Seratus Persen

Seutas opini reflektif oleh Thasoedi (Guru MTs)

Jika seorang guru meminta muridnya mengerjakan tugas dengan sungguh-sungguh, sudahkah ia sendiri memperlihatkan kepada mereka bagaimana rupa sebuah kesungguhan?

Pertanyaan itu barangkali layak tinggal sedikit lebih lama dalam pikiran kita.

Sepekan telah berlalu sejak para guru Dayah Jeumala Amal berkumpul di Masjid Raudhatul Az-Zahra untuk mengikuti kuliah umum bersama Ustadz H. Masrul Aidi, Lc., M.A. Pada hari itu, banyak hal disampaikan tentang karakter seorang guru di hadapan murid. Ada nasihat yang terdengar serius, ada pula contoh-contoh sederhana yang sempat mengundang tawa. Namun setelah kegiatan selesai, kursi-kursi kembali kosong dan rutinitas sekolah berjalan seperti biasa, justru saat itulah pekerjaan yang sebenarnya dimulai: membawa isi pelatihan keluar dari ruang pertemuan dan masuk ke ruang kelas, kantor, asrama, bahkan ke dalam kebiasaan sehari-hari. Salah satu pesan yang patut diingat kembali adalah bahwa guru harus menjadi contoh. Pesan tersebut terdengar sederhana. Bahkan terlalu sering kita mendengarnya sehingga kadang-kadang ia lewat di telinga seperti angin yang menyentuh jendela lalu pergi. Padahal jika direnungkan lebih jauh, menjadi contoh adalah tanggung jawab yang berat. Sebab keteladanan tidak bekerja hanya ketika guru sedang mengajar. Ia hidup ketika guru berbicara, berjalan, berpakaian, menepati janji, mempersiapkan pelajaran, menyelesaikan tugas, hingga ketika melakukan sesuatu yang tampaknya remeh.

Dalam kuliah umum pekan lalu, Ustadz Masrul Aidi memberikan contoh yang sangat sederhana tentang kebiasaannya ketika minum di depan umum: memulainya dengan basmalah, minum dalam tiga tegukan, kemudian mengakhirinya dengan hamdalah. Cara berpakaian pun disebut sebagai bagian dari keteladanan. Bahkan sarung yang dikenakan dengan rapi dapat menjadi sesuatu yang diperhatikan murid. Contoh-contoh kecil itu sesungguhnya membawa pesan yang jauh lebih besar: di mata murid, seorang guru tidak pernah benar-benar sedang sendirian.

Ada mata yang mengamati.

Ada ingatan yang merekam.

Dan sering kali, ada perilaku yang diam-diam meniru. Karena itulah keteladanan tidak selalu lahir dari pidato panjang. Ia justru kerap tumbuh dari perkara yang hampir tidak kita anggap sebagai pelajaran. Murid mungkin lupa definisi yang kita tuliskan di papan tulis tiga bulan lalu, tetapi mereka dapat mengingat bertahun-tahun bagaimana gurunya masuk kelas tepat waktu, bagaimana gurunya meminta maaf ketika keliru, atau bagaimana gurunya tetap menyelesaikan pekerjaan dengan baik ketika tidak ada seorang pun yang mengawasi.

Di sinilah gagasan tentang bekerja seratus persen menjadi penting. Seratus persen bukan berarti seorang guru harus menjadi manusia sempurna. Guru tetap dapat lelah, keliru, lupa, dan memiliki keterbatasan. Seratus persen juga bukan berarti setiap pekerjaan harus menghasilkan sesuatu yang spektakuler. Yang dimaksud adalah kesediaan untuk memberikan kemampuan terbaik pada tanggung jawab yang sedang berada di tangan kita. Ketika mengajar, mengajarlah dengan sungguh-sungguh. Ketika memeriksa tugas, periksalah dengan sungguh-sungguh. Ketika menjadi wali kelas, pikullah amanah itu dengan sungguh-sungguh. Ketika ditugaskan menjaga kegiatan yang terlihat kecil sekalipun, jangan menganggapnya sebagai pekerjaan kelas dua. Sebab murid sedang belajar bukan hanya dari apa yang kita kerjakan, tetapi dari bagaimana kita mengerjakannya. Seorang guru yang meminta murid membuat tugas terbaik, tetapi ia sendiri datang dengan bahan ajar yang dipersiapkan seadanya, sedang menyampaikan dua pelajaran yang bertentangan. Mulutnya berkata, “Kerjakan dengan sungguh-sungguh,” sementara tindakannya berbisik, “Sekadarnya juga tidak apa-apa.” Dan dalam pendidikan, bisikan tindakan sering terdengar lebih keras daripada suara nasihat.

Hadih maja Aceh mengingatkan, “Menyoe takeumeueng peurunoe gob, tameurunoe droe teu dilèe”—jika hendak mengajari orang lain, belajarlah diri sendiri terlebih dahulu. Kebijaksanaan lama ini terasa sangat dekat dengan pekerjaan seorang guru. Sebelum meminta murid disiplin, kita belajar mendisiplinkan diri. Sebelum meminta mereka teliti, kita menunjukkan ketelitian. Sebelum meminta mereka membaca, kita tidak berhenti membaca. Sebelum menyuruh mereka memperbaiki pekerjaan yang belum baik, kita pun bersedia memperbaiki pekerjaan kita sendiri.

Keteladanan, dengan demikian, bukan panggung tempat guru berpura-pura sempurna. Ia lebih mirip cermin yang setiap hari diletakkan di hadapan murid. Cermin itu tidak perlu berteriak. Ia cukup memperlihatkan. Hal yang sama berlaku pada kompetensi. Dalam tradisi Aceh terdapat pula hadih maja, “Baranggapeue buet tameugurèe, bèk tatirèe han sampôreuna”—setiap pekerjaan harus dipelajari dengan berguru; jangan sekadar meniru secara tidak sempurna. Pesannya jelas: kesungguhan tidak sama dengan bekerja membabi buta. Memberikan seratus persen juga berarti mau belajar agar pekerjaan dilakukan dengan benar. Semangat tanpa ilmu dapat kehilangan arah, sebagaimana perahu yang memiliki layar besar tetapi tidak memiliki kemudi. Karena itu, guru yang baik tidak selesai menjadi murid ketika ia mulai dipanggil “Pak Guru” atau “Bu Guru”. Justru sejak saat itulah proses belajarnya memperoleh tanggung jawab baru. Perubahan kurikulum perlu dipelajari. Teknologi perlu dipahami. Karakter generasi baru perlu dibaca. Metode yang tidak lagi efektif perlu dievaluasi. Kekurangan diri perlu diakui. Guru yang berhenti belajar perlahan-lahan akan mengajarkan dunia yang sudah berlalu kepada anak-anak yang sedang bersiap menghadapi dunia yang akan datang.

Hadih maja lainnya mengatakan, “Jeumöt buet, jeut kaya akai”—rajin bekerja, bertambah akal. Ada pengalaman yang memang tidak lahir dari teori. Ia tumbuh setelah seseorang berkali-kali mencoba, salah, memperbaiki, lalu mencoba kembali. Seorang guru yang terus memperbaiki cara mengajarnya akan memiliki kekayaan pengalaman yang tidak mungkin diperoleh hanya dengan membaca buku pedagogi. Hari demi hari, kelas menjadi tempat ilmu dan pengalaman saling berbicara. Namun ada tantangan lain: konsistensi. Melakukan yang terbaik sekali mungkin tidak terlalu sulit. Melakukannya berulang kali, termasuk ketika tidak sedang dinilai, itulah ujian sesungguhnya. Sangat mudah tampil rapi ketika ada kegiatan besar. Sangat mudah menyiapkan pembelajaran terbaik ketika ada supervisi. Sangat mudah bekerja keras ketika pekerjaan kita sedang diperhatikan. Tetapi pendidikan membutuhkan keteladanan yang tidak bergantung pada keberadaan penonton.

Pohon tidak memilih hari tertentu untuk memberikan teduh. Jam tidak memilih siapa yang melihat sebelum ia bergerak. Begitu pula seorang pendidik: kualitas seharusnya perlahan menjadi kebiasaan, bukan pertunjukan. Bayangkan dampaknya apabila budaya semacam ini hidup kuat di sebuah sekolah. Seorang guru menyiapkan pembelajaran dengan serius. Murid melihatnya. Seorang petugas menyelesaikan pekerjaannya dengan teliti. Murid merasakannya. Guru lain datang tepat waktu. Murid memperhatikannya. Ada kesalahan, lalu seseorang berani mengakuinya dan memperbaikinya. Murid menyimpannya dalam ingatan. Tidak ada satu pun dari peristiwa itu yang tercantum sebagai mata pelajaran, tetapi semuanya sedang mendidik.

Pada titik tertentu, sekolah itu sendiri seolah ikut berbicara kepada murid: di tempat ini, sesuatu yang menjadi tanggung jawabmu layak dikerjakan sebaik-baiknya.

Inilah sebabnya pembicaraan tentang karakter murid tidak dapat dipisahkan dari karakter orang dewasa yang mengelilinginya. Kita tentu ingin murid Dayah Jeumala Amal tumbuh menjadi pribadi yang disiplin, bertanggung jawab, berilmu, santun, dan tidak setengah-setengah dalam bekerja. Tetapi karakter tidak dapat dipindahkan seperti menyalin sebuah berkas dari satu komputer ke komputer lain. Karakter tumbuh melalui pembiasaan, perjumpaan, pengamatan, teguran, penghargaan, dan contoh yang berlangsung berulang-ulang.

Dalam kuliah umum pekan lalu juga disampaikan bahwa Nabi Muhammad SAW merupakan pribadi yang paling sederhana dalam kesuksesan sekaligus paling sukses dalam kesederhanaan. Pesan ini menjadi penyeimbang yang penting. Memberikan seratus persen bukan berarti mengejar pujian atau membuat setiap pekerjaan terlihat megah. Kesungguhan justru dapat tinggal dalam sesuatu yang sangat sederhana: papan tulis yang sudah disiapkan sebelum murid masuk, materi yang diperiksa kembali sebelum diajarkan, janji kepada murid yang tidak dilupakan, lembar tugas yang dibaca dengan saksama, atau lima menit tambahan yang diberikan untuk mendengarkan anak yang membutuhkan arahan.

Hal-hal kecil itu seperti batu bata. Satu buah mungkin tampak tidak berarti. Tetapi bila diletakkan dengan benar, hari demi hari, darinya berdiri sebuah bangunan bernama kepercayaan.

Seminggu setelah kuliah umum itu, mungkin kita tidak lagi mengingat seluruh kalimat yang disampaikan. Itu wajar. Sebuah pelatihan memang tidak harus meninggalkan seratus catatan dalam buku. Kadang-kadang cukup satu gagasan yang benar-benar pulang bersama kita dan kemudian hidup dalam pekerjaan.

Barangkali gagasan itu adalah ini:

Jika sebuah pekerjaan telah dipercayakan kepada kita, jangan biarkan ia menerima versi setengah hati dari diri kita.

Bukan karena selalu ada orang yang menilai. Bukan karena ingin terlihat sebagai guru terbaik. Bukan pula karena setiap pekerjaan akan mendapatkan penghargaan. Kita mengerjakannya dengan baik karena di hadapan murid, cara seorang guru memperlakukan tanggung jawab adalah pelajaran tersendiri.

Esok pagi, lonceng kembali berbunyi. Pintu-pintu kelas kembali terbuka. Buku kembali dibentangkan dan papan tulis kembali menunggu. Pelatihan pekan lalu mungkin telah selesai, tetapi pesannya seharusnya baru mulai bekerja.

Sebab pada akhirnya, teladan terbaik tidak tinggal di podium setelah sebuah kuliah umum berakhir. Ia ikut pulang bersama guru, masuk ke kelas bersamanya, lalu menjelma dalam pekerjaan-pekerjaan kecil yang dilakukan sepenuh hati.

Dan mungkin, dari sanalah seratus persen seorang guru perlahan-lahan menjadi seratus persen seorang murid.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *