Kesialan Memakai Baju Putih

Sebuah cerpen oleh Waladir Rifqi (Murid Kelas VIII-2)

Kalau ada penghargaan untuk santri yang paling sial dalam satu malam, aku yakin namaku yang akan terukir di trofi itu.

Namaku Rifqi. Kelas satu Tsanawiyah, baru tiga bulan mondok di Dayah Jeumala Amal. Belum terlalu hafal semua aturan, belum terlalu kenal semua Akhon, dan yang pasti belum terlalu paham bahwa di pondok ini, baju putih dan lantai basah adalah kombinasi paling berbahaya di muka bumi.

Malam itu dimulai seperti biasa. Setelah shalat Maghrib berjamaah, aku kembali ke kamar dan berganti baju untuk shalat Isya. Hari itu tidak ada jadwal kelas malam untuk angkatanku, jadi aku berniat shalat Isya lalu langsung tidur lebih awal. Lumayan, bisa dapat tidur panjang sebelum bangun tahajud.

Aku memilih baju putih yang bersih — baju terbaik yang aku punya di pondok. Baju ini baru dicuci dua hari lalu dan belum sekalipun dipakai setelah itu. Putihnya masih cerah, lipatannya masih rapi.

Sebelum berangkat ke masjid, seorang Akhon mengetuk pintu kamarku. Rupanya dia ingin berbicara sebentar — soal jadwal piket kamar yang perlu disesuaikan. Obrolan yang mestinya singkat itu memanjang karena si Akhon orangnya cermat dan suka menjelaskan sesuatu secara mendetail.

Akibatnya, ketika aku akhirnya keluar kamar, adzan Isya hampir selesai berkumandang.

Aku berlari.

Bukan berlari santai — tapi benar-benar berlari sekencang kakiku bisa melangkah. Di pondok ini, terlambat ke shalat berjamaah bisa berakibat konsekuensi yang tidak menyenangkan. Lebih baik berlari dan sampai tepat waktu daripada jalan santai dan kena tegur di depan semua orang.

Lorong menuju masjid sudah ramai dengan santri-santri lain yang juga bergegas. Aku menyalip beberapa orang, melewati sudut lorong, dan hampir sampai ke tempat wudhu.

Di sinilah masalahnya.

Area tempat wudhu malam itu basah merata. Entah ada yang menyiram atau memang baru saja banyak yang berwudhu, lantainya licin seperti permukaan kolam ikan yang baru dipel. Aku yang berlari kencang tidak sempat menyadari ini sampai kakiku sudah menapak di bagian paling basah.

Slip.

Sedetik aku masih di udara. Sedetik berikutnya aku sudah di lantai.

Bunyinya keras. Cukup keras untuk membuat beberapa Akhon yang baru selesai berwudhu menoleh serentak. Cukup keras untuk membuat beberapa santri yang baru datang berhenti melangkah.

Dan cukup keras untuk memastikan baju putihku yang bersih itu mendarat sempurna di atas genangan air yang — setelah aku perhatikan lebih dekat dari posisi terlentang — juga bercampur sedikit tanah dari sandal-sandal yang lalu-lalang.

Aku mencoba berdiri. Gagal. Kakiku terasa aneh — bukan patah, tapi ada sesuatu yang tidak beres di pergelangan kiri. Aku mencoba lagi, berpegangan pada tepi dinding. Berhasil berdiri, tapi badanku terasa miring dan dadaku sesak.

Para Akhon yang melihat langsung menghampiri. Salah satu dari mereka — Akhon yang paling sering berjaga malam — memegang lenganku dan membantuku duduk di bangku panjang dekat pintu masjid.

“Kenapa lari-lari?” tanyanya.

“Mau kejar shalat berjamaah, Khon,” jawabku lemah.

Akhon itu menghela nafas panjang, tapi tidak memarahiku. Mungkin karena melihat kondisiku yang sudah cukup menyedihkan — baju putih kotor, badan basah, wajah meringis.

“Nggak bisa shalat dulu. Ke klinik dulu.”

Aku tidak sempat protes. Dua orang Akhon membantuku berjalan menuju klinik pondok yang letaknya tidak jauh dari masjid. Sesampainya di sana, ustaz yang bertugas malam itu langsung memeriksa kondisiku. Dadaku yang sesak membuat mereka memasangkan oksigen sebentar — ternyata dari kaget dan nafas yang kacau karena berlari terlalu kencang lalu jatuh mendadak.

Ustaz yang bertugas langsung menelepon abangku yang tinggal tidak jauh dari pondok.

Aku berbaring di tempat tidur klinik, menatap langit-langit yang diterangi lampu neon putih. Di sebelahku, baju putih kesayanganku tergantung di sandaran kursi — basah, kotor, dan sudah tidak ada gunanya dipakai malam itu.

Shalat Isya berjamaah sudah selesai tanpa aku.

Abangku datang sekitar setengah jam kemudian, wajahnya campur antara khawatir dan menahan tawa ketika mendengar ceritanya.

“Jatuh di tempat wudhu?” ulangnya.

“Iya,” kataku singkat.

“Karena lari-larian?”

“Iya.”

Abangku akhirnya tertawa juga, pelan. Aku tidak bisa marah karena memang kejadiannya konyol kalau dipikir-pikir.

Malam itu aku tidak shalat berjamaah Isya, tidak ikut kegiatan apapun, dan tidur lebih awal dari yang aku rencanakan — tapi bukan karena dapat tidur panjang yang nyaman. Justru karena badan pegal dan dadaku masih sedikit sesak.

Baju putihku dicuci ulang keesokan harinya. Setelah dijemur dan kering, warnanya kembali cerah seperti semula.

Tapi sejak malam itu, aku tidak pernah lagi berlari di area tempat wudhu.

Kalau terlambat, ya terlambat. Lebih baik dapat konsekuensi karena terlambat daripada harus kembali merasakan lantai basah tempat wudhu dari posisi terlentang.

Dan lebih baik lagi — berangkat lebih awal supaya tidak perlu berlari sama sekali.

Pelajaran paling mahal yang pernah aku dapat di pondok ini, dan aku mendapatkannya bukan dari buku atau pengajian.

Tapi dari lantai basah dan baju putih yang kotor.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *