Panduan Praktis Membunuh Imajinasi Generasi Penerus
“Setiap anak adalah seniman. Masalahnya adalah bagaimana tetap menjadi seniman ketika ia tumbuh dewasa.”
— Pablo Picasso —
Selamat datang di era modern pendidikan dan pengasuhan! Di mana kita, para orang dewasa yang bijaksana, telah menemukan formula sempurna: anak-anak harus menjadi fotokopi dari keinginan kita. Mengapa repot-repot membiarkan mereka berpikir sendiri, kan? Toh, kita sudah lebih dulu hidup, jadi sudah pasti kita lebih tahu apa yang terbaik untuk mereka. Kreativitas? Ah, itu hanya istilah mewah untuk “tidak teratur” dan “susah dikontrol.”
Langkah Pertama: Guru tidak pernah salah
Mari kita mulai dari ruang kelas. Seorang guru yang baik tentu saja adalah guru yang sudah menyiapkan template sempurna untuk setiap tugas. Ketika seorang anak menggambar pemandangan di kebun binatang yang sedang bermain, segera koreksi! Pemandangan itu, ya dua pegunungan, matahari yang menggantung di antaranya dan berwarna kuning keemasan, bukan ungu, bukan pula terletak di sudut pegunungan. Pegunungan pun bukan berwarna merah, tapi hijau. Tidak peduli bahwa di imajinasi anak, matahari ungu itu indah dan mungkin melambangkan sesuatu yang mendalam. Yang penting, semua gambar pemandangan di kelas harus seragam: Dua pegunungan berwarna hijau, matahari yang menggantung diantaranya, juga terdapat jalan setapak di tengah gunung itu. Tak lupa, sawah di kiri dan kanan jalan yang tentunya berwarna hijau. Ada juga sebuah rumah kecil di kawasan sawah itu. Rapi, teratur, tanpa jiwa.
Begitu pula dengan karangan. Untuk apa membiarkan anak menulis tentang petualangan robotnya yang bisa terbang ke bulan? Tema sudah ditentukan: “Liburan ke Rumah Nenek.” Semua anak harus menulis tentang ini. Tidak ada pengecualian. Kalau ada yang bilang neneknya tinggal di luar negeri atau bahkan sudah meninggal? Suruh saja berimajinasi, pura-pura masih hidup. Eh, tunggu. Maksudnya, tulis saja siapapun yang ada disekitarnya.
Langkah Kedua: Orang Tua Penentu Masa Depan
Sekarang kita beralih ke rumah. Orang tua yang bertanggung jawab tentu sudah merencanakan masa depan anaknya sejak anak itu masih dalam kandungan. Dokter, Polisi, Tentara, atau PNS—hanya empat pilihan ini yang ‘layak’. Anak suka menggambar? “Hobi saja, Nak. Nanti kalau sudah jadi dokter baru boleh gambar-gambar.” Anak berbakat musik? “Musik itu tidak menjanjikan. Kamu harus masuk sekolah polisi. Dari pekerjaan itu, nanti kamu akan banyak uangnya.”
Yang paling indah adalah ketika anak itu sendiri bahkan tidak tahu lagi apa yang ia sukai. Setiap kali ditanya cita-citanya, ia akan menjawab seperti burung beo: “Saya ingin jadi dokter, Bu. Saya Polisi, Bu.” Sempurna! Inilah hasil didikan yang konsisten. Anak yang tidak lagi memiliki mimpi sendiri, karena mimpinya sudah diganti dengan mimpi orang tuanya.
Langkah Ketiga: Kreativitas = Ancaman
Harus diakui, kreativitas itu menakutkan. Anak yang kreatif itu susah ditebak, susah dikendalikan, dan mereka sering bertanya “Mengapa?”. Pertanyaan ini adalah musuh utama sistem yang sudah baku. Lebih baik memiliki 30 anak yang diam dan patuh daripada satu anak yang kritis dan inovatif.
Kreativitas juga berisiko. Bagaimana jika anak itu nanti benar-benar memilih jalannya sendiri? Bagaimana jika ia sukses dengan cara yang tidak pernah kita bayangkan? Atau lebih buruk lagi, bagaimana jika ia bahagia melakukan sesuatu yang menurut kita ‘tidak bergengsi’? Tidak, tidak. Terlalu berisiko. Lebih baik ikuti saja jalan yang sudah ‘terbukti aman’.
Doktrinisasi: Dikte, Batasi, Ulangi
Berikut doktrinisasi yang sukses diterapkan selama puluhan tahun:
1. Anak menunjukkan minat pada sesuatu yang ‘aneh’ = Abaikan atau kritik
2. Anak mencoba cara berbeda = Koreksi agar kembali ke cara ‘standar’
3. Anak bertanya “Kenapa harus begini?” = Jawab dengan “Karena memang begitu!”
4. Anak terlihat kehilangan semangat = Salahkan gadget atau teman-temannya
Sempurna, bukan? Dengan cara ini, kita berhasil menciptakan generasi yang: Tidak berani mengambil risiko, takut berbeda dari yang lain, Selalu mencari ‘jawaban yang benar’ ketimbang jawaban yang inovatif, Tidak percaya pada kemampuan sendiri.
That’s perfect. Perpaduan yang sempurna, bukan?
Standarisasi Adalah Segalanya
Ujian nasional (atau apalah namanya sekarang), ranking, nilai raport: ini adalah satu-satunya tolak ukur kesuksesan. Bukan bagaimana anak itu berkembang sebagai individu, bukan bagaimana ia belajar memecahkan masalah dengan caranya sendiri, apalagi bukan bagaimana ia menemukan passionnya sendiri. Yang penting, angka di atas kertas, ijazah sudah berada di tangannya. Urusan nyontok di kelas? Biarkan saja, asalkan nilai di rapornya bisa masuk nominasi perangkingan.
Kalau ada anak yang nilai matematikanya 100 tapi tidak punya teman karena tidak pernah diajari empati, tidak masalah. Kalau ada anak yang hafal semua rumus tapi tidak tahu cara berpikir kritis, itu sukses besar! Yang penting lulus dengan nilai tinggi, masuk perguruan tinggi favorit, dan dapat pekerjaan bergengsi.
***
Mengapa banyak lulusan terbaik kita justru bekerja untuk orang-orang yang dulu nilai sekolahnya biasa-biasa saja?
Saya pernah menanyakan hal yang sama kepada kawan saya. Dan, jawabannya dibuktikan dengan fakta di negara kita. “Sebagai WNI, kamu memiliki nilai yang biasa saja di sekolah, dan kamu punya paman di instansi itu. Sudah paham kan sejauh ini?”
Sebenarnya, bukan tidak mungkin orang yang memiliki kompetensi luar biasa itu, yang lulusan terbaik itu menjadi ‘bos’. Hanya saja, ia cenderung membutuhkan waktu yang lama untuk survive, bahkan bisa jadi di umur 40 tahun. Saat itu terwujud, ia sulit dikalahkan. Tentunya, dengan catatan ia paham bagaimana teknik berkomunikasi dan cara bangun relasi. Menjadi leader di tempat orang lain saja perlu relasi, apalagi menjadi bos di tempat sendiri. Jadi, ingin sekedar punya gelar atau menjadi pintar menurut versi sendiri?
Mungkin, hanya mungkin, kita perlu berhenti sejenak dan bertanya pada diri sendiri: Apakah kita mendidik anak-anak untuk menjadi versi terbaik dari diri mereka sendiri, atau hanya untuk menjadi apa yang kita inginkan?
Peran guru dan orang tua seharusnya seperti kompas, bukan rantai. Mengarahkan, bukan mendekte. Membimbing, bukan memaksakan. Memberikan batasan moral memang penting, tetapi bukan berarti mengurung mereka dalam kotak-kotak yang kita buat berdasarkan ketakutan dan ekspektasi kita sendiri.
Kreativitas bukanlah musuh. Kreativitas adalah masa depan. Dan ketika kita membunuh kreativitas anak hari ini, kita sedang merenggut masa depan mereka besok.
Tau apa saya tentang sistem pendidikan yang sudah diadopsi dari penjajah? Saya hanya orang yang berpendapat. Yang penting, anak-anak kita semua jadi dokter, polisi, tentara, dan PNS, bukan?
“Pendidikan bukan mengisi ember, tetapi menyalakan api.”
— William Butler Yeats —
Sayang sekali, kita lebih suka ember yang rapi dan seragam daripada api yang tak terduga.[]
