Suasana Salat Jum’at Di Masjid Pertama Benua Afrika Dalam Masa Pandemi

Muhammad Haikal Khaled Bin Jailani

Sekitar 10 atau 11 bulan sudah  kita dilanda musibah pandemi yang tak kasat mata, para buruh dan tenaga kerja terpaksa dikarantina. Aktivitas jadi sulit dan trauma juga melanda, akibat sang makhluk kecil yang cepat bersahabat dengan tubuh manusia. Seiiring berjalan waktu dan kewaspadaan, di beberapa negara semakin menurun angka positif. Namun di beberapa negara lain angka kematian dan yang terinveksi semakin melambung tinggi.

Sedikit lega tetapi tetap harus waspada, angka kasus covid 19 semakin menurun di Mesir. Negara tempat kami menuntut ilmu sekarang ini merupakan salah satu negara Arab yang terletak di benua Afrika dengan angka terinfeksi covid 19 menurun drastis. Kehidupan sosial masyarakat Mesir sedikit demi mulai normal kembali. Rumah ibadah, perkantoran dan pasar kembali dibuka. Pada 28 Agustus silam pemerintah negara Mesir memberi izin untuk pelaksanaan shalat Jumat untuk pertama kalinya setelah masa pandemi dan pastinya dengan mengikuti protokol kesehatan seperti masker, hand sanitizer dan sajadah.

Alhamdulillah pada pagi Jumat, awal Oktober ini kami diberikan kesempatan untuk mengunjungi rumah Allah ini lagi. Kami berangkat dari Darrasah sekitar pukul 10 pagi. Perjalanan harus kami tempuh dengan dengan menumpang minibus (tramco) dan kereta api bawah tanah (metro). Dari rumah kami pergi ke kawasan pusat perdagangan Attaba dengan ongkos 3 Ponds Mesir atau senilai dengan Rp. 3.000.

Sesampai di mahattah (station) Attaba kami membeli tiket kereta api menunju Mahattah Mar Girgis. Harga tiket berbeda-beda sesuai jarak atau jauh. Harga tiket kami dari Attaba ke Mahattah Mar Girgis 5 Pond sekitar 15.000. Ketika keluar dari Mahattah Mar Gigis kami disungguhkan sebuah pemandangan indah berupa gereja Kristen Koptik (St. Mark George’s Coptic Orthodox Church). Gereja ini sudah didirikan jauh sebelum Islam masuk ke Mesir.

Dari lorong-lorong disamping gereja Kristen Koptik (St. Mark George’s Coptic Orthodox Church) kami menyusuri kota Kairo tua dengan pemeriksaan barang oleh otoritas keamanan Mesir sehingga sampai disebuah rumah Allah yang ukurannya lebih kecil dari gereja tersebut. Dari bentuk bangunannya Masjid ini tampak sudah tidak muda lagi namun masih tetap kuat, kokoh berdiri menjadi saksi bisu Islam tersebar secara damai di lembah Nil.

Masjid Amr bin Ash ini terletak di sisi timur sungai Nil tepatnya di kota Fustat atau Old Cairo (Kairo Lama). Fustat sendiri pernah menjadi ibukota pertama wilayah Islam di Mesir saat negeri ini berhasil dibebas dari penjajahan Romawi pada abad ke-6. Pembangunan Masjid Amru bin Ash dilakukan pada masa khalifah Umar bin Khatab, tepatnya oleh sahabat Rasulullah Saw. bernama Amru bin Ash. Sehingga nama beliau diabadikan sebagai nama dari masjid tersebut. Pada tanggal 6 Muharam 21 Hijriah atau 17 Desember 642 Masehi, Masjid ini diresmikan yang ditandai dengan diadakannya salat Jumat pertama di masjid tersebut.

Di gerbang pintu masuk masjid kami dihadang oleh dua orang petugas keamanan, mereka bertanya ke salah seorang dari kami “fein kumamah?” (Mana maskermu?) Karena maskernya di dalam tas. Setelah memakai masker dan memperlihatkan sajadah, kami diberi izin masuk ke dalam Masjid. Kegiatan dalam masjid terlihat sudah normal kembali dengan mematuhi protokol kesehatan. Kemudian kami memilih untuk berdiri di shaf ketiga dari depan berhadapan dengan mimbar Khatib. Mimbar tersebut bercirikan tinggi dengan anak tangga yang berkisar 7 atau 8. Berposisi tepat sebelah Imam. Kami merasa senang dan bahagia karena bisa kembali shalat Jumat di masjid yang bergelar Taj Al-Jawami atau “Mahkotanya Masjid”.  

Khutbah berlangsung selama 15 menit, khatib mengajak seluruh jamaah untuk bermuhasabah dan mengambil pelajaran dari musibah covid 19 ini. Setelah khutbah kami menunaikan shalat Jumat yang dipimpin oleh seoarang imam muda yang sangat merdu bacaannya al-Qurannya. Sebelum meninggalkan masjid yang pernah menjadi pusat berkembangnya ilmu pengetahuan Islam sebelum masjid Al-Azhar ini, kami mengabadikan momen berharga ini untuk dikenang di kemudian hari.

Setelah shalat Jumat kami mencari makanan untuk makan siang di warung yang tidak jauh dari masjid, meskipun tidak ada makan khas Aceh, tapi kami tetap bahagia karena bisa kembali shalat Jumat di masjid yang pernah menjadi kamp pasukan Islam ketika membawa panji-panji Islam ke bumi Firaun.  Kami berharap agar musibah pandemi ini dapat segera pulih dengan normal sehingga kita dapat kembali melaksanakan ibadah seperti sedia kala, amin.

*Mahasiswa Universitas Al-Azhar  Kairo, Alumni Dayah Jeumala Amal

Leave a Reply

Your email address will not be published.