Resonansi

Sebuah Puisi oleh Thasoedi (Guru MTs)

Apakah engkau tak melihat api di tribun ini, yang berkobar karena seorang sopir miskin tertindas baja besi?
Apakah engkau tuli pada teriakan rakyat yang lapar, ketika parlemen meneguk anggur dari gelas emas di kursi tinggi?
Bukankah sejarah pernah mencatat, di Tunisia seorang pedagang kecil bakar diri lalu mengguncang negeri?
Apakah engkau lupa, di Paris abad ke-18, roti yang tak kunjung turun memicu kepala bangsawan terpisah dari tubuhnya?

Oh Nusantara, stadionmu bergetar seperti Lapangan Tiananmen ketika tank melintas di antara mahasiswa,
penonton marah bukan karena kalah, tetapi karena wasit pura-pura buta,
kartu merah disembunyikan, teriakan “fair play” dianggap angin lalu,
dan darah di rumput hijau dianggap sekadar noda yang bisa disiram hujan.

Dari bangku cadangan, militer menunggu aba-aba masuk,
sepatu larsnya berkilau, siap merebut bola dari kaki sipil,
mereka berkata: “Biarkan kami bermain, karena kalian hanya tahu membuat rusuh.”
Bukankah dulu di Chile, Pinochet juga masuk ke lapangan demokrasi dengan helikopter dan meriam?
Bukankah Mesir pernah bergemuruh, lalu Jenderal menggulung revolusi ke dalam tenda gelap?

Oposisi tersenyum samar di tribun bayangan,
menunggu penjaga gawang elit salah tangkap bola,
mereka menepuk bahu rakyat: “Soraklah lebih keras,
kami yang akan angkat piala jika kaptenmu tumbang.”

Ah, betapa familiar, seperti 1998 di stadion yang sama,
ketika rakyat berlari di lapangan, dan kursi presiden jadi trofi rebutan.

Malam-malam Jakarta kini seperti Buenos Aires di era krisis,
ketika dapur rakyat kosong dan tembok kota penuh grafiti perlawanan,
ekonomi bergetar seperti tiang gawang rapuh diterpa angin,
dan setiap suara klakson motor bisa jadi aba-aba kerusuhan baru.

Oh Nusantara, engkau bukan hanya pertandingan sepak bola,
engkau adalah teater sejarah, tempat darah, air mata, dan sorak bersatu,
engkau adalah stadion raksasa di mana rakyat menjadi penonton sekaligus pemain,
dan skor akhir belum tertulis di papan digital, karena pertandingan masih terbuka.

Maka tanyaku—dengan suara lantang di atas mikrofon retak tribun—
Apakah awal September akan jadi babak tambahan menuju kemenangan rakyat?
Ataukah hanya jeda sejenak,
sebelum peluit panjang dibunyikan oleh tangan besi,
dan sejarah mencatat kita kalah di kandang sendiri?

DJA/Agustus/2025

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *