Kalap

Engkau duduk di bangku taman itu, seperti biasa, ketika senja mulai menelan warna-warna langit dengan rakus, dan tiga orang tua—yang kelak akan menjadi guru paling pahit dalam hidupmu—berkumpul seperti tiga batang lilin yang sumbunya nyaris padam. Engkau hanya pendengar, bukan pemeran. Tetapi bukankah pendengar yang baik adalah cermin tempat kisah-kisah orang lain memantul dan menjelma menjadi miliknya sendiri?
“Aku pernah muda,” kata lelaki bernama Wirawan, suaranya parau seperti pintu besi yang lama tak diberi minyak, “dan kemudaan itu, Nak, adalah pedang bermata dua yang kukira hanya bisa melukai orang lain, padahal ia diam-diam menggerogoti dagingku sendiri.”
Engkau mengangguk. Engkau belum tahu ke mana cerita ini akan berlabuh, sebagaimana pelaut muda belum tahu bahwa lautan yang tenang pagi hari bisa menjadi kuburan basah di malam yang sama.
Wirawan dahulu, katanya, adalah seorang pemuda yang menumpahkan seluruh gelora hatinya ke layar kaca kecil di genggamannya—setiap amarah yang membara ia lemparkan ke dunia maya seperti orang melempar obor ke ladang kering, tak peduli ladang siapa yang terbakar. “Aku menulis kata-kata yang tajam tentang banyak orang,” ujarnya, “kukira kata-kata itu akan lenyap ditelan waktu sebagaimana asap ditelan angin. Tetapi rupanya, Nak, dunia maya bukan angin yang melupakan—ia adalah batu nisan yang mengukir setiap dosa dengan pahat abadi.”
Di sampingnya, seorang perempuan bernama Sulastri menyalakan rokok yang sebenarnya sudah lama ia janjikan untuk ditinggalkan, sebagaimana banyak janji masa muda yang ia ingkari. “Aku dahulu cantik,” katanya, separuh bangga separuh getir, seperti bunga yang mengenang warna kelopaknya sendiri setelah layu, “dan kecantikan itu kufoto, kuabadikan, kusebarkan ke empat penjuru angin tanpa pernah bertanya: angin mana yang akan membawanya pulang, dan kepada siapa?”
Sulastri muda, ceritanya mengalir seperti sungai yang lupa pada hulu, adalah perempuan yang tak mengenal pintu antara ruang pribadi dan ruang umum—keduanya ia buka selebar-lebarnya seperti rumah tanpa dinding, lupa bahwa rumah tanpa dinding bukanlah keterbukaan, melainkan undangan bagi pencuri. “Sekarang cucu-cucuku mencari namaku di mesin pencari itu,” katanya, matanya menatap kosong ke arah kolam yang airnya juga mulai keruh oleh senja, “dan yang mereka temukan bukan neneknya yang mereka kenal, melainkan bayang-bayang perempuan asing yang dahulu kusangka akan kuhapus dengan mudah, semudah menghapus jejak kaki di pasir. Tetapi pasir di dunia maya, Nak, tak pernah benar-benar terhapus oleh ombak.”
Engkau ingin bertanya, tetapi lidahmu kelu, sebagaimana tamu yang datang ke pemakaman tak pantas bertanya tentang sebab kematian.
Lelaki ketiga, yang paling diam di antara mereka, bernama Hardjono, baru bicara setelah lama menatap ujung tongkatnya seperti menatap masa lalu yang juga bertongkat dan pincang. “Aku dahulu bekerja dengan angka-angka,” katanya pelan, “dan angka-angka itu kusangka jujur, sebagaimana aku menyangka kejujuranku sendiri tak tertandingi. Tetapi suatu hari aku diundang dalam sebuah forum, dan di sana seorang pakar—Onno W. Purbo namanya, barangkali engkau pernah dengar—berbicara tentang jejak digital sebagai bayang-bayang yang lebih setia daripada bayang-bayang tubuh kita sendiri. Bayang-bayang tubuh hilang ketika lampu padam, katanya, tetapi bayang digital justru menyala ketika kita sendiri telah menjadi gelap.”
Kata-kata itu, menurut Hardjono, dahulu hanya angin lalu di telinganya yang masih muda dan congkak, sebagaimana nasihat orang tua selalu terdengar seperti gema dari gua yang jauh bagi mereka yang masih merasa abadi. “Kukira waktu adalah sekutu yang akan mengubur segala kekhilafan,” lanjutnya, “padahal waktu, bagi dunia maya, adalah pengkhianat yang justru mengawetkan apa yang seharusnya membusuk.”
Ketiganya terdiam, dan dalam diam itu engkau mendengar sesuatu yang lebih nyaring daripada kata-kata: penyesalan yang tak lagi bisa diperbaiki, sebagaimana cermin yang retak tak bisa kembali bening walau seribu kali dilap.
“Kami bukan mengeluh pada kalian, anak-anak muda,” kata Wirawan akhirnya, menatapmu dengan mata yang basah namun tak jatuh air matanya, sebagaimana awan mendung yang menahan hujan karena tahu hujan tak lagi berguna bagi ladang yang sudah gosong. “Kami hanya ingin menjadi peta bagi kalian, peta dari negeri yang sudah kami jelajahi dengan luka. Sebab anak yang bijak adalah anak yang belajar dari jejak orang lain, bukan dari jejaknya sendiri yang sudah terlanjur membatu.”
Engkau pulang malam itu dengan langkah yang lebih berat dari biasanya, seakan membawa pulang tiga peti penyesalan yang bukan milikmu, namun terasa begitu akrab, begitu dekat, seolah ketiga orang tua itu adalah kakek-nenekmu sendiri yang baru saja membuka pintu masa lalu yang berkarat.
Dan di kamarmu, sebelum tidur, engkau menatap layar kecil di genggamanmu—benda yang sama yang dahulu menjadi pedang bagi Wirawan, jendela tanpa tirai bagi Sulastri, dan angin yang disangka jujur oleh Hardjono—lalu engkau bertanya pada dirimu sendiri, dalam diam yang sunyi seperti malam itu sendiri: jejak apa yang sedang kutinggalkan hari ini, yang kelak, di usia senja, akan kutangisi atau kubanggakan?
Sebab waktu tak pernah benar-benar berjalan maju, Nak. Ia hanya berjalan melingkar, dan kelak engkau akan duduk di bangku yang sama, menjadi orang tua yang bercerita pada anak muda lain—tinggal menunggu, jejak mana yang akan kau ceritakan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *