oleh: Shadrina Fitrya (XI-8)
Bagai ladang yang tak pernah disapa hujan,
Laksana layang-layang yang kehilangan angin,
Seperti anak burung yang mencicit
Menanti induknya kembali pulang.
Dan aku…
Masih berharap jiwamu kembali,
Walau kutahu harapan itu
Hanya tinggal do’a yang kupanjatkan setiap hari.
Cukup sekali aku merasakan sepi,
Sunyi yang tumbuh dalam rindu abadi.
Setiap kenangan melekat erat di hati,
Tak lekang meski waktu terus berlari.
Masih kuingat saat kau di sini,
Menemani setiap detik yang berlalu,
Menjadi tempat pulang bagi lelahku,
Menghapus takut yang diam-diam tumbuh.
Namun akhirnya kau pergi,
Tanpa pernah kembali.
Meninggalkan sunyi yang menetap,
Seakan waktu ikut berhenti.
Andai Allah mengizinkan kita bertemu lagi,
Tak akan kulepaskan ragamu.
Raga yang dahulu setia menggenggam
Langkah-langkah kecilku yang bagitu rapuh.
Raga yang selalu hadir
Di setiap tangis dan air mata,
Yang menjadikanku merasa
Bahwa dunia masih baik-baik saja.
Dan jika diberi kesempatan hidup sekali lagi,
Semoga tetap engkau yang Allah pilih,
Menjadi pelindung bagi hati yang rapuh ini,
Dan tetap menjadi pelindung bagi malaikat kecilmu [].
