Mimpi

oleh: Niswatul Chaira

Hujan turun pelan di malam itu, menetes melalui celah-celah atap rumah kayu yang sudah lama menyerah pada usia. Amir terbangun bukan karena mimpi indah, melainkan karena air yang jatuh tepat di samping kepalanya. Ia bangkit perlahan, menggeser tikar tipis yang menjadi alas tidurnya sejak kecil. Di luar, angin berhembus dingin, membawa kesunyian yang selalu akrab dengannya.

Di rumah kecil itu, mimpi adalah satu-satunya hal yang tidak pernah bocor.

Sejak kecil, Amir menyimpan mimpi besar di dadanya, mimpi untuk sukses, untuk mengubah nasib, untuk membuat ibunya berhenti meminta maaf pada keadaan. Ayahnya telah lama pergi, bukan meninggalkan pesan, hanya meninggalkan tanggung jawab yang terlalu berat untuk dipikul oleh seorang ibu dan seorang anak.

Setiap pagi, Amir berjalan ke sekolah melewati jalan tanah yang becek. Sepatunya basah, seragamnya lusuh, dan tasnya lebih sering berisi harapan daripada perlengkapan belajar. Di kelas, ia sering menunduk. Bukan karena bodoh, tetapi karena takut jika mimpinya terlalu tinggi untuk ditertawakan.

Ketika guru bertanya tentang cita-cita, teman-temannya menjawab dengan suara lantang. Dokter, pengusaha, pejabat. Amir diam. Ia tidak tahu apakah mimpinya pantas diucapkan di ruang kelas yang penuh dengan tawa dan keyakinan. Ia hanya tahu satu hal, ia ingin berhasil, meski tidak tahu caranya.

Keadaan tidak pernah benar-benar memihaknya. Saat teman-temannya belajar dengan fasilitas lengkap, Amir belajar dengan buku fotokopian yang tintanya hampir hilang. Saat yang lain mengeluh karena lelah, Amir sudah lelah sejak lama. Ia tidak punya waktu untuk mengeluh.

Malam adalah waktu paling jujur bagi Amir. Setelah ibunya tertidur, ia membuka buku pelajaran di bawah cahaya lampu minyak. Asapnya membuat mata perih, tetapi ia bertahan. Tangannya gemetar bukan karena dingin, melainkan karena takut gagal. Takut bahwa semua usaha ini akan berakhir sia-sia.

Dalam sujudnya yang panjang, Amir menangis tanpa suara.

“Ya Allah,” bisiknya lirih, “aku tahu aku tidak punya apa-apa. Tapi aku punya Engkau. Jangan biarkan ilmuku terhenti hanya karena keadaanku.”

Tidak ada jawaban yang turun dari langit malam itu. Tidak ada keajaiban. Yang ada hanya ketenangan kecil yang membuatnya sanggup membuka buku kembali.

Hari demi hari berlalu, dan kelelahan semakin menumpuk. Amir pernah gagal dalam ujian penting. Nilainya tidak cukup baik. Ia pulang dengan langkah berat, menunduk, dan hampir menyerah. Malam itu, ibunya mengusap kepalanya sambil berkata pelan, “Nak, ibu tidak butuh kamu jadi orang besar. Ibu hanya ingin kamu tidak berhenti berdoa.”

Kata-kata itu menusuk lebih dalam daripada teguran apa pun.

Amir kembali bangkit. Ia belajar bukan untuk membuktikan pada dunia, tetapi untuk menjaga kepercayaannya pada Allah. Ia mulai memahami bahwa ilmu bukan sekadar alat untuk sukses, melainkan cahaya yang menuntun langkah orang-orang yang hampir tersesat oleh putus asa.

Suatu hari, seorang guru menemukannya tertidur di perpustakaan sekolah. Buku masih terbuka, matanya sembab. Guru itu bertanya dengan suara lembut, “Kenapa kamu memaksakan diri seperti ini?”

Amir menunduk, lalu menjawab dengan jujur, “Karena kalau saya berhenti, saya tidak punya siapa-siapa selain Allah dan ilmu saya.”

Guru itu terdiam lama.

Waktu berjalan tanpa suara, seperti doa-doa Amir yang dahulu hanya bergema di langit malam. Ia tumbuh bersama kesabaran, ditempa oleh gagal yang berulang, dan dikuatkan oleh ilmu yang tak pernah ia lepaskan. Hingga suatu hari, namanya dipanggil bukan dengan nada iba, melainkan dengan hormat.

Amir berdiri di sebuah ruangan sederhana, memegang surat yang tangannya gemetar membacanya. Beasiswa penuh. Tangisnya pecah bukan karena bangga, tetapi karena teringat malam-malam panjang di bawah lampu minyak, dan doa-doa sunyi yang dulu hanya ia titipkan pada Allah. Tahun-tahun berikutnya berlalu cepat. Amir lulus dengan hasil terbaik, bukan sebagai anak yang paling beruntung, tetapi sebagai anak yang paling bertahan. Ilmu yang ia genggam kini menjadi jalan, bukan hanya untuk dirinya, tetapi untuk orang lain.

Ia tersenyum kecil dan berbisik,
“Selama Allah bersamaku, dan ilmuku terus hidup, aku tidak pernah benar-benar kalah.”[].

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *