Oleh: Muhammad Nizarullah
Aku sudah lama tak dikunjungi sesiapa
Bahkan kucing tetangga pun
lebih memilih halaman sebelah
yang ada ikannya
Saat jatuh kemarin
hanya aspal yang menyambutku
dalam pelukan hangatnya
dan bekas luka di lutut
masih setia mengingatkan
bahwa aku masih hidup
Segala lelah sudah dapati hari
seperti semut yang kehilangan koloni
Membawa beban yang lebih besar
dari tubuhnya sendiri
Bukan karena hobi
tapi karena perut
tidak paham puisi
Apa kau dengar dengusku?
Rima batinku?
Seperti kipas angin tua
yang berputar pelan
tapi tak pernah berhenti
karena takut mati
Hidup ini seperti kopi pahit
lama-lama mencandui rasa
Ampas membuat rasa jadi impas
aromanya melantun dalam irama
Aku baru sadar
Sepi ternyata teman yang berbagi
dia tidak pernah menghakimi
tidak pernah membenci
hanya duduk di sampingku
mendengarkan detak bait
yang tak sempat kugamit
Hanya malam bisa merasa
bagaimana kesendirian
datang pelan-pelan
Tidak seperti siang
yang datang tergesa-gesa
membawa terik, peluh diseka
Tak perlu kuprosakan skema sedihku
kisah kasihku
Aku hanya tak mau
inginku hanya sebatas angan
Biarkan saja ia bergumul
dalam dekapan penasaran
Apa yang kau pikirkan tentangku?
Aku hanya orang awam
yang memikirkan
mau makan apa nanti malam
Tak lagi berharap
pada telinga yang tuli pada isak
Tugasku sekarang hanya bertahan
pada bayangan yang tak berarak
sunyi dalam ruang suwung tanpa raung.
Lueng putu, 16 Agustus 2025
