Kepercayaan Masyarakat di Masa Awal Islam, Antara Meyakini dan Mengingkari Kenabian

Oleh Azmi Abubakar
Pengajar Sejarah Islam

Sejarah kenabian telah mencatat peradaban dan mewarnai pola kehidupan manusia, dimana kehadiran seorang Nabi di tengah masyarakat yang sebelumnya memiliki kepercayaan menyimpang, sarat dengan kepentingan kekuasaan dan ekonomi. Oleh karena itu, kehadiran seorang Nabi bertujuan meluruskan kembali cara berpikir kemanusiaan dalam bentuk yang ideal. Inilah kemudian yang mewarnai kehidupan masyarakat Arab di awal Islam. Rasulullah Saw berdakwah di tengah masyarakat yang mengagungkan kehormatan, kekuasaan dan ekonomi.Husein Muknis dalam turut mengambarkan kehormatan bangsa Quraisy tersebut:


ومع أن المجتمع القرشي المكي كان مجتمع رجال فهم سادته وأصحاب الكلمة فيه فإن القرشيات كن يتمتعن بمكانة محترمة


Artinya: Meskipun masyarakat Quraish di Mekah adalah masyarakat yang didominasi oleh laki-laki yang memegang kendali dan memiliki suara, para wanita Quraish tetap menikmati status yang terhormat. (Husein Muknis, Tarikh Quraisy, Jeddah, Darus Saudiy, 1988, h. 227).  1988, h. 227).

Faktanya lagi bahwa masyarakat Jahiliyah Arab mengenal Allah sebagai Khalik, adanya tradisi berdoa, nazar dan berhaji menjadi rutinitas keseharian. Allah SWT berfirman dalam Alquran Surah Luqman ayat 25:


وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ مَنْ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضَ لَيَقُولُنَّ اللهُ قُلِ الْحَمْدُ للهِ بَلْ أَكْثَرُهُمْ لاَ يَعْلَمُونَ


“Artinya: “Dan sesungguhnya jika kamu tanyakan kepada mereka: “Siapakah yang menciptakan langit dan bumi?” Tentu mereka akan menjawab: “Allah”. Katakanlah: “Segala puji bagi Allah”; tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui.”

Lambat laun hal ini  telah tereduksi dengan ajaran politeisme, dan perubahan pola kehidupan. Pengaruh luar karena perdagangan bangsa Quraisy mendominasi perubahan itu. Paganisme Arab tidak menafikan Allah sebagai Tuhan tertinggi, sementara berhala-berhala berfungsi sebagai perantara, yang bisa diajak tawar-menawar, dan lebih akrab dengan urusan sehari-hari. Lebih lanjut paganisme ini telah meyakini bahwa nasib manusia ditentukan oleh tanda-tanda alam, ramalan dan undian anak panah. 

Husen Muknis turut menyebut penulis barat Robertson Smith yang menulis bukunya tentang perkembangan sistem sosial bangsa Arab.  Keberadaan totemisme di kalangan orang-orang Arab kuno, yakni keterikatan orang orang antara satu sama lain melalui ikatan pemujaan terhadap sesuatu, binatang atau tumbuhan.

فقال بوجود الطوطمية عند العرب القدماء أي ارتباط الناس بعضهم ببعض برابطة عبادة شيء أو حيوان أو نبات يسمى طوطما


Artinya:  Dia berkata bahwa totemisme ada pada bangsa Arab kuno, yaitu hubungan antarmanusia yang terikat oleh penyembahan terhadap sesuatu, hewan, atau tumbuhan yang disebut totem.(Husein Muknis, Tarikh Quraisy, Jeddah, Darus Saudiy, 1988, h. 227).  1988, h. 227).

Di antara contoh sisa-sisa Totemisme adalah bani Asad, Tsa’lab, Kalb dan yang lainnya. Husen Muknis menyebutkan kembali bahwa para peneliti Arab  menyangkal pandangan Robertson Smith, karena motif harga diri dan tidak rela jika bangsa Arab dianggap memiliki asal usul yang mirip dengan asal-usul suku-suku primitif dengan tingkat peradaban yang rendah. Sebab bangsa Arab adalah manusia seperti manusia lain pada umumnya. Dalam proses perjalanan perkembangannya, mereka juga melalui jalur yang sama seperti yang dilalui oleh kelompok-kelompok masyarakat lainnya.

Selanjutnya Husein Muknis juga menyebut pemikiran orientalis Skotlandia, Montgamer Watt dalam salah satu lampiran Jilid kedua dari bukunya tentang kehidupan Muhammad  membicarakan tentang beberapa praktik orang Arab pra-Islam dalam masalah pernikahan dan ashabah.

Husen Muknis menyimpulkan bahwa para penulis tersebut sebagian besar mengacu pada referensi-referensi Arab, akan tetapi mereka mengalami kekeliruan interpretasi yang kurang tepat dan niat yang tidak baik. Hal ini juga tidak berbeda jauh dengan apa yang ditulis Snouc Hurgronje, antropolog dan Orientalis asal Belanda dalam bukunya Mekka edisi bahasa Jerman menulis pandangannya tentang sikap bangsa Arab di Mekkah dalam perjalanannya menerima Islam. 

Als Muhammed 630 nach siebenjährigem Kampfe seine Vaterstadt durch Vertrag einnahm, waren die Quraischiten mehr von der Ge-walt seiner Religion überzeugt als von ihrer Wahrheit; später, als sie selbst durch den Islam zur Grösse gelangten, wurden sie wirklich in ihrer Weise Muslime.

Artnya: Ketika Muhammad pada tahun 630, setelah tujuh tahun berperang, merebut kota kelahirannya melalui perjanjian, kaum Quraish lebih yakin akan kekuatan agamanya daripada kebenarannya; kemudian, ketika mereka sendiri mencapai kejayaan melalui Islam, mereka benar-benar menjadi Muslim dengan cara mereka sendiri. (Snouck Hurgronje, C, Mecca (Saudi Arabia) Social life and customs,  Canada, University Of Toronto Library, 1888, h. 11).

Selanjutnya dalam dakwahnya, Rasulullah berusaha mengoreksi penuh tentang pola kehidupan masyarakat kala itu. Konsekuensi dari itu semua, terjadilah penerimaan dan perlawanan. Perlawanan muncul karena gengsi dan status sosial.  Ada kaum yang kali pertama meyakini kenabian dari golongan lemah (mustad’afin) , hal ini mengulang kembali pola yang sama semenjak nabi-nabi sebelumnya. Risalah kenabian telah menjadi usaha pembebasan dan jeratan dari penjajahan kekuasaan dan pikiran yang tidak ideal. Penerimaan risalah kerasulan juga berasal dari kaum yang mengalami penjajahan dari sistem jahiliyah ini, dimana sesuatu yang benar menjadi salah atau sebalikya. Tentang jahiliyah ini Allah SWT berfirman dalam Alquran Surah  al-Maidah ayat 50:


أَفَحُكْمَ الْجَاهِلِيَّةِ يَبْغُونَ وَمَنْ أَحْسَنُ مِنَ اللَّهِ حُكْمًا لِقَوْمٍ يُوقِنُونَ


Artinya: Apakah mereka mau mencari hukum Jahiliyah. Siapa yang lebih baik hukumnya bagi orang yang yakin?

Ayat ini menyebut salah satu ciri khas jahiliyah itu yakni adanya kaum meninggalkan aturan Allah dan lebih mengedepankan aturan yang dibuat sendiri. Sementara di sana banyak pelanggaran terhadap hukum Allah.

Adanya sifat siddiq dan keluhuran akhlak dari Rasulullah menambah kekuatan meraka untuk beriman. Sebaliknya ketidakpercayaan kepada Rasulullah dari para elit Quraisy sarat dengan gengsi sosial. Sejatinya mereka mengenal Rasul sebagai orang yang memiliki sifat jujur dan amanah. Sekali lagi ada ketakutan besar akan kehilangan kekuasaan.

Hadirnya Risalah kenabian dinilai dapat meruntuhkan kekuasaan dan kekayaan mereka. Menerima kenabian berarti mengakui bahwa cara hidup lama keliru. Dan bagi banyak orang, mengakui kesalahan jauh lebih berat daripada menolak kebenaran. Al-Qur’an merespons pengingkaran ini dengan  mengingatkan sejarah nabi-nabi terdahulu, dan menegaskan bahwa penolakan terhadap Rasul adalah pola berulang dalam sejarah manusia.

Di masa awal Islam, Quraisy melakukan perlawanaan dengan menyerang wahyu sebagai mitos, Dalam Alquran disebut sebagai asathir awalin, menganggap alquran sebagai produk manusia. Allah SWT berfirman dalam Alquran Surah An Nahlu ayat 24:


وَاِذَا قِيْلَ لَهُمْ مَّاذَآ اَنْزَلَ رَبُّكُمْۙ قَالُوْٓا اَسَاطِيْرُ الْاَوَّلِيْنَ 


Artinya: Apabila dikatakan kepada mereka, “Apa yang telah Tuhanmu turunkan?” Mereka menjawab, “Dongeng-dongeng orang terdahulu.”

Syekh Muhammad Abu Zahrah menafsirkan ayat tersebut:


أي أنهم لا يرون في القرآن إلا قصصا، ولا في قصصه إلا أنه أسطورة من أساطير الأولين


Artinya: “Artinya, mereka hanya melihat Al-Qur’an sebagai kumpulan cerita, dan cerita-cerita di dalamnya hanyalah mitos dari mitos-mitos zaman dahulu. (Zahrah At Tafasir, Muhammad Abu Zahrah, Kairo, Darul Arabi. tt. Jld. VIII, h. 4157).

Ketika Quraisy berbenturan dengan dakwah Islam, kita akan melihat bahwa seluruh suku tetap bersikap dengan penuh pertimbangan akal sehat. Para tokoh senior suku memang yang menguasai urusan, akan tetapi mereka menyerahkan pengambilan sikap kepada generasi di bawah mereka. akan tetapi ketika dari generasi di bawah mereka itu tidak mampu menyelesaikan masalah yang ada, keadaan semakin memburuk, serta persatuan dan kepentingan Quraisy terancam, maka kita akan melihat bagaimana para senior tersebut langsung turun tangan dan mengambil alih urusan yang ada. Dengan penuh kehati-hatian, mereka mencoba untuk melakukan komunikasi dengan Nabi Muhammad dan Abu Thalib.

Di antaranya adalah dengan menguasai seluruh media informasi dengan membentuk opini tentang Rasulullah serta menggalang kekuatan dengan menggunakan ashabiyah kesukuan. Penyerangan Quraisy terhadap  dakwah Islam berlanjut dengan Intimidasi. Tetapi risalah kenabian tidak dapat dibendung, hingga pada akhirnya kebenaran menemukan jalannya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *