Gelombang Air

oleh: Attira Muzayyana (VII-8)

Hai namaku Aya.

Aku gadis Aceh yang tinggal di sebuah desa yang menurutku sempurna sebelum semuanya berubah. Aku adalah guru bahasa Indonesia di Sekolah Dasar dan tinggal bersama Bibiku. Sejak kecil aku sudah terpisah dari pelukan ayah ibu. Semuanya berawal saat aku berusia 4 tahun. Aku masih ingat betul ketika Tsunami melanda dan memporak-porandakan pesisir Aceh tahun 2004 silam. Ini ceritaku tentang gelombang air…..

Banda Aceh, Minggu 26 Desember 2004

Selepas subuh, aku sedang duduk di teras bersama ibudan saudara-saudaraku. Disana kakak dan abangku bertukar cerita bahagia sebagaimana kebiasaan keluarga kami setelah melaksanakan shalat subuh berjamaah. Ayahku saat itu sedang bertugas di Calang. Tak lama setelahnya kami merasakan bumi berguncang hebat, rumah seakan bergoyang di atas tanah membuat vas bunga di atas meja jatuh dan hancur.

“Apa yang terjadi barusan?” ucap ibuku dengan wajah yang gelisah. Seakan ia tak percaya bumi bisa berguncang se dahsyat itu. Ayo kita keluar teriaknya keras….

Seakan tidak percaya akhirnya ibuku berlari ke halaman dan melihat banyak orang sudah berkumpul sambil bertakbir. Saat itu Bumi belum berhenti, gempa hebat masih kami rasakan. Kami berpelukan saling menguatkan satu sama lain.

Beberapa menit berlalu, lalu bumi kembali diam. Tak lama nelayan dan warga sekitar berlari kencang sambil berteriak “Ie laot ka di ek…(air laut sudah naik)”. Dari kejauhan Ibuku langsung berteriak “Lari kak….larii”. Kami ketakutan dan langsung berlari. Posisinya ibu sedang berada di luar rumah untuk melihat kondisi sekitar. Entah seberapa cepat otak kami merespon teriakan ibu tapi satu hal yang pasti kami berlari seakan akan tidak tau arah dan tujuan. Aku dan ibuku terpisah saat berlarian, saudaraku juga berlari lebih dulu saat mendengar teriakan warga sekitar. Entah seberapa panik dan cepat kejadian itu terjadi. Aku sendirian, tinggal di halaman rumah karna kaki ku tidak sanggup berlari. Badanku kaku.

Tiba-tiba saat berlarian ibuku bertemu dengan kedua kakakku, ibu bertanya sambil menangis. Dimana aku, tapi kedua saudaraku berkata mereka tidak sempat menolongku karena panik. Ibuku takut dan sedikit marah saat itu, lalu ia berinisiatif kembali kerumah disituasi yang kacau dan ditengah ribuan orang yang ingin menyelamatkan diri.

Saat kembali kerumah bersama saudaraku, gelombang air besar sudah mendekati dan menyapu apa yang dilewati. Akhirnya mereka berlari kembali dan terpisah. Abangku jatuh dan tertinggal diantara manusia yang berlari dan menangis. Suasananya persis kiamat yang akan menenggelamkan seluruh muka bumi, manusia tak lagi ingat pada semua yang mereka punya hanya berlari berusaha menyelamatkan diri.

Sebelum sempat berlari dan bangkit, abangku tersapu gelombang air laut. Ibu dan kakakku melihat kejadian itu dan berhenti tidak percaya bahwa abangku sudah ternggelam bersama air dan puing-puing bangunan yang hancur. Mereka menangis dan terus berlari berusaha menyelamatkan abang yang saat itu masih minta tolong. Namun sayangnya, saat hendak menyelamatkan Abangku, justru ibu dan kakakku yang ikut terbawa gelombang tsunami yang semakin tinggi.

Saat itu aku mengira, ini lah kiamat. Janji Allah sudah tiba. “Apakah aku juga akan meninggal hari ini?” gumamku dalam hati. Aku terduduk di atas sofa yang terapung-apung di antara puing air laut yang menyapu jalanan. Aku kira aku bermimpi, tapi kembali ku cubit tanganku berharap ini tidak nyata. Tapi sakit yang aku rasa menunjukkan ini adalah kenyataan yang harus ku hadapi. Ditelingaku hanya terdengar gemuruh air laut berwarna hitam menyapu rumah, pohon, bangunan megah, dan semua nya yang tidak pernah aku liat.

Seketika aku berpikir apakah ibu dan saudaraku akan selamat? Tapi takdir berkata lain, sekarang tinggal aku seorang diri terbawa air diantara ribuan orang yang terapung menjadi manyat, bentuk dan rupanya tidak bisa aku lupakan. Aku berulang kali mencoba memanggil Ibu dan saudaraku tapi tidak ada jawaban.

“Ibu…kakak….kalian dimana?”. Tapi tidak ada suara, hanya suara orang minta tolong dan takbir yang aku dengar. Akhirnya aku pasrah setelah lebih dari 5 jam terjebak di atas sofa yang terbawa air. Aku menangis tanpa sadar aku pingsan setelah menelan air dan kelelahan.

Entah berapa lama aku tertidur, aku tersadar di atas sofa yang menjadi saksi kasih sayang Allah begitu besar. Saat hatiku pasrah dan tidak mendapat pertolongan, Allah masih menjagaku dan memberikan kasih sayang-Nya. Dibawah sofa tumpukan kayu, dan rumah yang rusak aku kembali melihat sekitar berharap dapat menemukan ibu dan saudaraku. Waktu berlalu, 2 hari aku masih duduk dan menunggu ibuku dan saudaraku menjemputku di bawah tenda pengungsian. Tapi mereka tak kunjung datang.

hari berikutnya ada seorang pria paruh baya, yang kebetulan mengenal bibiku. Selama 7 hari aku menunggu aku bertemu dengannya seakan akan, apakah ini jawaban do’aku. Dia bertanya asal usulku untuk memastikan dia tidak salah mengenaliku. Aku trauma melihat semua yang terjadi. Aku kembali dibawa pulang dan bertemu Ayah dan bibiku. Bukannya dinanti dengan rasa bahagia, justru kesedihan membalut keluargaku. Ayah harus kehilangan ibu dan kedua anaknya. Ia terpukul dan menyesal meninggalkan kami untuk berkerja.

Kini hanya aku dan ayahku, berdua saling menguatkan. Namun kesedihanku tidak berkurang sama sekali. Kami menjalani kehidupan yang baru tanpa keluarga yang utuh. Aku melihat ayahku sersedih setiap hari dan menyalahkan dirinya. Sampai suatu hari akupun harus kehilangan Ayahku untuk selama-lamanya.

Kini, aku sebatang kara. Aku tumbuh besar dengan bibiku yang mengangapku seperti anaknya sendiri. Tidak ada yang bisa mengambarkan hatiku hancur sejak kejadian itu terjadi. Hidupku berubah. Aku sendiri harus berjuang dan membahagiakan orang-orang yang masih bersamaku.

Setiap tanggal 26 Desember, aku selalu menangis karena mengingat kejadian yang merubah seluruh hidupku. Seolah baru kemarin, tapi nyatanya sudah 21 tahun berlalu.

Ini ceritaku, aku harap aku bisa terus hidup dan bahagia sampai nanti aku bisa kembali bertemu mereka di Jannah [].

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *