oleh: Niswatul Chaira
Halo sahabat literasi….
pernah nggak sih kepikiran kalau bagian paling penting dalam hidup kita itu justru yang paling sering kita anggap biasa?
Di pelajaran biologi, kita dikenalkan dengan mitokondria sebagai “pembangkit energi sel.” Kedengarannya simpel, bahkan agak membosankan. Tapi coba deh kita lihat lebih dalam. Ternyata mitokondria itu sebenarnya bukan sekadar mesin, dia adalah alasan kenapa sel kita bisa hidup, bergerak, dan bertahan.
Dan anehnya, semakin dipikir-pikir… perannya mirip banget sama ibu.
Secara fakta, mitokondria punya peran utama dalam menghasilkan energi melalui proses respirasi sel. Tanpa energi ini, tubuh kita literally tidak dapat melakukan apa-apa, tidak bisa berpikir, berjalan, bahkan bernapas dengan normal. Tapi yang bikin makin menarik, mitokondria itu diwariskan dari ibu. Artinya, energi yang menopang hidup kita hari ini, sebagian berasal dari ibu, bukan cuma secara emosional, tapi juga secara biologis.
Coba bayangin deh!
In the other side, mitokondria juga punya peran penting dalam menjaga keseimbangan sel, termasuk mengatur kapan sel harus berhenti atau mati (apoptosis). Ini bukan hal negatif, justru ini cara tubuh melindungi diri dari kerusakan yang lebih besar.
Kalau dipikir secara opini, ini relate banget sama sosok ibu. Ibu nggak cuma “memberi energi” lewat kasih sayang dan perhatian, tapi juga penjaga batas. Kadang ibu harus tegas, kadang terlihat terlalu banyak aturan. Tapi sama seperti mitokondria, semua itu dilakukan demi menjaga “sistem” tetap sehat.
Uniknya lagi, mitokondria itu nggak pernah terlihat, nggak pernah kita sadari keberadaannya sehari-hari. Tapi begitu dia bermasalah, dampaknya langsung terasa ke seluruh tubuh. Ibu juga gitu. Selama semuanya berjalan baik, kita sering lupa betapa besarnya peran dia. Tapi saat dia lelah, sakit, atau bahkan nggak ada… baru terasa kosongnya.
Meskipun sudah nggak serumah, sudah punya jalan hidup masing-masing, bahkan mungkin jarang komunikasi peran ibu itu nggak pernah benar-benar hilang. Nilai-nilai yang dia tanam, cara dia mendidik, bahkan kebiasaan kecil yang dulu kita anggap sepele, semuanya tetap “hidup” dalam diri kita.
Kadang kita ngerasa sudah mandiri, sudah bisa berdiri sendiri. Tapi kalau jujur, banyak “energi” dalam diri kita itu hasil dari apa yang ibu tanam sejak dulu. Cara kita menghadapi masalah, cara kita bangkit saat jatuh, bahkan cara kita peduli sama orang lain itu semua ada jejak ibu di dalamnya.
Dan yang paling dalam, hubungan itu nggak harus selalu terlihat untuk tetap ada.
Mitokondria nggak pernah kelihatan, tapi keberadaannya nyata dan penting. Hubungan dengan ibu juga nggak selalu harus diwujudkan dengan kedekatan fisik setiap hari. Kadang cukup dengan ingatan, doa, atau bahkan kebiasaan kecil yang kita lakukan tanpa sadar itu sudah jadi bukti bahwa hubungan itu masih hidup.
Jadi kalau suatu hari kamu merasa jauh dari ibu entah karena jarak, waktu, atau keadaan ingat satu hal,
ada bagian dari dirimu yang secara nyata berasal dari dia, yang terus bekerja menjaga kamu tetap hidup sampai sekarang. Itu bukan sekadar perasaan. Itu fakta.
Akhirnya, mungkin kita nggak selalu bisa mengungkapkan semuanya. Tapi setidaknya, kita bisa lebih sadar bahwa hubungan itu nggak pernah benar-benar putus. Seperti mitokondria dalam sel kita,
ibu bukan cuma bagian dari masa lalu, dia adalah bagian dari diri kita yang terus ada, selamanya.
Jadi mungkin selama ini kita terlalu menyederhanakan banyak hal. Kita menyederhanakan mitokondria jadi sekedar “pabrik energi.” Kita juga sering menyederhanakan ibu hanya sekedar “orang rumah.” Padahal keduanya punya peran yang jauh lebih kompleks, lebih dalam, dan lebih penting dari yang terlihat.
Dari hal kecil seperti mitokondria, kita bisa belajar satu hal besar,
bahwa yang paling penting dalam hidup seringkali bekerja dalam diam.
Jadi, sebelum kamu lanjut ke aktivitas berikutnya, coba deh kirim pesan sederhana ke ibu. Nggak perlu panjang, nggak perlu puitis. Cukup bilang, “terima kasih.”
Karena seperti mitokondria dalam sel mu,
ibu mungkin nggak selalu terlihat… tapi tanpa dia, kamu nggak akan jadi kamu yang sekarang [].
