kamu tahukan saya tidak serius?” Kata Santi sambil mencoba tersenyum

“Oh, saya tahu kalian serius. Kalian telah menunjukkan siapa diri kalian yang sebenarnya dan terima kasih. Sekarang saya tidak perlu membuang waktu lagi”. Jawab Thariq tanpa mengubah ekspresinya.

“Tolong pastikan mereka tidak membayar apapun hari ini. Anggap saja hadiah perpisahan”. Kata Thariq kepada menejer restoran yang berdiri di sampingnya dengan suara datar tapi menusuk dalam.

Setelah itu, Thariq berbalik meninggalkan mereka yang kini duduk terpaku di meja. Santi berdiri tergesa. Kursinya bergeser dengan suara nyaring.

“Abang Thariq, tunggu!”. Panggilnya panik sambil meraih lengan pria itu.

“Abang Thariq, saya minta maaf. Saya tidak bermaksud ngomong seperti tadi. Saya cuma kaget melihat abang jadi pelayan”. Saya pikir ….!” suaranya terhenti ketika Thariq menoleh perlahan menatapnya seperti orang asing.

Sang ibu juga bangkit dari kursinya mencoba tersenyum seolah tidak pernah ada kata-kata kasar yang keluar dari mulutnya.

“Nak Thariq, Mama cuma khawatir sama masa depan Santi. Mama tidak tahu kalau kamu sebenarnya pemilik restoran ini. Kalau dari awal mama tahu….!” Ucapan ibunya terhenti saat Thariq mengangkat tangan dan memotong ucapan itu

“Karena tidak tahu, kalian telah menunjukkan siapa diri kalian yang asli. Kalau suatu hari saya benar-benar jatuh, apakah kalian akan tetap ada di samping saya atau akan meninggalkan saya seperti tadi?”

“Saya berjanji tidak akan seperti itu lagi. Saya tadi cuma panik. Kita bisa mulai dari awal, kan?” Ujar Santi memohon.

Tapi tatapan Thariq tetap dingin.

“Santi, Saya ingin pasangan yang mencintai saya, bukan pekerjaan saya, bukan harta saya. Kalau saya harus menguji itu dengan pura-pura miskin dan jawabannya adalah penghinaan, berarti kita memang tidak cocok”” ucapnya pelan, namun jelas terdengar.

“Jadi ini artinya kita selesai”. Ucapnya tenang sambil merapikan kemejanya lalu menatap mereka untuk terakhir kalinya.

Thariq melangkah keluar dari pintu restoran. Sementara di belakang pintu kaca restoran memantulkan bayangan Santi yang masih berdiri kaku. Beberapa karyawan yang tadi menyaksikan kejadian itu menatapnya dengan kagum.

“Tuan, Anda tidak apa-apa?” tanya salah satu pelayan muda.

“Saya baik-baik saja. Kadang kita harus kehilangan sesuatu untuk tahu apa yang pantas kita pertahankan”. Jawab Thariq tersenyum tipis

Thariq melangkah menuju mobil hitam mewah yang terparkir di depan. Supirnya segera membukakan pintu. Sebelum masuk ke mobil, ia menoleh sebentar ke arah restoran. Bayangan Santi masih terlihat di balik kaca. Namun kali ini Thariq tidak lagi melihat kekasih. Hanya seorang asing yang pernah ia kenal. Jalan yang ia pilih mungkin sepi tapi penuh harga diri. Thariq bukanlah sebagai pria yang kehilangan cinta, tapi sebagai pria yang menyelamatkan dirinya dari cinta yang salah. Cinta tanpa ketulusan itu sama saja racun.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *