Sarasehan Dayah Jeumala Amal: Refleksi 38 Tahun Harmoni Iman, Ilmu, dan Alam

Mengikuti salah satu acara tahunan Dayah Jeumala Amal selalu memberi kesan tersendiri bagi saya. Apalagi ketika mengingat bahwa dayah tempat saya bekerja ini telah berusia 38 tahun—sebuah usia yang tidak singkat untuk sebuah lembaga pendidikan Islam yang terus bertahan, tumbuh, dan beradaptasi dengan zaman.

Acara yang saya ikuti kali ini adalah sarasehan. Menariknya, masih banyak yang belum benar-benar memahami apa itu sarasehan. Secara sederhana, sarasehan dapat dimaknai sebagai forum diskusi atau pertemuan bersama yang berlangsung dalam suasana santai namun bermakna. Tidak kaku seperti seminar formal, sarasehan memberi ruang dialog dua arah, berbagi gagasan, dan mempertemukan pengalaman dari berbagai sudut pandang untuk mencari pemahaman bersama atas suatu tema.

Sarasehan di Dayah Jeumala Amal kali ini terasa istimewa karena diisi oleh dua kuliah umum yang saling berkaitan. Kuliah pertama disampaikan oleh Manager BSI Islamic Ecosystem Business Solution Bank Syariah Indonesia (BSI) Regional Aceh. Beliau memaparkan bagaimana strategisnya perputaran ekonomi di lingkungan dayah, khususnya di Aceh. Dayah tidak hanya dipandang sebagai pusat pendidikan dan pembinaan akhlak, tetapi juga memiliki potensi besar sebagai penggerak ekonomi umat—mulai dari usaha berbasis santri, pengelolaan keuangan syariah, hingga ekosistem ekonomi yang berkelanjutan.

Kuliah umum kedua disampaikan oleh Prof. Aman Yaman, Wakil Rektor Universitas Teuku Umar Aceh. Beliau menyoroti pentingnya sektor peternakan di Aceh sebagai salah satu penopang kehidupan masyarakat. Aceh memiliki sumber daya alam yang melimpah, dan jika dikelola dengan baik, sektor peternakan dapat menjadi kekuatan ekonomi sekaligus sarana ketahanan pangan bagi daerah.

Dua paparan ini memiliki benang merah yang kuat: pemanfaatan alam untuk keberlangsungan dan kesejahteraan hidup manusia, tanpa mengabaikan nilai-nilai keberlanjutan dan tanggung jawab. Dayah, ekonomi, peternakan, dan alam ternyata saling terhubung dalam satu ekosistem kehidupan.

Benang merah tersebut semakin diperkuat sejak awal acara. Ketua Yayasan Laksamana Haji Ibrahim, T.H. Umar Laksamana, MBA, membuka sarasehan dengan sebuah pantun yang hangat namun penuh makna. Beliau kemudian mengajak para murid untuk mengingat dan memahami makna Surah Al-A’raf ayat 85, yang berbicara tentang kejujuran, keadilan, serta larangan merusak bumi setelah Allah memperbaikinya. Ayat ini seolah menjadi landasan spiritual bagi seluruh rangkaian diskusi.

Dalam kesempatan itu pula, beliau menyinggung program Ecopark Dayah Jeumala Amal yang akan mulai dijalankan tahun ini. Program ini menjadi bukti nyata bahwa dayah tidak hanya mendidik secara intelektual dan spiritual, tetapi juga berkomitmen menjaga alam sebagai amanah dari Allah SWT.

Sarasehan ini bukan sekadar acara tahunan, melainkan ruang refleksi bersama—tentang peran dayah di usia 38 tahun, tentang ekonomi, alam, dan tentang bagaimana nilai-nilai Al-Qur’an dapat diwujudkan dalam kehidupan nyata. Sebuah pengingat bahwa ilmu, iman, dan lingkungan sejatinya berjalan beriringan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *