Oleh Azmi Abubakar, Lc, M.H
Dalam Sejarah keacehan, Meunasah tidak hanya menjadi tempat salat, tetapi juga merupakan pusat kegiatan keagamaan dan sosial yang memiliki peran penting dalam memperkuat spiritualitas masyarakat. Sejak dulu pula, Meunasah telah menjadi pusat pembelajaran agama dan tempat berkumpulnya masyarakat untuk mengaji, berdiskusi tentang ilmu agama, serta melakukan berbagai ibadah bersama. Dalam setiap kampung di Aceh, Meunasah menjadi tempat di mana anak-anak belajar Al-Qur’an, orang dewasa memperdalam pemahaman agama, dan seluruh masyarakat berkumpul untuk menjalankan ibadah secara berjamaah. Potret tentang meunasah ini juga diabadikan dalam berbagai literatur Sejarah Aceh termasuk bukunya orientalis Belanda, Snouck Hurgronje, Aceh di Mata Kolonialis.
Dalam konteks sekarang mengadakan kegiatan-kegiatan keagamaan seperti salat tarawih berjamaah, pengajian, atau tadarus Al-Qur’an di Meunasah merupakan usaha mulia dalam merawat peran Meunasah. Kegiatan seperti ini tidak hanya akan menguatkan spiritualitas tetapi juga mempererat ukhuwah Islamiyah antar masyarakat. Rasulullah SAW bersabda sebagaimana yang diriwayatkan oleh Imam Muslim yang artinya, “Perumpamaan orang-orang mukmin dalam sikap saling mencintai, mengasihi dan menyayangi, seumpama tubuh, jika satu anggota tubuh sakit maka anggota tubuh yang lain akan susah tidur atau merasakan demam.”
Bagaimanapun, keberadaan Meunasah telah dapat menciptakan ruang bagi masyarakat untuk saling berbagi dan belajar bersama, serta memperdalam pemahaman agama. Tantangannya di era digital ini, banyak yang lebih memilih beribadah secara pribadi di rumah. Atau pun tantangan di mana generasi muda yang mungkin terjebak antara mempertahankan tradisi dan mengejar kehidupan modern yang cenderung serba cepat dan praktis.
Dari sini Pemuda dapat menjadi motor penggerak dalam menghidupkan kembali semangat berjamaah di Meunasah. Di sisi lain, kauum muda bisa memanfaatkan teknologi digital untuk mengadakan kajian agama. Dengan cara ini, Meunasah akan kembali menjadi pusat keagamaan yang aktif dan memberikan dampak positif bagi masyarakat. Hadirnya program almarhum Ayah Sop Jeunieb melalui Training Kader Dakwah (TKD) HUDA dalam rangka menguatkan akidah Ahlus Sunnah wal Jamaah bagi pemuda-pemuda di kampung mesti terus dijaga dan didukung semua pihak.
Program TKD HUDA turut menjaga dan merawat peran Meunasah dalam kontek modern guna mentransfer keilmuwan terutama ilmu Fardhu Ain di tengah masyarakat melalui training yang dikemas secara bernas. Menarik untuk dilihat kepada catatan Snouck Hurgronje memberikan gambaran mendalam tentang peran Meunasah dalam kehidupan masyarakat Aceh pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20. Meskipun pandangannya dipengaruhi oleh konteks kolonial, catatannya tetap menjadi sumber penting untuk memahami sejarah dan budaya Aceh. Dalam catatannya, Snouck Hurgronje merekam berbagai nama untuk Meunasah, Meulasah, Beulasah, para ahli mengatakan bahwa asal kata meunasah berasal dari “Madrasah”( S. Hurgronje, 1985).
Disamping mengajarkan al-Qur’an, sebagian teungku imum dulunya juga mengajarkan kitab-kitab Arab-Jawi (kitab berbahasa Melayu dengan aksara Arab). Untuk tingkat pemula diajarkan seperti kitab Masailal Muhtadi (memakai sistem tanya jawab, yang dimulai dari masalah tauhid, hukum yang terkait masalah ibadah seperti salat dan puasa). Selanjutnya diajarkan pula kitab-kitab yang lebih tinggi, seperti kitab Bidayah, Sabilal Muhtadin, Kitab lapan, dan kitab muktabar lainnya. Bagi yang sudah pandai membaca kitab-kitab tersebut biasanya akan disebut malem Jawo. Kita bersyukur hingga saat ini dengan hadirnya pengajian yang dikemas dalam pengajian tastafi di berbagai Meunasah di Aceh dalam rangka menjadikan Meunasah menjadi pusat keilmuwan di tengah masyarakat. Terakhir mari kita jadikan Meunasah sebagai tempat untuk memperbaharui semangat keagamaan kita, mempererat hubungan antar sesama dan bersama-sama membangun kekuatan spiritual. Dengan kembali ke Meunasah, kita tidak hanya menjaga tradisi, tetapi juga menjaga kekuatan spiritual yang pada puncaknya dalam rangka meraih derajat ketaqwaan di sisi Allah SWT, Amin ya Rabbal Alamin.
