Sepenggal Cerpen Oleh: Muhammad Nizarullah
Pagi-pagi sekali Daus sudah duduk di depan toko bangunan Koh Aloy, menunggu barangkali ada barang yang perlu diangkat, semen yang perlu dieceng, atau sekadar menyapu halaman yang penuh serpihan kayu. Ia tidak digaji tetap di sana. Koh Aloy sudah berkali-kali memecatnya, tapi tak pernah benar-benar mengusirnya dari depan toko. Ia hanya orang yang selalu ada, dan orang yang selalu ada biasanya akan diberi sesuatu. Entah lima belas ribu, entah nasi bungkus, entah rokok setengah bungkus dari kernet truk pasir yang numpang istirahat.
Kalau soal disiplin kerja, Daus memang juara. Ia selalu bisa diandalkan untuk ketepatan waktu. Tapi, kalau sudah menyangkut keuangan, ia sangat boros. Bahkan, sering menghabiskan uang yang ada di laci meja tempat ia kerja. Kejujuran nomor satu baginya. Tiap kali ia mengambil uang di laci meja itu, selalu ia sampaikan kepada bosnya.
“Daus, tolong bantu turunin ini,” teriak seseorang dari dalam gudang.
Ia bangkit tanpa banyak tanya. Itu yang selalu dilakukannya sejak dulu. Bangkit tanpa banyak tanya, mengangkat apa saja yang perlu diangkat, membantu siapa saja yang perlu dibantu, meskipun besok belum tentu ia sendiri bisa makan.
Umurnya sudah tiga puluh tahun. Tapi orang-orang di kampung masih memanggilnya “si Daus,” dengan nada yang sama seperti memanggil anak kecil yang belum juga besar-besar. Bagi mereka, Daus memang tak pernah benar-benar besar. Ia anak kedua dari empat bersaudara, dan dari keempatnya, hanya dialah yang sampai hari ini masih luntang-lantung tak tentu arah, berpindah dari satu pekerjaan serabutan ke pekerjaan serabutan lain, dari satu kekecewaan ke kekecewaan lainnya.
Kakaknya sudah berkeluarga dan hidup tenang di kota. Adik perempuannya bekerja di sebuah perusahaan besar, sering pulang membawa oleh-oleh yang bikin tetangga bertanya-tanya kerja di mana anak itu sekarang. Adik bungsunya seorang polisi, gagah dengan seragamnya setiap kali pulang kampung, disalami banyak orang.
Dan Daus, hanya tamatan SMA. Itu pun sebenarnya tidak pernah benar-benar ia tamatkan. Orang-orang sekampung tahunya Daus memang tamatan SMA. Tapi faktanya tidak demikian. Dan, yang tahu masalah itu hanyalah keluarganya.
Kalau ingin mengerti mengapa Daus menjadi seperti sekarang, harus kembali dulu ke sebuah rumah kecil yang masih berdinding papan di pinggir kampung. Rumah yang tak pernah memancarkan kebahagiaan, hanya terdengar suara bentakan setiap hari.
Bapaknya seorang pedagang kelontong, orang yang keras, orang yang menganggap dunia ini adil-adil saja asal seseorang mau bekerja keras dan menurut. Bagi bapaknya, anak yang baik adalah anak yang patuh, anak yang tidak banyak tingkah, anak yang nilainya bagus dan tidak pernah membuat malu. Dan Daus kecil, sebenarnya, adalah anak yang rajin. Ia suka membantu, suka menolong, suka duduk lama-lama menemani neneknya bercerita. Tapi ia juga anak yang mudah lupa, mudah teralihkan, kadang malas mandi sore, kadang pulang mengaji terlambat karena berhenti dulu menonton anak-anak lain bermain bola di lapangan becek.
Bapaknya tidak mentolerir kesalahan-kesalahan sekecil itu. Kerap kali benda yang ada di sekitar terbang ke tubuhnya, bahkan telapak tangan bapaknya mendarat di pipinya. Daus kecil belajar satu hal dari rumah itu, bahwa dunia bisa berubah keras kapan saja, tanpa peringatan, hanya karena ia melakukan sesuatu yang tidak sesuai kemauan bapaknya.
Ibunya diam saja. Bagi ibunya, membela anak yang sedang dimarahi dan dipukuli bapaknya sama saja melawan suami.
Ketika SMP hampir selesai, entah bagaimana keputusan itu diambil, Daus dikirim tinggal bersama neneknya di kampung sebelah. Barangkali karena bapaknya lelah, barangkali karena neneknya yang meminta. Yang jelas, sejak saat itu Daus tidak lagi tinggal serumah dengan bapak dan ibunya. Adik bungsunya yang masih kecil tinggal bersama mereka. Daus tinggal bersama neneknya, seorang perempuan tua yang tidak pernah sekali pun mengangkat tangan padanya.
Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, rumah terasa seperti tempat pulang. Terkadang, tempat untuk pulang terlambat ditemukan. Walaupun, luka yang sudah telanjur menetap di dalam dada tidak bisa sembuh hanya karena berpindah rumah.
***
Balai kecil itu berdiri di tengah sawah, beratap rumbia, tempat orang-orang biasa berteduh sehabis menyiangi padi. Selama tiga tahun SMA, balai itulah yang paling sering menjadi tujuan Daus, bukan sekolah.
Setiap pagi ia berangkat dengan seragam rapi, disangoni ibunya yang mengira anaknya sungguh-sungguh pergi menuntut ilmu. Tapi begitu jauh dari rumah, ia berbelok ke arah sawah, duduk di balai itu bersama dua-tiga teman senasib, bermain game di ponsel butut, merokok, atau sekadar memandangi langit sambil membayangkan hidup macam apa yang sedang menunggunya di depan sana.
Ia tidak benci sekolah. Ia hanya tidak tahu untuk apa ia harus ke sana. Tak ada yang pernah bertanya kepadanya, sebenarnya kau ingin jadi apa, Daus? Yang ada hanya perbandingan dirinya dengan saudaranya.
Rapornya, ia buat sendiri. Ia contek dari rapor milik temannya, ia tiru bentuk tanda tangan, ia karang sendiri nilai-nilai pelajaran yang tak pernah benar-benar ia ikuti ujiannya. Bahkan dengan kebohongan sebesar itu, ada satu kejujuran kecil yang lucu sekaligus menyedihkan. Ia menuliskan dirinya ranking dua dari belakang, dari tiga puluh tiga siswa. Seolah-olah, sekalipun berbohong, ada bagian dari dirinya yang tak sanggup berbohong sepenuhnya soal siapa dirinya yang sebenarnya.
Ibunya baru tahu semua itu bertahun-tahun kemudian, tepat beberapa hari sebelum wisuda. Anak-anak tetangga satu per satu membawa pulang undangan wisuda untuk orang tua mereka. Ibunya menunggu, menunggu, sampai akhirnya rasa penasaran membawanya sendiri ke sekolah, menanyakan kapan wisuda anaknya.
Di sanalah ibunya duduk di kursi tamu, mendengar penjelasan pihak sekolah dengan wajah yang perlahan berubah pucat. “Daus sudah lama tidak terdaftar sebagai siswa kami lagi, Bu. Sudah dikeluarkan sejak semester tiga karena dia gak pernah masuk.”
Tiga tahun. Tiga tahun ibunya memberi uang jajan setiap pagi, menyetrika seragam setiap malam, menganggap anaknya sedang belajar, sementara anaknya sedang duduk di sebuah balai kecil di tengah sawah, menghitung hari tanpa tahu hendak menjadi apa.
Tahun-tahun setelah itu berjalan dengan cara yang makin lama makin jauh dari harapan siapa pun.
Ia berpacaran dengan seorang janda, perempuan yang lebih tua darinya, yang pandai membuatnya merasa dibutuhkan, sesuatu yang jarang ia rasakan di rumah. Perempuan itu, entah sadar atau tidak, memanfaatkan kepolosannya. Daus, yang selalu ingin dianggap berguna, yang selalu ingin membuktikan bahwa ia bisa memberi sesuatu meski tak punya apa-apa, mulai mengambil uang dari warung kelontong bapaknya sendiri untuk perempuan itu. Tak jarang perempuan itu mengeluh ke Daus karena anaknya sudah tidak minum susu selama tiga hari. Karena iba, Daus selalu memberikan uang hasil dari pekerjaannya. Jika kurang, ia akan mengambil lagi uang di laci meja tempat ia bekerja. Tentunya akan ia beri tahu kepada bosnya.
Ia tertangkap dengan cara yang paling memalukan yang bisa dibayangkan. Warga sekitar, yang mengenal betul siapa pemilik warung itu, menelepon bapaknya begitu mendapati ada pencurian. Polisi setempat datang, meringkus pelakunya di tempat. Dan ketika bapaknya tiba di lokasi, penuh amarah, siap memaki pencuri yang berani-beraninya mengganggu rezekinya, yang ia temukan adalah wajah anaknya sendiri, tertunduk, diborgol, dikelilingi tetangga yang menonton.
Tak ada yang tahu persis apa yang dirasakan bapaknya saat itu. Yang jelas, sejak hari itu, sesuatu di antara mereka berdua patah dengan cara yang tak pernah bisa disambung lagi.
Ketika ia bekerja di toko bangunan Koh Aloy, ia beberapa kali dipecat karena uang di laci berkurang. Tapi berbeda dari pencuri kebanyakan, Daus tidak pernah berbohong ketika ditanya. Ia mengaku terus terang, uang itu ia berikan kepada temannya yang sudah dua hari tidak makan, yang anaknya sedang sakit, yang tidak tahu lagi harus meminjam ke mana. Ia tidak pernah menyimpan uang curian itu untuk dirinya sendiri.
Ia adalah orang pertama yang datang kalau ada saudara atau tetangga kena musibah. Ia akan berjalan kaki jauh tengah malam hanya untuk mengantar obat, akan meminjamkan baju satu-satunya yang masih layak, akan duduk berjam-jam menemani orang yang sedang berduka meski ia sendiri tak tahu esok makan apa.
Tapi kesetiakawanan semacam itu, di mata keluarganya, hanya dianggap sebagai bukti lain bahwa Daus tidak bisa diandalkan, tidak bisa dipegang, tidak tahu mana prioritas. Mereka lelah. Bapaknya lelah. Ibunya lelah, meski diam-diam menangis setiap kali mendengar kabar anaknya dipecat lagi, ditangkap lagi, kabur lagi entah ke mana.
Suatu sore, di rumah neneknya yang sudah renta, Daus duduk berlama-lama sambil mengupas rebung. Suasana sepi, hanya suara ayam yang sesekali berkokok di kejauhan.
“Nek,” katanya pelan, tanpa mengangkat wajah dari rebung yang sedang ia kupas, “Ibu sama Bapak itu sebenarnya sayang gak sih sama aku?”
Neneknya berhenti menganyam tikar pandan. Tangannya yang keriput diam sejenak di udara.
“Kenapa kau tanya begitu, Daus?”
“Aku cuma… aku ngerasa kayaknya mereka lebih sayang sama kakak, sama adik-adik. Semua yang mereka omongin selalu prestasi mereka. Aku gak pernah denger Bapak cerita tentang aku ke orang, kecuali cerita soal aku yang bikin malu.”
Suara Daus tidak keras. Tidak ada isak, tidak ada nada menuntut. Justru karena begitu tenangnya ia bertanya, pertanyaan itu terasa jauh lebih berat, seperti sesuatu yang sudah lama dipendam, ditimbang-timbang, baru berani dikeluarkan setelah bertahun-tahun.
“Nenek yang selalu nanya aku udah makan apa belum. Nenek yang selalu nungguin aku pulang malam-malam, walau Nenek udah tua, walau capek. Ibu sama Bapak… aku gak inget kapan terakhir mereka nanya aku udah makan atau belum.”
Neneknya menatap cucunya lama-lama. Ada sesuatu yang basah di sudut matanya, sesuatu yang berusaha ia tahan agar tidak jatuh di depan Daus.
“Mereka sayang, Daus,” katanya, suaranya bergetar meski berusaha terdengar mantap. “Cuma mereka gak pernah diajari cara nunjukinnya. Bapakmu dulu juga dibesarkan begitu sama orang tuanya. Dipukul kalau salah, gak pernah dipuji kalau benar. Dia gak tahu cara lain.”
Daus mengangguk pelan, tapi anggukan itu tidak menyembuhkan apa-apa. “Tapi Nek, kalau memang sayang, kenapa aku dari kecil selalu ngerasa aku ini beban? Kenapa aku ngerasa cuma pantas dipukul, bukan disayang?”
Tak ada jawaban yang bisa diucapkan neneknya setelah itu. Ia hanya menarik cucunya mendekat, memeluknya seperti memeluk anak kecil yang baru saja terjatuh, padahal yang duduk di pelukannya adalah seorang laki-laki dewasa yang sudah tiga puluh tahun membawa luka yang tak pernah sempat diobati siapa pun.
Sebelumnya Daus tak pernah menitikkan air matanya sekalipun. Ia tahan sebisa mungkin untuk tetap kuat. Tapi saat itu, ia menangis karena pertanyaan sederhana yang sudah bertahun-tahun tak berani ia suarakan, akhirnya keluar juga, dan jawaban yang ia terima tetap tidak bisa menggantikan jawaban yang seharusnya datang dari ibu dan bapaknya sendiri.
***
Bertahun-tahun kemudian, bapaknya menjadi tua, jauh lebih tua dari usianya. Kadang, saat duduk sendirian menunggu pembeli di warung yang makin sepi, ia teringat wajah anaknya yang diborgol polisi di depan warungnya sendiri. Ia teringat bunyi ikat pinggang yang dulu sering ia layangkan ke tubuh Daus kecil. Ia mulai bertanya-tanya, dalam diam yang tak pernah ia ucapkan kepada siapa pun, apakah semua yang terjadi pada anaknya adalah akibat dari tangannya sendiri.
Tapi penyesalan yang datang di usia senja, seperti hujan yang turun setelah sawah kering kerontang, tak lagi banyak berguna. Ibunya, yang dulu diam saja setiap kali suaminya memukul anaknya, kini hanya bisa diam lagi. Diam menyaksikan Daus yang sampai sekarang masih berpindah-pindah pekerjaan, kadang punya kerja, lebih sering tidak, ditolak di sana-sini karena riwayatnya yang penuh catatan buruk, dan tak seorang pun majikan mau mengambil risiko mempekerjakan orang yang pernah tertangkap mencuri.
Suatu subuh di musim hujan, pintu rumah nenek digedor tetangga. Bapaknya jatuh di warung, separuh badannya tak bisa digerakkan, bicaranya melantur tak jelas.
Daus lari. Tak ada yang menyuruh, tak ada yang menunggu persetujuannya. Ia menggendong bapaknya yang sudah kurus itu ke pinggir jalan, menyetop pikap sayur yang kebetulan lewat, lalu duduk di bak belakang sambil menahan kepala bapaknya agar tak terantuk. Kakaknya baru bisa sampai besok pagi dari kota. Adik-adiknya lebih jauh lagi. Ibunya hanya bisa menangis di pojok ruang puskesmas. Dan seperti biasa, yang ada di sana saat semua orang belum datang adalah Daus.
Semalaman ia berjaga. Menjelang pagi, dengan sisa lima belas ribu dari Koh Aloy, ia membeli sebungkus bubur ayam di warung depan puskesmas. Ia sendiri belum makan sejak kemarin siang.
Bapaknya siuman. Matanya bergerak pelan, mencari-cari, lalu berhenti pada wajah anak keduanya. Lama sekali ia menatap. Bibirnya yang miring bergerak susah payah.
“Kau… sudah makan?”
Daus terdiam. Tiga puluh tahun ia menunggu pertanyaan itu, dan kini datang dalam suara yang pelo, dari mulut yang dulu hanya mengenal bentakan. Daus, yang tak pernah sanggup berbohong, menjawab pelan, “Sudah, Pak.” Lalu ia menyuapkan bubur itu sendok demi sendok ke mulut bapaknya, sementara perutnya sendiri kosong. Ada bulir yang ditahan agar tidak meluap saat ia menyuapi bapaknya. Sekarang, jawaban yang ditunggu-tunggu dari nenek terjawab sudah.
Tangan bapaknya yang gemetar, tangan yang dulu pernah melayang ke pipinya, perlahan menepuk punggung tangan Daus. Tidak ada kata maaf. Tidak ada pelukan. Hanya itu. Tapi bagi Daus, itu sudah lebih dari cukup untuk pertama kalinya.
Sore harinya, ia pulang ke rumah nenek dan menceritakan semuanya sambil duduk mengupas rebung seperti dulu. Neneknya hanya tersenyum, tangannya tak berhenti menganyam. “Nah, kan. Sudah dijawab.”
Daus mengangguk. Jawaban itu memang tidak datang dalam kalimat “Bapak sayang kamu.” Ia datang dalam pertanyaan kecil yang terlambat tiga puluh tahun. Luka lamanya tidak lunas, tapi untuk pertama kalinya Daus merasa ada. Dalam perjalanan pulang, ia melewati balai di tengah sawah itu. Balai itu sudah reyot, atapnya bolong di sana-sini. Ia berhenti sebentar, menatapnya, lalu melanjutkan langkah.***
