Sebuah opini santai oleh Thasoedi (Guru MTs)
Saya pernah menulis satu status di masa perkuliahan—sekadar opini, sekadar keresahan yang dirangkai dengan kata. Saya unggah ke grup Facebook kampus, tanpa firasat bahwa tulisan itu akan menggemparkan isi grup. Salah satu dosen lelaki, yang dikenal piawai mengajar kebahasaan—terutama morfologi—merasa status itu “menohok”. Alih-alih menegur secara personal, beliau justru membedah tulisan saya kata demi kata di kelas, seperti menguliti sebuah teks di meja operasi ilmiah. Sejak saat itu, saya merasa “ditandai”: cara beliau memandang, cara beliau menguji, bahkan cara beliau diam. Akhir semester tiba, dan entah kenapa, saya dinyatakan harus mengulang mata kuliah itu. Anehnya, saya tidak marah. Barangkali benar kata Nietzsche, “What doesn’t kill you makes you stronger,” atau setidaknya membuat Anda lebih hati-hati memilih diksi.
Setahun berlalu, waktu bekerja dengan caranya yang sunyi. Tulisan-tulisan saya mulai dimuat di majalah kampus—fakultas dan universitas. Ironisnya, di grup Facebook yang sama, halaman demi halaman justru sering diisi oleh tulisan saya dan tulisan beliau. Saya membaca opini-opini santai dosen itu dengan rasa takzim yang baru, dan selalu terhenti di kata penutup yang konsisten: HOMHAI. Kata Aceh yang tak pernah benar-benar saya temukan padanan rasanya dalam bahasa Indonesia. Ia seperti senyum kecil di ujung tulisan—ringan, akrab, tapi berisi. Saat itu saya sadar, bahwa bahasa bukan hanya soal struktur dan kaidah, melainkan juga soal sikap. Seperti kata Umberto Eco, bahasa adalah gudang ingatan kolektif; ia menyimpan lebih banyak makna daripada yang sanggup dijelaskan kamus.
Dari situlah saya mulai menyelipkan bahasa Aceh dalam tulisan-tulisan saya, baik yang serius maupun yang santai. Tapi tentu saja, dengan gengsi yang tetap terjaga, saya memilih kata lain: NYAN BAN. Kata ini punya arti, punya rasa, dan punya senyum tersendiri dalam bahasa Indonesia—semacam penegasan yang santai tapi tidak sembrono.
“Nyan ban” adalah frasa bahasa Aceh yang secara harfiah berarti “itu saja”, “demikianlah”, atau “itu dia”. Istilah ini sering digunakan sebagai penanda penutup, penyimpul sebuah argumen, atau penegasan dalam percakapan sehari-hari. Setelah mencari-cari di internet, saya berhasil menyimpulkan maksud dari kata ini. Berikut konteks penggunaan “Nyan Ban” berdasarkan pencarian:
- Penutup Narasi/Konten: Digunakan untuk menutup ulasan mengenai topik tertentu seperti sejarah, sosok tokoh, atau informasi budaya.
- Media Sosial: Sering digunakan oleh akun-akun komunitas Aceh sebagai penegasan atau kesimpulan atas konten yang dibagikan.
Jika HOMHAI terasa seperti anggukan bijak seorang guru, maka NYAN BAN adalah senyum kecil penulis yang tahu bahwa hidup, bahasa, dan tulisan tak selalu harus menang debat. Kadang cukup jujur, cukup berani, dan cukup sadar bahwa setiap kata punya umur panjang. Seperti kata Hemingway, “Write hard and clear about what hurts,” lalu biarkan pembaca—atau dosen—menafsirkan sisanya. Nyan ban.
