Sebuah cakrawala pikir oleh Thasoedi (Guru MTs)
Menurutmu, bagaimana biasanya seorang penceramah menutup ceramahnya? Berdasarkan pengalaman penulis, beberapa frasa yang sering didengar adalah; “kurang lebihnya mohon maaf,” “semoga ada manfaat yang bisa diambil,” dan satu kalimat yang terdengar sederhana, namun diam-diam mengandung cara pandang hidup yang dalam: “ambil yang baik, kalau ada.”
Kalimat ini sering hadir setelah panjangnya uraian, setelah dalil, kisah, atau petuah disampaikan. Ia seperti pintu keluar yang ramah: tidak memaksa, tidak menggurui, tapi juga tidak sepenuhnya tegas. Seolah-olah penceramah berkata, “Saya sudah menyampaikan, selebihnya terserah padamu.” Di situlah letak sifat permisif itu—memberi ruang, tapi sekaligus menyerahkan tanggung jawab.
Dalam kehidupan sehari-hari, ungkapan ini tidak hanya milik para penceramah. Ia hidup di tengah masyarakat, terutama dalam percakapan santai. Ketika seseorang mendengar cerita yang diragukan kebenarannya, ia akan berkata, “ya sudah, ambil yang baik kalau ada.” Ketika membaca buku yang isinya campur aduk, ia menghibur diri dengan kalimat yang sama. Bahkan dalam konflik kecil, ungkapan ini menjadi semacam penenang: tidak perlu semua diluruskan, cukup petik yang bermanfaat.
Orang-orang tua dulu punya banyak ungkapan yang senada. Mereka berkata, “ambil isi, buang kulit,” atau “yang jernih diminum, yang keruh dibuang.” Ada pula yang berkata, “pandai-pandai membawa diri, ibarat masuk hutan, tahu mana kayu yang bisa dijadikan tongkat.” Ungkapan-ungkapan ini menunjukkan bahwa sejak dahulu, masyarakat kita sudah akrab dengan sikap selektif—tidak menelan mentah-mentah, tetapi juga tidak menolak sepenuhnya.
Namun, di balik kebijaksanaan itu, tersembunyi satu pertanyaan penting: apakah sikap “ambil yang baik, kalau ada” selalu tepat?
Secara kebahasaan, frasa ini menarik untuk diperhatikan. Kata “ambil” di sini adalah bentuk imperatif yang lunak—sebuah perintah, tetapi tanpa tekanan. Lalu frasa “yang baik” menjadi objek yang kabur, karena “baik” itu sendiri relatif. Baik menurut siapa? Dalam konteks apa? Kemudian ditutup dengan klausa “kalau ada,” yang menambah nuansa ketidakpastian. Secara struktur, kalimat ini tidak memaksa keberadaan kebaikan, hanya membuka kemungkinan.
Dalam kajian pragmatik bahasa, ungkapan seperti ini bisa disebut sebagai bentuk strategi mitigasi—cara menyampaikan sesuatu tanpa menyinggung atau memaksa. Ia memberi kebebasan pada pendengar untuk menyaring sendiri. Namun di sisi lain, ia juga bisa menjadi bentuk penghindaran tanggung jawab epistemik—tidak memastikan apakah sesuatu itu benar atau salah.
Di sinilah kata “permisif” menemukan tempatnya.
Sikap permisif bukan berarti salah. Dalam batas tertentu, ia justru diperlukan. Dunia ini tidak selalu hitam putih. Informasi yang kita terima seringkali bercampur antara benar dan keliru. Dalam kondisi seperti itu, kemampuan untuk mengambil yang baik adalah bentuk kecerdasan. Seperti kata orang tua dulu, “kalau berjalan di pasar, tidak semua yang dijual harus dibeli.”
Namun, jika sikap ini diterapkan tanpa batas, ia bisa menjadi masalah. Bayangkan seseorang yang terus-menerus berkata “ambil yang baik saja,” tanpa pernah mempertanyakan sumbernya. Lama-kelamaan, ia bisa kehilangan kemampuan untuk membedakan mana yang benar dan mana yang sekadar tampak baik. Ia menjadi terbiasa menerima tanpa menguji.
Dalam dunia ilmu, sikap seperti ini tentu berbahaya. Ilmu tidak cukup hanya dengan “mengambil yang baik,” tetapi juga harus mampu menolak yang salah. Ada standar, ada metode, ada verifikasi. Tidak semua hal layak diambil, meskipun tampak baik di permukaan.
Dalam sastra, sikap permisif ini sering muncul sebagai tema yang halus. Tokoh-tokoh yang terlalu permisif biasanya digambarkan sebagai sosok yang baik hati, tetapi mudah terbawa arus. Mereka tidak ingin konflik, tidak ingin menilai, akhirnya justru kehilangan pijakan. Sebaliknya, tokoh yang tegas seringkali digambarkan keras, tetapi memiliki arah yang jelas.
Kembali ke ungkapan “ambil yang baik, kalau ada,” kita bisa melihatnya sebagai dua sisi mata uang. Di satu sisi, ia adalah bentuk kearifan lokal—mengajarkan kita untuk tidak menutup diri terhadap manfaat, bahkan dari hal yang tidak sempurna. Di sisi lain, ia bisa menjadi pintu masuk bagi sikap abai terhadap kebenaran.
Barangkali yang perlu kita lakukan bukan menolak ungkapan ini, tetapi memperdalam maknanya. “Mengambil yang baik” seharusnya bukan sekadar memilih yang terasa enak, tetapi melalui proses berpikir: menimbang, membandingkan, dan memahami. Dan “kalau ada” bukan alasan untuk pasrah, melainkan pengingat bahwa tidak semua hal mengandung kebaikan.
Orang tua dulu juga mengingatkan, “jangan jadi seperti daun di atas air, ke mana arus membawa, ke situ ia pergi.” Ungkapan ini seakan menjadi penyeimbang dari sikap permisif. Kita boleh mengambil yang baik, tetapi tetap harus punya arah.
Maka, ketika kita mendengar seorang penceramah menutup ceramahnya dengan kalimat itu, mungkin kita bisa memaknainya lebih dalam. Bukan sekadar penutup yang ringan, tetapi sebagai ajakan untuk menjadi pendengar yang aktif—yang tidak hanya menerima, tetapi juga menilai.
Pada akhirnya, hidup memang penuh dengan hal yang tidak sempurna. Tidak semua yang kita dengar akan sepenuhnya benar, dan tidak semua yang salah harus kita buang seluruhnya. Namun, di antara keduanya, kita tetap dituntut untuk berpikir.
Karena mengambil yang baik itu penting, tetapi mengetahui apa yang benar—itu jauh lebih penting.
