Oleh: Azmi Abubakar
Setelah selesainya bulan Ramadhan, kita mesti terus melakukan ibadah dengan penuh istiqamah. Terutama menghidupkan malam (Ihyaul lail) seperti salat tahajud, membaca Al-Qur’an dan beristighfar. Amalan tersebut merupakan ibadah yang telah biasa dilakukan di bulan Ramadhan. Oleh karenanya amalan ini mesti terus dilakukan dengan istiqamah dan bersungguh-sungguh.
Dalam suasana Idul Fitri ini, mari kita merenung sejenak tentang pentingnya istiqamah dalam beribadah. Allah SWT berfirman dalam Al-Quran Surah Al-Baqarah ayat 153:
فَٱسْتَقِمْ كَمَآ أُمِرْتَ وَمَن تَابَ مَعَكَ وَلَا تَطْغَوْا۟ ۚ إِنَّهُۥ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ
Artinya, “Maka tetaplah kamu pada jalan yang benar, sebagaimana diperintahkan kepadamu dan (juga) orang yang telah tobat beserta kamu dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Dia Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.” Imam Ath-Thabari dalam tafsirnya jilid XV, halaman 500 menjelaskan tentang ayat ini:
يَقُولُ تَعَالَى ذِكْرَهُ لِنَبِيِّهِ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: فَاسْتَقِمْ أَنْتَ، يَا مُحَمَّدُ، عَلَى أَمْرِ رَبِّكَ، وَالدِّينِ الَّذِي ابْتَعَثَكَ بِهِ، وَالدُّعَاءِ إِلَيْهِ، كَمَا أَمَرَكَ رَبُّكَ
Artinya, “Allah Ta‘ala berfirman kepada Nabi-Nya, Muhammad SAW, ‘Berpegang teguhlah, wahai Muhammad, pada perintah Tuhanmu, pada agama yang telah mengutusmu, dan serulah (manusia) kepada jalan yang lurus, sebagaimana yang diperintahkan oleh Tuhanmu.’”
Islam mengajarkan bahwa ibadah itu tidak berhenti hanya karena satu musim berakhir. Justru, setelah satu musim ibadah selesai, Allah buka musim yang lain. Orang beriman harus terus mengisinya dengan amal kebaikan.
Ibadah itu tidak ada akhirnya, kecuali ketika kematian datang. Sebagaimana firman Allah dalam Surah Al-Hijr ayat 99:
وَاعْبُدْ رَبَّكَ حَتّٰى يَأْتِيَكَ الْيَقِيْنُ
Artinya: “Beribadahlah kepada Tuhanmu hingga datang kepadamu kepastian (kematian).”
Imam Ath-Thabari dalam tafsirnya menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan al-yaqīn dalam ayat ini adalah kematian:
وَاعْبُدْ رَبَّكَ حَتَّى يَأْتِيَكَ اَلْمَوْتُ، الَّذِي هُوَ مُوقِنٌ بِهِ
Artinya: “Dan sembahlah Tuhanmu sampai datang kepadamu kematian, yang pasti akan terjadi.”
Bulan Syawal ini adalah momen yang tepat untuk menjaga semangat ibadah kita. Ibadah yang baik bukan hanya yang besar dan banyak, tapi juga yang dikerjakan secara istiqamah. Rasulullah SAW bersabda dalam hadits riwayat Imam Bukhari:
أَحَبُّ الأعمالِ إلى اللهِ أدْومُها و إن قَلَّ
Artinya: “Amal yang paling dicintai oleh Allah adalah yang dikerjakan terus-menerus, meskipun sedikit.”
Imam Nawawi menjelaskan bahwa hadits ini mengajarkan kita untuk istiqamah dalam ibadah tanpa merasa terbebani. Yang penting adalah kualitasnya, bukan sekadar kuantitas. Hadits ini juga mencakup semua amal kebaikan, bukan hanya ibadah shalat. Jamaah shalat Jumat yang dirahmati Allah ta’ala Salah satu ibadah yang perlu kita jaga secara istiqamah adalah salat tahajud. Allah berfirman dalam Surah Al-Isra ayat 79:
وَمِنَ الَّيْلِ فَتَهَجَّدْ بِهٖ نَافِلَةً لَّكَۖ عَسٰٓى اَنْ يَّبْعَثَكَ رَبُّكَ مَقَامًا مَّحْمُوْدًا
Artinya, “Pada sebagian malam, lakukanlah salat tahajud sebagai ibadah tambahan bagimu. Mudah-mudahan Tuhanmu mengangkatmu ke tempat yang terpuji.”
Imam Al-Baghawi dalam tafsirnya menjelaskan bahwa tahajud itu hanya bisa dilakukan setelah tidur. Maka dari itu, mari kita jaga semangat ibadah kita, tidak hanya di bulan Ramadan, tetapi sepanjang tahun. Semoga Allah memberikan kita kekuatan untuk terus istiqamah dalam beribadah. Aamiin. Jamaah shalat Jumat yang dirahmati Allah ta’ala Orang yang senantiasa melakukan salat tahajud akan mendapatkan banyak keberkahan, kedudukan yang mulia, dibukakan pintu rezeki, serta dihapuskan dosa-dosanya dan dijauhkan dari kemaksiatan. Rasulullah SAW bersabda sebagaimana diriwayatkan oleh Imam At-Tirmizi:
عَلَيْكُمْ بِقِيَامِ اللَّيْلِ فَإِنَّهُ دَأْبُ الصَّالِحِينَ قَبْلَكُمْ، وَقُرْبَةٌ لَكُمْ إِلَى رَبِّكُمْ، وَمَكْفَرَةٌ لِلسَّيِّئَاتِ، وَمَنْهَاةٌ عَنِ الْإِثْمِ
Artinya: “Hendaklah kalian melaksanakan salat malam, karena ia adalah kebiasaan orang-orang saleh sebelum kalian, dan ia juga dapat mendekatkan diri kepada Allah, menghapus dosa-dosa, serta menghindarkan diri dari perbuatan dosa.”
Begitu juga dengan ibadah membaca Al-Qur’an, sebuah ibadah yang selalu ditekankan di bulan Ramadan. Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Isra ayat 82:
وَنُنَزِّلُ مِنَ الْقُرْاٰنِ مَا هُوَ شِفَاۤءٌ وَّرَحْمَةٌ لِّلْمُؤْمِنِيْنَۙ وَلَا يَزِيْدُ الظّٰلِمِيْنَ اِلَّا خَسَارًا
Artinya, “Kami turunkan dari Al-Qur’an sesuatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang mukmin, sedangkan bagi orang-orang zalim (Al-Qur’an itu) hanya akan menambah kerugian.”
Dalam ayat ini, Allah menyebutkan bahwa Al-Qur’an menjadi penyembuh. Imam Qurtubi menjelaskan dalam tafsirnya (Jilid X, hal. 284) bahwa salah satu makna syifa’ di sini adalah penyembuh bagi hati:
أَنَّهُ شِفَاءٌ لِلْقُلُوبِ بِزَوَالِ الْجَهْلِ عَنْهَا وَإِزَالَةِ الرَّيْبِ
Artinya: “Menyembuhkan hati dengan menghilangkan ketidaktahuan dan menghilangkan keraguan.” Oleh karena itu, kebiasaan membaca Al-Qur’an di malam Ramadan hendaknya tetap dilanjutkan di luar bulan Ramadan. Orang yang senantiasa membaca Al-Qur’an akan mendapatkan ketenangan dan kasih sayang dari Allah. Rasulullah SAW bersabda sebagaimana diriwayatkan Imam Muslim:
مَا اجْتَمَعَ قَوْمٌ فِي بَيْتٍ مِنْ بُيُوتِ اللَّهِ تَعَالَى، يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ وَيَتَدَارَسُونَهُ بَيْنَهُمْ، إِلَّا نَزَلَتْ عَلَيْهِمْ السَّكِينَةُ، وَغَشِيَتْهُمْ الرَّحْمَةُ، وَحَفَّتْهُمْ الْمَلَائِكَةُ، وَذَكَرَهُمْ اللَّهُ فِيمَنْ عِنْدَهُ
Artinya: “Tidaklah sekelompok orang berkumpul di sebuah rumah dari rumah-rumah Allah (masjid), mereka membaca Al-Qur’an serta mengkajinya, kecuali akan turun kepada mereka ketenangan, rahmat Allah akan menyelimuti mereka, malaikat-malaikat akan mengelilingi mereka, dan Allah akan menyebut nama mereka di hadapan makhluk-makhluk yang ada di sisi-Nya.”
Selanjutnya, ibadah yang tidak boleh dilupakan di sepertiga malam adalah beristighfar. Allah SWT berfirman dalam Surah Az-Zariyat ayat 18:
وَبِالْاَسْحَارِ هُمْ يَسْتَغْفِرُوْنَ Artinya: “Dan pada akhir malam, mereka memohon ampunan (kepada Allah).” Imam Ar-Razi dalam tafsirnya (hal. 175) menjelaskan tentang ayat ini:
إِشَارَةً إِلَى أَنَّهُمْ كَانُوا يَتَهَجَّدُونَ وَيَجْتَهِدُونَ يُرِيدُونَ أَنْ يَكُونَ عَمَلُهُمْ أَكْثَرَ مِنْ ذَلِكَ
Artinya: “Ayat ini merupakan isyarat bahwa mereka senantiasa beribadah dan bersungguh-sungguh serta menginginkan agar amal ibadah mereka lebih banyak lagi.”
Istiqamah dalam beristighfar memiliki banyak keutamaan, di antaranya Allah menurunkan rezeki berupa harta dan anak serta limpahan keberkahan. Oleh karena itu, mari tumbuhkan sifat istiqamah ini dengan menyadari bahwa yang menggerakkan kita untuk beribadah adalah Allah SWT. Bukan semata-mata karena kekuatan kita, tetapi karena karunia dan pertolongan-Nya.
Mari kita terus menjadi pribadi yang selalu istiqamah dalam beribadah kepada Allah SWT, menghidupkan malam dengan tahajud, membaca Al-Qur’an, dan beristighfar. Seyogianya, amalan yang telah kita lakukan di bulan Ramadan dapat terus kita lanjutkan di bulan-bulan berikutnya. Semoga ridha Allah SWT selalu menyertai kita semua. Aamiin, ya Rabbal ‘Alamin.