Seutas Deskripsi pengalaman oleh Khairunnisak (Murid Kelas IX-6)
Setiap tahun, ketika masyarakat hendak turun ke sawah atau mulai menanam padi, diadakan sebuah acara yang disebut kenduri blang. Bagi masyarakat Aceh, khususnya di Samalanga, kenduri blang bukan sekadar acara makan bersama. Tradisi ini telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat sebagai bentuk doa dan harapan agar padi yang ditanam tumbuh dengan baik, terhindar dari penyakit, dan memberikan hasil panen yang melimpah.
Kenduri blang biasanya dilaksanakan di dekat sawah atau di jalan yang menuju ke persawahan. Suasananya cukup ramai. Bapak-bapak, abang-abang, dan anak-anak laki-laki berkumpul di sekitar tempat acara. Sementara itu, saya dan teman-teman perempuan juga ikut hadir. Namun, jumlah kami jauh lebih sedikit sehingga terkadang saya merasa seperti berada di tengah lautan laki-laki.
Acara dimulai dengan memotong seekor biri-biri. Kulit biri-biri tersebut kemudian dipotong kecil-kecil dan dibagikan kepada masyarakat yang memiliki sawah. Potongan kulit itu nantinya diletakkan di tempat keluar masuknya air ke sawah. Kegiatan tersebut biasanya dilakukan oleh bapak-bapak atau orang-orang yang lebih tua. Mereka bekerja dengan tenang dan terbiasa, seolah-olah pekerjaan itu sudah menyatu dengan kehidupan mereka sejak dahulu.
Sementara itu, daging biri-biri dimasak menjadi kari untuk disantap bersama. Asap dari tempat memasak perlahan naik ke udara, membawa aroma rempah yang semakin lama semakin menggugah selera. Bau masakan itu seperti memanggil orang-orang yang sedang menunggu dari kejauhan. Bahkan sebelum dagingnya matang, rasanya perut sudah lebih dahulu mengingatkan bahwa waktu makan tidak lama lagi.
Ketika masakan sedang dimasak, orang-orang yang hadir biasanya belum langsung makan. Mereka diberi aba-aba untuk pulang ke rumah masing-masing mengambil nasi. Di tempat kenduri memang tidak dimasak nasi sehingga setiap orang harus membawa nasi sendiri. Mereka juga diminta membawa tempat makan masing-masing.
Jika ada yang tidak membawa tempat makan, beberapa orang menggunakan pelepah kelapa atau pelepah pinang. Katanya, makan menggunakan pelepah seperti itu justru terasa lebih enak. Mungkin bagi mereka, pelepah sederhana pun dapat menjadi tempat makan yang istimewa ketika digunakan bersama-sama dalam suasana kenduri.
Di tengah kesibukan orang-orang yang pergi dan pulang mengambil nasi serta tempat makan, saya dan teman-teman perempuan hanya duduk dan memperhatikan keadaan sekitar. Ada pula teman-teman saya yang disuruh pulang oleh ayah mereka untuk mengambil nasi di rumah. Kami lebih banyak melihat orang-orang bekerja daripada ikut membantu.
Sebenarnya, saya merasa sedikit malu dan canggung ketika harus duduk di antara bapak-bapak. Saya seperti berada di tempat yang bukan sepenuhnya milik saya. Namun, mau bagaimana lagi? Orang-orang yang hadir memang kebanyakan laki-laki. Walaupun anak-anak perempuan diperbolehkan datang, jumlah kami tetap jauh lebih sedikit. Beberapa anak laki-laki yang seusia saya bahkan sempat mengejek saya dan teman-teman karena kami hanya duduk di antara mereka.
Setelah daging biri-biri matang, suasana mulai semakin sibuk. Pak Geuchik, Tgk. Imum, dan masyarakat yang membantu memasak mulai memisahkan daging dan kuah dari dalam kuali. Daging dimasukkan ke dalam baskom, sedangkan kuah juga dipindahkan ke wadah lain agar mudah dibagikan kepada masyarakat yang hadir.
Setelah semua makanan selesai dipersiapkan, Pak Geuchik meminta seluruh masyarakat duduk di atas tikar. Tikar-tikar yang sebelumnya terlipat kini terbentang panjang di jalan, menjadi tempat berkumpulnya masyarakat. Orang-orang duduk berdekatan tanpa banyak memikirkan siapa yang lebih tua atau lebih muda. Jalan yang biasanya menjadi tempat orang berlalu-lalang berubah menjadi tempat masyarakat berkumpul dan menikmati makanan bersama.
Pak Geuchik kemudian membuka acara dengan memberikan sedikit tausiah. Setelah itu, Tgk. Imum memimpin doa bersama. Semua orang menundukkan kepala dan berdoa agar kegiatan yang dilakukan menjadi berkah serta sawah yang akan ditanami mendapatkan perlindungan dan hasil yang baik. Suasana yang sebelumnya ramai perlahan menjadi tenang. Suara doa terdengar di antara hamparan sawah yang menunggu untuk ditanami.
Setelah doa selesai, makanan mulai dibagikan. Daging biri-biri dan kuah kari ditaruh ke dalam tempat makan masing-masing. Nasi kemudian disantap bersama dengan daging yang masih terasa hangat. Aroma kari memenuhi udara dan membuat makanan sederhana itu terasa begitu istimewa.
Dagingnya sangat empuk. Sekali digigit, daging langsung terpisah dengan mudah. Kuah karinya juga terasa gurih dan kaya rempah. Rasanya seolah-olah seluruh kerja keras orang-orang sejak pagi terbayar dalam satu suapan. Tidak ada yang makan dengan pelan. Semua menikmati makanan dengan lahap, seakan-akan nasi dan kari yang berada di depan mata adalah hidangan paling lezat di dunia.
Namun, hal yang paling saya sukai dari kenduri blang bukan hanya makanannya. Saya justru senang dapat duduk ramai-ramai bersama bapak-bapak dan anak-anak laki-laki yang seusia saya. Walaupun beberapa dari mereka suka mengejek saya dan teman-teman perempuan, suasana tersebut tetap terasa menyenangkan. Tawa mereka bercampur dengan suara orang-orang yang sedang berbincang, menciptakan suasana yang hangat dan akrab.
Setelah acara selesai, bapak-bapak dan orang-orang yang membantu mulai membereskan tempat kenduri. Mereka melipat kembali tikar, membereskan peralatan memasak, dan menyapu sampah yang berserakan di sekitar tempat acara. Perlahan-lahan, keramaian mulai menghilang. Jalan yang sebelumnya dipenuhi orang kembali menjadi jalan biasa, sementara sawah di sekelilingnya tetap terbentang luas menunggu musim tanam dimulai.
Saya pun pulang ke rumah dengan perut kenyang dan hati yang senang. Walaupun sempat merasa malu dan canggung karena saya dan teman-teman perempuan lebih banyak duduk dan makan, pengalaman mengikuti kenduri blang tetap menjadi kenangan yang menyenangkan bagi saya.
Bagi saya, kenduri blang bukan hanya tentang memotong biri-biri, memasak kari, makan bersama, atau berkumpul di atas tikar. Di balik semua itu terdapat kebersamaan masyarakat yang terus dijaga dari generasi ke generasi. Kenduri blang seperti sebuah jembatan yang menghubungkan masyarakat dengan tradisi mereka. Di sana, doa, kerja sama, makanan, tawa, dan kebersamaan bertemu dalam satu tempat.
Mungkin bagi sebagian orang, kenduri blang hanyalah acara tahunan sebelum turun ke sawah. Namun, bagi saya, kenduri blang adalah sebuah pengalaman yang membuat saya melihat bagaimana masyarakat dapat berkumpul, bekerja sama, dan menikmati hasil kebersamaan mereka. Saya pulang bukan hanya dengan perut yang kenyang, tetapi juga dengan sebuah cerita tentang tradisi yang hidup di tengah masyarakat Samalanga.
