Peluk

Sebuah Cerpen oleh Thasoedi (Guru MTs)

Langit pagi itu redup, seolah matahari pun segan menampakkan diri di hadapan hatiku yang sedang tenang sekaligus bergetar. Aku berdiri di depan cermin rias, mengenakan kebaya sederhana berwarna gading. Usia tiga puluh tahun baru saja menyapaku seminggu lalu, dan hari ini aku resmi menjadi istri dari laki-laki yang dahulu hanya bisa kukagumi dari jauh. Namanya Raditya.

Raditya adalah sosok laki-laki yang tak hanya baik dalam tutur dan perangai, tetapi juga lembut, sabar, dan memiliki pandangan hidup yang luas. Ia seperti rumah dalam bentuk manusia: hangat, teduh, dan membuatku merasa aman untuk pulang kapan pun aku tersesat. Aku tidak pernah berpikir akan benar-benar berjodoh dengannya, sebab laki-laki seperti dia terasa terlalu tinggi untuk perempuan seperti aku. Namun, takdir rupanya menyimpan kejutan yang lebih manis dari mimpi.

Pernikahan kami berlangsung khidmat, dikelilingi keluarga, sahabat, dan doa-doa baik yang bertaburan di udara. Di pelaminan, ketika tangan kami bersentuhan untuk pertama kalinya sebagai suami istri, aku merasa seolah seluruh luka masa kecilku luruh, menguap dari pori-pori tubuhku yang selama ini terbiasa menahan rindu yang tak bernama.


Sejak kecil aku memang terbiasa hidup dalam kesunyian yang tak semua orang mengerti. Aku tidak pernah tahu bagaimana rasanya dipeluk ibu saat menangis, atau dibelai rambutnya saat tertidur di pangkuannya. Ibuku meninggal ketika aku berjuang untuk melihat dunia. Kata Ayah, beliau meninggal dengan senyum di bibirnya, setelah memastikan bahwa aku dilahirkan ke dunia ini dengan selamat. Aku tumbuh dengan cerita, bukan dengan kenangan. Dan betapa aku sangat merindukan seorang ibu—meski aku tidak pernah tahu bagaimana wajahnya, bagaimana suaranya, atau bagaimana pelukannya.

“Kalau kau rindu seseorang yang tak pernah kau kenal,” kata Ayah suatu kali, “itu bukan karena kenangan, tapi karena jiwamu tahu: ada bagian darimu yang berasal dari dia.”

Aku membawa kerinduan itu ke dalam pernikahan. Kusimpan rapi di laci-laci hati yang tersembunyi, sambil berharap kelak bisa aku bahagiakan perempuan-perempuan di sekitarku dengan cinta yang pernah hilang dariku.


Malam itu, selepas makan malam pertama kami sebagai pasangan resmi di rumah kecil kami yang sederhana di pinggiran Bandung, Raditya tiba-tiba berkata sambil menyeduh teh:

“Sayang, aku ingin kau mengenal ibuku lebih dekat. Aku yakin kau akan sangat menyayanginya kalau sempat bertemu.”

Aku tersenyum, duduk di sofa, menatapnya dengan hangat. “Tentu. Aku ingin sekali mengenalnya lebih dalam.”

Matanya menerawang. Teh di cangkirnya tak disentuh. Angin dari jendela membawa aroma tanah basah, pertanda hujan sebentar lagi turun.

“Ibu itu seperti pohon besar yang tak pernah meminta apa-apa tapi selalu memberi. Ia tak pernah marah walau dalam kepedihan. Waktu ayah meninggal, Ibu masih sempat membuatkan sarapan untukku esok paginya, seolah tak ingin aku tahu bahwa hatinya sedang patah.”

Aku mendengarkan dalam diam, karena tiba-tiba dadaku terasa sesak.

“Aku pernah melihatnya duduk lama sekali di tepi tempat tidurku waktu aku sakit, hanya untuk memastikan aku bisa tidur tenang. Tapi aku juga pernah melihatnya diam di dapur, menangis di depan wastafel, dengan tangan yang tetap mencuci piring.”

Air mataku mulai menitik. Aku berusaha menyembunyikannya, tapi kata-kata Raditya terlalu jujur, terlalu lembut, terlalu menusuk bagian hatiku yang paling rapuh.

“Ibu itu seperti doa yang tidak pernah terdengar, tapi selalu tiba tepat waktu.”

Aku menangis tanpa suara. Raditya menoleh, lalu menghampiriku, menggenggam tanganku.

“Kau kenapa, Sayang?”

Aku menggeleng, tapi air mataku tak berhenti. “Aku… aku hanya rindu… rindu sesuatu yang tak pernah kumiliki.”

Ia menatapku lama. “Bunda, ya?”

Aku mengangguk. “Aku tidak tahu bagaimana cara merindukan seseorang yang bahkan tidak pernah kutatap matanya. Tapi malam ini, ceritamu tentang ibumu… membuatku merasakan kehadiran sosok yang selama ini hilang dari hidupku.”

Raditya memelukku, erat. “Kau bisa merindukannya lewat dirimu sendiri, Sayang. Karena sebagian dari Bunda pasti ada dalam darahmu, dalam kelembutanmu, dalam caramu mencintai.”


Malam itu aku tertidur dalam pelukannya. Dalam mimpi, aku melihat seorang perempuan duduk di tepi ranjangku. Wajahnya tak begitu jelas, tapi matanya penuh cinta. Ia menyentuh keningku, dan berkata lembut:

“Terima kasih telah lahir, Nak. Meski aku tidak sempat memelukmu, setiap hembus nafasku adalah doa untukmu.”

Aku terbangun dengan mata basah dan hati hangat. Dan entah mengapa, untuk pertama kalinya dalam hidup, aku merasa benar-benar dicintai oleh seorang ibu.


Hari-hari setelahnya, Raditya sering menceritakan kenangan-kenangan kecil bersama ibunya. Tentang cara ibunya menyiapkan bekal dengan tulisan tangan di kertas kecil, tentang suara ibu yang selalu membacakan doa sebelum tidur, tentang cara ibunya menjahit pakaian sobek dengan sabar walau matanya mulai rabun. Dan aku—dalam diam—mulai menyulam bayangan ibuku sendiri dalam kenangan ibu mertuaku.

Aku mulai belajar memasak seperti ibunya. Menulis catatan kecil di kotak makan Raditya. Membaca doa sebelum tidur dengan suara pelan di sampingnya. Dan dalam setiap tindakan itu, aku merasa sedang menyapa dua ibu sekaligus: ibu yang pernah ada untuk Raditya, dan ibu yang tak pernah hadir secara fisik untukku, tetapi selalu hidup dalam rinduku.


Suatu hari, saat membereskan lemari tua di rumah Raditya, aku menemukan sebuah kotak berisi surat-surat lama. Di dalamnya, ada satu surat yang belum pernah dibuka. Kertasnya kuning, ditulis dengan tinta biru, dan bertanggal tepat sehari sebelum ibuku melahirkan aku.

Surat itu ternyata ditulis oleh ibuku untukku.

Teruntuk anakku yang belum lahir,

Entah kau laki-laki atau perempuan, aku belum tahu. Tapi aku sudah mencintaimu sejak pertama kali aku tahu kau hidup dalam perutku.

Aku harap kau tumbuh menjadi jiwa yang lembut. Dunia ini tidak selalu mudah, tapi jangan takut untuk menangis. Jangan malu untuk lemah. Karena dari kelembutan, engkau akan tahu apa itu kekuatan.

Jika suatu hari aku tidak ada untuk memelukmu, ketahuilah bahwa setiap detak jantungku saat ini adalah bukti bahwa aku ingin bersamamu lebih dari apa pun.

Tumbuhlah dengan cinta, Nak. Dan jika kau merasa sendirian, pejamkan matamu, dengarkan hatimu. Di sanalah aku tinggal.

—Ibumu.

Tangisku pecah tak terbendung. Aku menggenggam surat itu seperti menggenggam tangan yang tak pernah sempat kugenggam seumur hidup. Dalam surat itu, aku menemukan kembali diriku sendiri yang selama ini hilang.


Malamnya, aku duduk bersama Raditya di teras rumah. Angin Juli berembus pelan, membawa aroma bunga melati dari halaman depan. Aku menyodorkan surat itu padanya.

“Ini dari ibuku. Baru kutemukan tadi siang.”

Raditya membacanya perlahan. Lalu ia menggenggam tanganku, dan kami terdiam lama.

“Sayang,” ujarnya akhirnya. “Suatu hari, jika kita diberi anak, aku ingin dia tahu bahwa ia lahir dari perempuan yang sangat kuat. Dari cinta dua ibu yang hidup dalam satu perempuan.”

Aku menatap langit. Ada bintang jatuh. Aku memejamkan mata.

Dan aku tahu, untuk pertama kalinya, aku tak lagi merasa kehilangan. Karena ternyata, cinta seorang ibu tidak pernah benar-benar pergi. Ia hanya pindah tempat: dari pelukannya yang fana ke dalam jiwaku yang abadi.


Kini, setiap pagi aku menyeduh teh untuk Raditya dengan hati yang penuh. Aku memasak dengan rasa syukur, bukan sekadar kewajiban. Dan ketika aku berjalan di depan cermin, aku melihat bukan hanya diriku, tetapi juga perempuan-perempuan sebelumku yang telah membentuk siapa aku hari ini.

Bunda, aku tidak pernah bertemu denganmu. Tapi aku tahu, kini aku sudah memelukmu: dalam setiap pelukan yang kuberikan, dalam setiap air mata yang kuseka, dan dalam setiap doa yang kutanamkan untuk anak-anakku kelak.

Aku tidak lagi sendiri. Aku telah menjadi cinta yang dulu kurindukan.

Dan aku akan mewariskannya.

Agar jika suatu hari aku tak ada, cinta itu tetap hidup.

Di dalam hati yang tak pernah berhenti merindukan seorang Ibu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *