Menjadi Teladan dengan Meneladani

Oleh: Muhammad Nizarullah

Rasulullah, sosok teladan bagi umat bukan? Guru, pemimpin sekaligus sahabat bagi umatnya. Mari sedikit berkaca pada keteladanan Rasullullah SAW. Ketika Rasulullah SAW memimpin pembangunan Masjid Nabawi di Madinah. Beliau tidak hanya memerintahkan para sahabat untuk bekerja, tetapi langsung turun tangan mengangkat batu dan tanah bersama mereka. Abu Bakar, Umar, dan sahabat lainnya melihat langsung bagaimana pemimpin sejati bekerja.

Ketika terjadi kelangkaan makanan di Madinah, Rasulullah SAW dan keluarganya adalah yang pertama merasakan lapar, bukan yang terakhir. Beliau mengikat batu di perutnya karena kelaparan, sementara tetap memberikan makanan yang ada kepada para tamu dan orang yang membutuhkan. Para sahabat menyaksikan langsung bagaimana seorang pemimpin mengorbankan kenyamanan pribadinya untuk kepentingan umum.

Umar bin Khattab pun menunjukkan keteladanan serupa. Ketika menjadi khalifah, beliau tidur di atas tikar yang meninggalkan bekas di tubuhnya, sementara para gubernur di bawahnya hidup dalam kemewahan. Ketika ditegur mengapa tidak hidup lebih layak, Umar menjawab, “Bagaimana aku bisa menikmati kemewahan sementara rakyatku ada yang kelaparan?”

Dalam sejarah Islam, keteladanan bukan sekadar konsep teoretis, melainkan praktik nyata yang dijalankan oleh Rasulullah SAW dan para sahabatnya.

Kontras tajam terlihat dalam dunia pendidikan hari ini. Kejujuran, kedisiplinan, dan tanggung jawab terus digencarkan di hadapan murid. Benar, itu nilai yang semestinya ditanamkan sejak dini. Tentu saja dengan memberikan contoh nyata dari seorang guru. Bukan dengan cara menunjukkan superior dan berdalih agar mereka patuh. Dampaknya bukan terkesan mendidik, tapi membuat kesan yang kurang baik bagi murid. Hasilnya, sudah pasti dianggap hipokrit oleh murid-muridnya.

Yang lebih memprihatinkan adalah ketika perilaku buruk ini dikritik, respons yang muncul justru defensif: “Jangan lihat aku yang sudah terlanjur seperti ini, tapi lihatlah apa yang aku ajarkan.” Atau yang lebih bermasalah lagi: “Ingat, aku ini gurumu. Hormati aku meskipun aku tidak seperti yang aku ajarkan.”

Pernyataan-pernyataan semacam ini menunjukkan pemahaman yang keliru tentang esensi menjadi pendidik. Guru yang berkata demikian seolah-olah memisahkan antara dirinya sebagai manusia dengan perannya sebagai pendidik, padahal keduanya tidak dapat dipisahkan. Perkataan buruk yang dilontarkan di hadapan murid malah menjadi pembenaran murid untuk melakukannya.

Terlebih murid yang sudah mulai bisa berfikir kritis, ia akan memahami bahwa kejujuran adalah konsep yang fleksibel tergantung posisi dan kepentingan.

Lebih dari itu, murid akan kehilangan respek yang sejati terhadap guru. Respek yang tersisa hanyalah respek semu yang didasarkan pada hierarki dan ketakutan, bukan pada kekaguman terhadap karakter dan integritas. Ini adalah fondasi yang rapuh untuk membangun proses pembelajaran yang bermakna. Bukan hanya soal belajar di ruang kelas, pendidikan karakter itu lebih penting untuk fondasi masa depannya. Alhasil, murid akan mengalami krisis identitas dan krisis karakter. Ini dampak jangka panjang yang mengerikan.

Coba kita berkaca pada Rasulullah. Bukankah dalam hadits Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.” Perhatikan, beliau tidak mengatakan “mengajarkan” tetapi “menyempurnakan,” yang mengimplikasikan bahwa beliau sendiri telah menjadi teladan akhlak mulia tersebut.

Para sahabat belajar bukan hanya dari kata-kata Rasulullah, tetapi terutama dari perbuatan dan sikap beliau dalam kehidupan sehari-hari. Mereka melihat bagaimana beliau berinteraksi dengan keluarga, bagaimana beliau berbisnis, bagaimana beliau memimpin, dan bagaimana beliau menghadapi kesulitan.

Inilah yang disebut “tarbiyah bil hal” (pendidikan melalui keadaan nyata), yang jauh lebih efektif daripada “tarbiyah bil maqal” (pendidikan melalui ucapan). Keduanya memang diperlukan, tetapi yang pertama adalah fondasi dari yang kedua.

Seorang guru sejati harus memahami bahwa mengajar bukanlah profesi yang bisa dipisahkan dari kepribadian. Guru bukan aktor yang bisa berganti peran ketika turun dari panggung. Guru adalah teladan hidup yang diamati murid-muridnya 24 jam sehari, bahkan ketika mereka tidak sadar sedang diamati.

Ketika seorang guru berkata, “Jangan tiru keburukanku,” pada dasarnya dia sedang mengajarkan kepada murid bahwa standar moral itu relatif dan dapat disesuaikan dengan posisi seseorang. Ini adalah pelajaran yang sangat berbahaya. Terlebih, jika murid menganggap itu sebagai kebenaran absolut.

Sebaliknya, guru yang sejati akan berkata, “Aku akan berusaha menjadi lebih baik setiap hari, dan mari kita belajar bersama-sama menjadi manusia yang lebih baik.” Ini adalah sikap yang menunjukkan kerendahan hati, komitmen untuk terus belajar, dan pengakuan bahwa mendidik adalah tanggung jawab yang memerlukan keteladanan nyata.

Keteladanan bukanlah tentang kesempurnaan, tetapi tentang konsistensi antara ucapan dan perbuatan, serta komitmen untuk terus memperbaiki diri. Rasulullah SAW dan para sahabatnya menunjukkan bahwa pemimpin sejati adalah mereka yang memimpin dengan teladan, bukan dengan otoritas semata.

Dalam konteks pendidikan modern, guru yang sejati adalah mereka yang memahami bahwa mengajar adalah amanah yang memerlukan keteladanan nyata. Mereka tidak bersembunyi di balik status atau jabatan ketika perilaku mereka tidak selaras dengan apa yang mereka ajarkan.

Menjadi teladan memang tidak mudah, tetapi itulah esensi dari profesi guru yang mulia. Sebagaimana Rasulullah SAW bersabda, “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lain.” Dan tidak ada cara yang lebih bermanfaat untuk mendidik generasi penerus selain dengan menjadi teladan yang hidup dari nilai-nilai luhur yang kita ajarkan.

Wallahu a’lam bishawab.[]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *