Zeb Si Zebra

Sebuah Fabel oleh Thasoedi (Guru MTs)

Kau ingat dia, bukan?

Zeb, si Zebra bertubuh besar, belangnya bukan cuma hitam dan putih—ada gurat abu-abu di antaranya, seperti jalan aspal yang mulai pudar dimakan hujan dan kebijakan pemerintah. Tahun-tahun itu, tahun ’74 mungkin, saat rokok dijual eceran dan anak-anak masih bermain gundu di bawah tiang bendera—kami bertiga sering duduk di emperan toko yang menjual gula eceran.

Aku, Biyung si burung elang kecil yang sayapku waktu itu masih suka gemetar saat terbang rendah, dan Kancil—ya, dia memang licik, tapi paling takut dosa. Tapi cerita ini bukan tentangku. Bukan tentang Kancil yang tobat sebelum malam Jumat. Ini tentang Zeb, yang sudah lebih dari sekadar zebra biasa. Dan tentang pertanyaan yang tak pernah benar-benar bisa kujawab.

Kami mengenalnya di Pasar Keude Peukan, di pinggir terminal tua di Pidie. Ia tidak banyak bicara waktu pertama kali datang, tapi ekornya mengibas seperti detak jam rusak: tak beraturan tapi terus berjalan. Di antara suara klakson L-300 dan lagu dangdut dari radio warung kopi, dia berkata dengan tenang:

“Yang penting bukan benar atau salah, tapi untung atau buntung.”

Kau akan tertawa jika tahu, kalimat itu ia ucapkan sambil mencuri sebungkus beras dari gerobak Pak Ular Sawah, yang tak bisa melihat dengan baik sejak terkena pestisida di musim tanam lalu.

Zeb bukan penjahat yang sembunyi-sembunyi. Dia penjahat yang membagikan hasilnya dengan santai, seolah ia adalah pemimpin koperasi gelap yang memperjuangkan keadilan versi dirinya sendiri.

Dan lucunya, kami ikut saja.

Kebaikan terlalu lambat, kawan.

Kau tahu? Saat Kancil ingin membantu Bu Musang tua yang kehilangan anaknya, dia menulis surat ke kepala hutan, menunggu persetujuan, diskusi, lalu pendataan. Hasilnya? Tiga minggu berlalu, anak musang ditemukan sudah jadi iklan susu kaleng. Tapi Zeb? Dia akan datangi Sarang Elang Hitam di perbukitan Geureudong malam itu juga, bakar separuhnya, dan anak musang bisa pulang meski kakinya pincang. Zeb melawan dengan cara kejam, tapi langsung. Kebaikan? Ia harus duduk dulu di meja rapat nurani.

Kami bukan korban. Kami pengikut. Kami memilih masuk ke lorong kejahatan karena di sana, semua terasa senasib. Tidak ada yang bertanya motif. Tidak ada yang menilai niat. Kau hanya perlu ikut arus gelap dan merasa dilindungi. Seperti berjalan dalam kabut: dingin, tapi kau tahu tak terlihat siapa-siapa. Aku melihat sendiri bagaimana seekor Babi Hutan yang biasa jadi bahan olok-olok, berubah jadi penjaga gudang hasil rampokan kami. Ia diperlakukan seperti saudara, dihormati meski hanya bisa menghitung sampai tiga. Dalam dunia Zeb, cacatmu bukan halangan. Bahkan, bisa jadi alasan dipilih. Tapi, aku mundur terlalu jauh. Kita kembali ke hari itu—hari di mana semuanya nyaris berhenti. Hari saat seekor bebek datang ke kampung kami.

Namanya Donald.

Ya, Donald Duck. Mungkin terdengar aneh, bahkan klise. Tapi dia datang seperti tokoh dalam mimpi buruk yang lembut—bersuara cempreng, membawa payung merah, dan entah bagaimana, ia tidak kotor meski melewati got depan Meunasah yang bahkan membuat Zeb harus cuci kaki dulu sebelum tidur.

Kami tertawa. Seekor bebek dari negeri dongeng datang ke Jawa tahun 70-an dan bicara soal “mendengarkan suara dalam hati.” Tapi dia tidak pernah menghakimi kami. Dia tidak mengatakan “Kalian salah.” Dia hanya duduk, makan tahu petis, dan berkata:

“Kadang kebaikan terlalu sibuk membuktikan diri, sehingga ia lupa menyelamatkan siapa pun.”

Zeb mendengarnya, tentu. Tapi dia tidak berkata apa-apa. Hanya mengecap tanah dengan kuku depannya yang tajam, seperti mencatat dalam hati bahwa Donald bukan ancaman. Bukan musuh. Tapi juga bukan bagian dari “kami.”

Lalu malam itu terjadi.

Zeb mengajak kami menyerang Kantor Simpan Pinjam Lembah Seulawah. Alasannya sederhana: “Mereka menyimpan emas hasil menindas rusa-rusa kecil.” Dan kami percaya saja. Dalam dunia kami, kebenaran adalah sesuatu yang bisa dibentuk lewat emosi, bukan bukti. Kami masuk lewat atap, menggunakan tangga curian dari gudang tikus-tikus tukang. Di dalam, tidak ada emas. Hanya arsip-arsip, surat-surat, dan satu keluarga kelinci penjaga malam yang ketakutan sambil memeluk bayi mereka. Aku, yang saat itu membawa obor, melihat mata bayi kelinci itu seperti kaca yang pecah dalam diam. Tiba-tiba aku tidak bisa bergerak. Kancil juga. Tapi Zeb?

Dia membakar setengah ruangan.

Donald muncul pagi harinya. Ia menolong kelinci-kelinci itu, membungkus luka mereka dengan daun-daun kering dan air gula. Ia bahkan tidak mencari kami. Tidak menanyai siapa pelakunya. Ia hanya duduk di dekat pohon beringin tua, berbicara ke angin:

“Aku tidak marah pada mereka. Aku hanya ingin tahu, siapa yang akan menyelamatkan orang lain saat yang baik sibuk berdebat tentang cara menyelamatkan.”

Sejak itu, kami bubar. Bukan karena takut. Tapi karena pertanyaan itu tidak bisa dijawab dengan cepat. Bahkan oleh kejahatan.

Zeb menghilang. Ada yang bilang dia pergi ke Sumatera Utara, jadi pengawal gajah. Ada juga yang bilang dia ditangkap Harimau Militer Hutan. Aku tidak tahu. Tapi aku tahu satu hal: Zeb tidak jahat karena dia haus kekuasaan. Dia jahat karena kebaikan terlalu lambat menawarkannya alternatif. Kami? Kami pulang ke sarang masing-masing. Kancil mulai menulis artikel di majalah mingguan hutan. Aku menjadi pengintai udara. Tapi luka itu tetap tinggal. Luka tentang kenapa dunia gelap lebih cepat memberi tempat, daripada dunia terang yang sibuk memilih siapa yang pantas masuk.

Kini, kau berdiri di sini. Membaca ceritaku. Mungkin kau menganggap aku hanya saksi yang lemah. Tapi aku ingin kau tahu: ini bukan pernyataan bersalah. Ini adalah pengakuan keberadaan.

Kejahatan terasa hangat, bukan karena benar, tapi karena menyambut siapa saja tanpa seleksi hati nurani. Kebaikan seringkali menyendiri karena takut salah langkah. Dan Donald… Dia tetap di sana. Kadang muncul di pojok warung kopi, duduk, mengobrol dengan anak-anak. Ia tidak pernah menyebut nama kami. Tapi matanya selalu menatap seperti ingin berkata:

“Aku tidak akan menyelamatkanmu. Aku hanya berharap suatu hari kau tak butuh diselamatkan.”

Aku tak ingin memberi “pesan moral.” Aku hanya ingin kau bertanya, seperti aku dulu:

Kenapa kebaikan harus serapi lemari arsip sebelum bertindak, sedangkan kejahatan cukup pakai niat dan sepatu butut untuk mengubah segalanya?

Karena selama itu belum dijawab, selalu akan ada Zeb lain yang muncul di pasar, memimpin mereka yang tak sabar menunggu cahaya datang dari langit, sementara perut mereka sudah sejak lama lapar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *