Oleh: Muhammad Fachrizal (Guru Dayah Cot Trueng)
Sejak dahulu manusia dikenal sebagai makhluk yang tidak pernah puas dengan keadaan maupun dengan materi yang telah ia dapat. Kita selalu mencari yang lebih baik, lebih indah, lebih tinggi, dan lebih sempurna. Seolah-olah hidup hanyalah sebuah perlombaan tanpa garis akhir. Dalam dunia modern, obsesi terhadap kesempurnaan itu semakin nyata, kita ingin tubuh ideal, pencapaian yang luar biasa, penghasilan tinggi, bahkan wajah yang selalu tampak hebat didepan kamera. Namun, bila dicermati lebih dalam, adakah manusia benar-benar sempurna? Atau, mungkinkah kesempurnaan itu memang bukan sesuatu yang bisa kita miliki?
Nah! mari kita bahas kesempurnaan dalam sudut pandang manusia, yang sebenarnya hanyalah ilusi. Kita menganggap hidup akan bahagia bila semua berjalan mulus, tidak ada kekurangan, tidak ada kegagalan, tidak ada cela. Padahal, setiap lapisan hidup manusia selalu menyimpan sisi kurangnya masing-masing.
Orang yang kaya bisa saja kekurangan kasih sayang, yang terkenal mungkin kehilangan ketenangan, dan yang tampak sehat bisa menyimpan luka batin mendalam. Jika kita terjebak dalam obsesi mengejar kesempurnaan, yang hadir bukanlah kebahagiaan, melainkan kelelahan. Kita terus membandingkan diri dengan orang lain, merasa iri, minder, atau bahkan putus asa. Inilah jebakan besar yg membuat manusia kehilangan arah, sibuk berlari mengejar sesuatu yang sejatinya tidak pernah bisa ia raih.
Lantas apa kesempurnaan itu, dan siapa yang berhak menyandangnya. Kesempurnaan itu sendiri adalah sifat Tuhan,hanya Dia yang Maha Tanpa Cela, Maha Lengkap, Maha Sempurna. Menyadari hal ini justru membuat manusia tenang, karena kita tidak lagi dituntut untuk menjadi sesuatu yang mustahil. Cukuplah menjadi manusia dengan segenap keterbatasan, yang berusaha dan berbuat baik sesuai kemampuan.
Terlepas dari itu semua, manusia pasti akan mencari kepuasan dengan konsep mereka sendiri, walau kesempurnaan tidak menampakkan perannya. Maka, disinilah letak pentingnya syukur. Bersyukur bukan berarti pasrah tanpa usaha, bukan pula berarti berhenti bercita-cita. Syukur adalah kesadaran hati untuk menerima dan menghargai apa yang sudah kita miliki, sambil tetap berusaha memperbaiki diri.
Orang yang pandai bersyukur akan mampu melihat kebaikan di balik kekurangan. Ia tidak mudah iri dengan orang lain, karena hatinya penuh dengan penghargaan atas anugrah yang sudah dimiliki. Syukur juga membuat manusia lebih ringan menjalani hidup, sebab ia tidak terbebani oleh standar palsu yang dipaksakan oleh dunia luar.
Misalnya, seorang mahasiswa yang mensyukuri kemampuannya bisa kuliah meski dengan biaya pas-pasan akan menjalani hari-harinya dengan lebih semangat. Ia tidak sibuk meratapi kekurangannya, melainkan menggunakan tenaganya untuk belajar dengan sungguh-sungguh. Atau seorang ibu rumah tangga yang mensyukuri keberadaan keluarganya, meskipun hidup sederhana, akan lebih mudah merasakan kebahagiaan daripada orang kaya yang selalu merasa kekurangan, kepuasan Sejati bukan pada Apa yang Kita Miliki, Melainkan pada Cara Kita Memandang.
Bahkan bila kita menyelam lebih jauh, rasa puas bukan berasal dari banyaknya harta, tinggi jabatan, atau gemerlap dunia. Kepuasan lahir dari hati yang tenang dan ikhlas. Dan hati yang tenang itu tumbuh dari rasa syukur. Dengan bersyukur, kita belajar menghargai hal hal sederhana, udara segar di pagi hari, kesehatan yang kadang kita abaikan, tawa kecil bersama keluarga, atau bahkan kesempatan untuk hidup hari ini.
Bersyukur juga membuat kita lebih dekat dengan Tuhan. Sebab, ketika kita mengucap syukur, sesungguhnya kita sedang mengakui bahwa semua yang kita miliki hanyalah titipannya. Dari pengakuan itu lahirlah kerendahan hati, kesabaran, dan kebahagiaan yang tidak bisa dibeli oleh apapun.
Maka dari itu manusia tidak perlu menguras hidup untuk mengejar kesempurnaan yang mustahil, lebih baik kita melatih hati agar terbiasa bersyukur, karena disitulah letak kepuasan sejati, berupa ketenangan batin yang tidak bisa digoyahkan oleh perbandingan, kompetisi, atau kekurangan.
Kesempurnaan adalah milik Tuhan, sementara kebahagiaan adalah hak manusia yang mau bersyukur. Maka, berhentilah sejenak dari perlombaan yang melelahkan, tarik napas, dan lihat sekelilingmu, ada begitu banyak hal yang patut disyukuri. Itulah yang sesungguhnya menjadikan hidup kita sempurna bukan tanpa cela, melainkan penuh makna.
Sebagai pesan terakhir; Jangan terjebak dalam obsesi mengejar kesempurnaan, sebab ia hanya milik Tuhan. Namun, belajarlah bersyukur, karena di sanalah letak kepuasan yang sejati.[]
