Sebuah Artikel Ilmiah Populer oleh Resya Diniya (Murid Kelas IX-6)
Kenapa sih banyak gen z sekarang yang akui dirinya sebagai introvert dan ekstrovert? Belakangan ini banyak dari kita melabeli diri sebagai introvert dan ekstrovert, tapi pertanyaannya apakah kita sudah benar-benar memahami kepribadian kita yang sebenarnya? atau kita cuman lelah aja?
Dunia yang menuntut kita untuk selalu aktif dan terhubung dengan sosial hal ini terkadang mudah salah diartikan, mereka yang bilang bahwa mereka itu sebenarnya ‘‘introvert’’ karena tidak ingin bergabung dengan banyak orang / malas bersosialisasi, padahal bisa jadi itu bukan soal kepribadian tapi sinyal dari tubuh dan mental bahwa kita butuh jeda.
Label seperti introvert dan ekstrovert memang bisa membantu kita memahami diri, tapi terkadang label itu juga lah yang membuat kita membatasi diri seolah jika kita benar-benar melabeli diri sebagai introvert kita tidak bisa bersosialisasi atau tampil.
Begitu juga jika kita merasa ekstrovert, kita harus selalu jadi pusat perhatian padahal capek juga kalau selalu tampil dan menganggap diri untuk selalu butuh perhatian orang lain. Padahal bisa saja kita melabeli diri sebagai introvert dan ekstrovert pada keadaan yang sesuai, ketika kita butuh sendiri maka menyendirilah dan perbaiki mental kita atau mental health karena kebutuhan akan keramaian berbeda-beda bagi setiap individu. Mungkin kita akan lebih merasa lebih nyaman dengan kesendirian atau lingkungan yang lebih tenang, tapi ada juga individu yang butuh akan keramaian karena dapat memberikan berbagai manfaat seperti rasa memiliki, dukungan sosial, dan kesempatan untuk belajar serta berkembang melalui interaksi dengan berbagai individu.
Jangan terlalu terburu-buru untuk memasukkan diri ke dalam kotak tertentu, karena kita semua hanya manusia biasa yang kadang ingin sendiri atau kadang ingin keramaian dan itu wajar.
