Sebuah Cerpen Oleh: Muhammad Nizarullah
Beberapa meja sederhana dan batang-batang kayu yang disulap menjadi kursi telah berjajar rapi di pekarangan belakang asrama provinsi. Halaman itu dipayungi pepohonan rindang, lengkap dengan dapur kecil tempat kopi selalu siap diseduh bagi siapa pun yang datang, mulai dari mahasiswa, buruh, hingga tokoh masyarakat yang hendak mengikuti diskusi rutin yang digelar setiap malam Minggu. Berbagai macam buku sudah tergeletak diatas meja pemantik yang sudah siap dilahap oleh para partisipan yang datang. Mereka datang dari berbagai latar belakang suku, bahasa, bahkan agama.
Das Kapital yang tebalnya minta ampun sudah menyiapkan dirinya untuk dilumat di malam yang dingin dan remang-remang di bawah teduhan pohon-pohon mangga. Sebelum diskusi inti dimulai, forum itu selalu saja menyajikan beberapa puisi untuk dibaca. Malam itu, seorang penyair muda membacakannya dengan gestur jenaka hingga mengocok perut siapa pun yang menyaksikan, bak Charlie Chaplin yang sedang menghayati perannya. Ia melantunkan sebuah sajak satire karya seorang kiai-penyair ternama, Mustofa Bisri berjudul “Haha, hihi.”
Haha, hihi …
Hujan emas di negeri orang, hujan batu di negeri sendiri,
Lebih baik yuk hujan-hujanan caci maki.
Haha, hihi.
Selesai pembacaan puisi, diskusi ringan tentang buku yang sedang dibaca pun bergulir. Argumen demi argumen mulai dimuntahkan, bahkan kritik tajam terhadap sang penulis tak luput dari pembahasan malam itu. Ideologi Karl Marx, yang menjadi topik utama, mulai memantik pro dan kontra di antara para partisipan dari berbagai latar belakang.
Sebagian berpendapat bahwa gagasan Marx tentang kelas ekonomi dalam masyarakat tidak akan pernah benar-benar bisa diterapkan, di manapun itu. Baginya, Marx hanya menuliskan gagasan itu untuk kepentingan disertasinya, tanpa niat sungguh-sungguh menerapkannya.
Pendapat itu dibalas oleh seorang partisipan beraliran kiri garis keras. Baginya, forum semacam ini justru ruang yang tepat untuk mengekspresikan kebebasan berideologi, meski gagasan itu sulit diwujudkan secara utuh. Karl Marx, bersama sahabatnya Friedrich Engels, menurutnya menyelesaikan Das Kapital bukan sekadar demi disertasi, melainkan juga karena ada semangat menghapus ketimpangan yang nyata dalam masyarakat.
Belum lama diskusi berlangsung, seseorang datang membawa kabar bahwa aparat sedang menuju ke tempat itu. Wajah-wajah yang hadir malam itu melongo keheranan, untuk apa harus takut pada kedatangan aparat yang tak diundang? Mereka memilih tak menggubris kabar itu. Diskusi tetap berjalan seperti biasa, meski rasa was-was mulai menyelinap di hati masing-masing. Sejak forum ini berdiri, belum sekalipun tempat itu digerebek aparat, sebab mereka tak pernah melakukan kesalahan yang merugikan negara.
Tiba-tiba, terdengar gonggongan paling keras, lebih keras dari teriakan histeris penggemar yang menyaksikan idolanya tampil di atas pentas. Barulah mereka sadar, ternyata itu suara letusan senjata dari arah selatan asrama. Sebutir peluru berongga seberat 230 grain, melesat dengan kecepatan lebih dari 900 kaki per detik, dengan mudah menembus dada Agam. Darah dengan cepat membanjiri tubuhnya, menyembur keluar. Agam jatuh terkapar ke tanah, sempat menggelinjang sejenak sebelum tubuhnya kaku, sementara genangan darah perlahan membasahi tanah dan pakaiannya. Mereka yang menyaksikan kejadian itu berdiri kaku, bak patung yang baru saja dipahat. Lidah-lidah mereka terkunci oleh perasaan campur aduk, tak tahu nasib apa yang menanti setelah itu.
Beberapa aparat bersenjata laras pendek M1911 bergerak cepat menyerbu tempat kejadian. Moncong pistol-pistol itu terarah pada mereka yang masih berdiri terpaku, tak berkutik.
“Angkat tangan…!” Sebuah bentakan menggelegar dari salah satu aparat.
Mungkin sosok itulah yang baru saja menembak Agam, yang kini tergeletak tak berdaya di tanah tanpa seorang pun berani mendekat. Seorang aparat berpakaian preman, bercelana jeans biru lusuh, bertopi hitam, namun mengenakan rompi taktis khas aparat, melangkah ke arah tubuh Agam dan mengangkatnya, membiarkan darah yang masih mengalir membasahi tangannya.
“Anjeennggg… kalian apakan kawan kami…?!” Amar, yang sebelumnya membeku ketakutan, tiba-tiba menerjang ke arah aparat yang masih mengacungkan moncong senjata padanya.
“Kau… diam di tempat! Jangan ada yang bergerak!” bentak aparat itu sambil tetap mengarahkan senjatanya pada Amar.
Yacob, yang sudah tak sabar menahan amarah, mengambil inisiatif untuk maju dengan bermodal sebilah pisau yang selalu setia menemaninya kemanapun ia melangkah. Seorang aparat yang berdiri tak jauh darinya menerima bogem mentah yang tak terduga. Tanpa sempat bereaksi, pisau Yacob telah menancap di punggungnya.
“Arghhh…!” aparat itu menjerit kesakitan.
“Lawaaann…!” teriak Yacob, mengajak kawan-kawannya untuk balas menyerang aparat yang masih saja mengacungkan senjata ke arah mereka.
Suara tembakan melengking di udara, membabi buta. Warga sekitar berhamburan menjauh dari pekarangan yang biasanya menjadi tempat mereka berbincang setiap malam Minggu. Dalam benak mereka, satu pertanyaan berkelebat: mungkinkah operasi militer represif tempo dulu kini kembali diberlakukan?
Di lokasi kejadian, perkelahian antara pistol dan pisau berlangsung sengit. Mereka yang melawan sudah tentu ditempatkan beberapa peluru untuk menenangkan suasana. Mereka yang memilih tiarap dan tak melawan hanya bisa berdoa, berharap selamat dari tragedi mencekam yang tiba-tiba menerjang malam tenang itu. Sementara para aparat, di pihak mereka, hanya menderita luka tusukan dari beberapa partisipan diskusi malam itu.
Haikal, salah seorang warga Desa Cot Kreh yang mendengar keributan itu, segera berlari menuju tempat kejadian. Tanpa rasa takut sedikitpun, ia berteriak lantang, menghentikan kekacauan yang sedang berkecamuk hebat. Ia dengan sadar memaki orang-orang yang sedang riuh dengan pertumpahan darah itu.
“Kenapa kalian saling membunuh…? Keadilan macam apa yang sedang kalian cari…?”
“Di sini pekarangan warga, kalian tahu ga…?! Ini bukan lapangan tembak yang bisa kalian pakai seenaknya!” Haikal membentak aparat yang masih menggenggam erat pistolnya.
“Mereka hanya menggelar diskusi… Apakah berdiskusi pun kini mulai dilarang di tanah air sendiri?” Kesabaran Haikal mulai terkikis menghadapi situasi yang mencekam itu.
Belakangan baru diketahui, Haikal adalah seorang tokoh masyarakat yang juga bekerja di sebuah lembaga intelijen negara. Kewibawaannya dikenal luas, sosoknya disegani oleh masyarakat setempat, bahkan sebagian aparat yang malam itu turun ke lapangan mengenalnya secara pribadi. Begitu mengenali sosok Haikal, mereka serempak menurunkan senjata yang sejak tadi tergenggam erat. Seorang komandan lapangan pun memerintahkan pasukannya untuk mengikuti, menurunkan senjata satu demi satu.
Namun ketenangan yang dipaksakan itu tak lantas memulihkan luka yang telah menganga. Di sudut pekarangan, seorang mahasiswa menjerit histeris. Mukhtar, tokoh masyarakat yang malam itu turut hadir untuk berdiskusi, tersungkur dengan luka tembak di perutnya. Ia masih bernafas, nafasnya kian pendek, kian sengal.
“Bawa dia ke rumah sakit, sekarang!” teriak Haikal, suaranya lantang memecah kebekuan yang masih menyelimuti pekarangan itu. Dua mahasiswa segera menggotong tubuh Mukhtar ke mobil bak terbuka terdekat, melesat membelah malam yang mencekam.
Haikal merogoh ponselnya dengan tangan yang masih sedikit bergetar. Ia menekan nomor yang sudah lama tak pernah ia hubungi, nomor seorang sahabat lama yang sekarang menjabat sebagai deputi di lembaga tempatnya bernaung.
“Bang, ini Haikal. Saya butuh bantuan, malam ini, sekarang, di Cot Kreh. Ada operasi aparat yang menembak warga sipil yang sedang berdiskusi. Dua orang jatuh, satu di antaranya sudah meninggal di tempat. Saya minta tim independen turun, dan saya minta atasan tahu langsung dari saya, bukan dari laporan yang sudah dipoles,” ucapnya tegas, tanpa basa-basi.
Di ujung telepon, terdengar suara yang sempat terkejut sebelum akhirnya menjawab serius, “Saya kabari langsung malam ini. Tahan posisi, jangan biarkan barang bukti hilang.”
Malam itu, seluruh aparat yang melakukan operasi dipaksa untuk tetap berada di lokasi. Nama mereka beserta satuannya sudah berada di tangan Haikal. Ia bersama beberapa aparat dari satuannya telah mengamankan TKP. Garis polisi menjadi pembatas yang tak boleh dilalui sesiapa. Jasad Agam dipantau agar tidak ada yang menyentuhnya sebelum tim forensik tiba. Tak ada satupun warga yang boleh merekam kejadian itu. Semua hp disitu oleh rekan-rekan Haikal.
Esok paginya, kabar penembakan itu sudah tersiar ke seluruh penjuru kota. Media nasional pun tak luput dari kejadian semalam. Ada yang menyebutnya ‘tragedi malam Minggu di Cot Kreh,’ sebagian lain menyebutnya ‘pembungkaman paksa atas forum diskusi damai.’ Mahasiswa dari berbagai kampus turun ke jalan, membawa spanduk bertuliskan nama Agam dan Mukhtar, menuntut transparansi dan keadilan. Buruh, ojol, hingga masyarakat sipil turut meramaikan, menyeruak ke jalanan, menyuarakan ketidakadilan yang masih hangat.
Esok lalu, Mukhtar yang dirawat di ruang intensif akhirnya menyusul Agam. Dua nyawa melayang dalam satu malam yang seharusnya hanya diisi diskusi dan tawa.
Investigasi yang dipimpin tim independen, atas desakan Haikal dan tekanan publik yang tak kunjung surut, mengungkap fakta yang mengejutkan. Belakangan diketahui bahwa operasi malam itu digelar berdasarkan laporan intelijen yang keliru. Seorang informan lapangan, yang ternyata menyimpan dendam pribadi dengan salah satu pengelola forum diskusi itu. Ia melaporkan bahwa pertemuan rutin tersebut adalah gerakan akar rumput yang merencanakan makar. Tak ada verifikasi mendalam sebelum perintah operasi diturunkan. Tanpa upaya dialog sebelum moncong senjata diarahkan ke kerumunan yang sedang asik berdiskusi dan melantunkan puisi.
Sidang Mahkamah Militer berlangsung selama tiga bulan, disorot ketat oleh publik dan lembaga pemantau hak asasi manusia. Haikal, dengan posisinya yang strategis, memastikan setiap rekaman, setiap kesaksian, dan setiap proyektil yang ditemukan di lokasi diajukan sebagai barang bukti tanpa ada yang direkayasa.
Fakta-fakta yang terungkap di persidangan membuat publik geram. Komandan lapangan yang memberi perintah tembak tanpa konfirmasi data intelijen, serta prajurit yang melepaskan tembakan pertama ke arah Agam, terbukti melanggar protokol penggunaan kekuatan mematikan terhadap warga sipil yang tak bersenjata. Tindakan itu tidak dilakukan karena kelalaian atau salah sasaran, melainkan dengan kesadaran penuh bahwa yang mereka hadapi hanyalah sekumpulan anak muda dan tokoh masyarakat yang sedang menghidupkan literasi di lingkungan desa.
Setelah melalui proses panjang, Mahkamah Militer menjatuhkan putusan: komandan lapangan dan prajurit penembak dijatuhi hukuman mati atas tindakan pembunuhan berencana terhadap warga sipil dalam operasi yang tidak sah. Beberapa aparat lain yang turut terlibat dijatuhi hukuman penjara berat, sementara informan yang memberikan laporan palsu juga diseret ke meja hijau atas tuduhan memberikan keterangan palsu yang menyebabkan hilangnya nyawa warga sipil.
Putusan itu disambut isak tangis haru bercampur lega oleh keluarga Agam dan Mukhtar yang hadir di ruang sidang. Mereka tak menginginkan balas dendam. Mereka tahu betul takkan mampu melawan. Kedua keluarga itu tidak memiliki siapapun untuk membela diri di persidangan. Namun, berkat Haikal dan tim independen, keadilan kini ditegakkan. Walaupun masih menyisakan duka mendalam bagi keluarga korban, akhirnya mereka bisa tidur pulas.
***
Enam bulan kemudian, pekarangan belakang asrama provinsi kembali penuh dengan tumpukan buku, jejeran kopi yang sudah diseduh dan siap untuk diseruput di malam yang dingin. Partisipan kembali memadati bangku-bangku diskusi. Meja-meja sederhana dan batang kayu yang dijadikan kursi tetap di tempatnya. Ada yang berbeda dari malam-malam sebelumnya. Kini, di atas rak yang tertempel di dinding sudah ada sebuah plakat kecil bertuliskan nama Agam dan Mukhtar yang diselingi berbagai tumpukan buku. Nama dua sahabat yang gugur kini tetap hidup di tengah gemuruh diskusi mereka. Dua nama yang tidak gurgur secara sia-sia. Mereka gugur dalam mencintai aksara dan ilmu pengetahuan, yang kini semakin bergelora. Mereka menjadi lambang dari perjuangan literasi, perjuangan melawan kejahilan.
Yacob, Amar, dan kawan-kawan lain yang dulu selamat dari malam berdarah itu, saat ini menjadi motorik utama forum itu. Mereka melanjutkan tradisi membaca buku, berdiskusi, dan melantunkan puisi setiap malam Minggu. Tentu saja ditemani racikan kopi yang biasanya terasa enak sedunia. Malam ini kopi itu terasa hambar karena kenangan yang belum sepenuhnya pulih. Tapi, kali ini dengan satu kursi kosong yang selalu disisakan, sebagai penghormatan bagi dua sahabat yang tak lagi bisa hadir. Bagi mereka, raga boleh terpisah, tapi jiwa tetap bersama.
Haikal, yang kini dikenal luas sebagai sosok yang berani memperjuangkan keadilan, tetap rutin singgah ke forum itu. Ia tak banyak bicara, hanya duduk di sudut, menyesap kopi, dan mendengarkan diskusi yang kini bisa berlangsung tanpa rasa takut.
Malam itu, sebelum diskusi dimulai, seorang mahasiswa baru membacakan sebuah sajak yang ia tulis sendiri, didedikasikan untuk Agam dan Mukhtar:
Di dalam ruang suwung ini,
kata-kata kembali tumbuh dari tanah yang basah oleh duka.
Mereka yang gugur bukan karena bersalah,
tak juga berpisah.hanya tubuh yang tetap berdiri
walau ditembaki seribu kata,
lidah yang dipotong,
lalu tumbuh lagi dari akar yang sama.Suara itu menjelma raungan paling keras,
mulut-mulut yang dulu dijahit,
kini robek sendiri oleh sunyi yang terlalu lama ditelan.Sebab keadilan, sekali waktu,
menumbuhkan taring dari luka yang lama membatu,
lalu pulang menagih hutang yang tak pernah berlalu.
Riuh tepuk tangan memenuhi pekarangan itu. Harapan untuk terus berkarya dan bersuara sama sekali tidak mustahil di tempat ini.
