Bahasa Syukur

Ada bahasa yang tak selalu lahir dari kata-kata
Ia tumbuh dalam diam
mengalir lembut di relung hati
lalu menjelma menjadi sebuah ketenangan
Bahasa itu bernama syukur

Syukur bukan sekadar ucapan
Ia adalah cara hati memandang kehidupan,
menemukan cahaya
bahkan ketika langit belum sepenuhnya cerah
Sebab tidak semua anugerah datang
dengan kemasan yang mudah dikenali

Kita sering sibuk mengejar
apa yang belum ada dalam genggaman
hingga lupa bahwa hidup telah lebih dahulu
dipenuhi oleh begitu banyak nikmat.

Napas yang masih teratur,
mata yang masih mampu melihat warna,
langkah yang masih diberi arah,
dan orang-orang yang setia menemani perjalanan
semuanya adalah hadiah
tapi sering dianggap biasa

Bahasa syukur tidak hanya mengenal musim bahagia
Ia tetap berbicara di tengah penantian panjang,
di sela-sela kegagalan yang menguatkan,
bahkan saat air mata lebih dulu jatuh daripada senyuman

Sebab bersyukur bukan berarti hidup tanpa luka
Bukan pula berpura-pura kuat saat hati sedang rapuh
Syukur adalah keberanian untuk tetap percaya
bahwa setiap peristiwa selalu membawa makna,
meski waktu belum segera menjelaskannya

Ada hari ketika doa terasa dekat,
dan ada hari ketika langit
seolah memilih untuk diam.
Namun syukur tidak bergantung
pada cepat atau lambatnya jawaban.
Ia percaya bahwa Tuhan
tidak pernah terlambat memberi yang terbaik,

Lihatlah pohon yang tetap berdiri
meski diterpa angin berkali-kali.
Ia tidak mengeluhkan gugurnya daun,
sebab ia percaya
musim baru akan menghadirkan tunas yang baru.

Begitu pula manusia.
Setiap kehilangan
bukan selalu pertanda berakhirnya segalanya,
kadang ia sedang memberi ruang
bagi anugerah yang belum tiba.

Maka jangan menunggu sempurna untuk bersyukur
Kesempurnaan hanyalah bayangan
yang terus bergeser seiring waktu.
Tapi, hati yang bersyukur akan salalu menemukan alasan
untuk merasa cukup, tanpa kehilangan semangat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *