Ketika Guru Diam, Itulah yang Harus Kalian Takuti

Sebuah Opini Oleh: Nuryani, S.Ag (Kepala Sekolah MAS Jeumala Amal)

Setiap pagi, saya berdiri di depan gedung madrasah dan memperhatikan wajah-wajah yang datang. Ada yang melangkah ringan, ada yang menyeret kaki, ada pula yang berusaha menyelinap karena terlambat. Saya tahu, di sebagian benak mereka, saya adalah kepala sekolah yang galak. Yang tidak memberi ruang tawar-menawar. Yang menegur soal rambut, memeriksa kuku, seragam, sepatu yang harus selaras warna, sampai kaos kaki. Saya tidak keberatan dengan anggapan itu. Tetapi izinkan saya menjelaskan apa yang sebenarnya ada di balik ketegasan tersebut.

Saya tegas karena saya peduli. Kalimat itu terdengar klise, saya sadar. Namun bagi saya, itu bukan slogan, itu adalah kesimpulan dari bertahun-tahun mengamati anak-anak yang tumbuh di bawah atap madrasah ini. Saya melihat mereka bukan sebagai deretan nama di buku absen. Tapi, kelak mereka adalah dokter, guru, insinyur, pengusaha, dan ulama yang hari ini masih mengantuk di bangku kelas. Setiap kali saya menegur, yang saya lihat bukan kesalahan hari ini, melainkan wajah mereka sepuluh atau dua puluh tahun lagi, dan yakinlah kebiasaan buruk yang kita biarkan hari ini akan menjadi beban bagi mereka kelak.

Sekarang, kita sedang berada di masa persiapan Tes Kemampuan Akademik (TKA). Bagi murid kelas akhir, ini adalah gerbang awal menuju kursi pendidikan berikutnya. Waktu yang tersisa tidak banyak, dan waktu adalah satu-satunya hal yang tidak bisa kita minta kembali. Dalam situasi seperti ini, saya tidak bisa bersikap lunak pada kemalasan, pada jam belajar yang dipakai bercanda, atau pada pelanggaran kecil yang dibiarkan menjadi kebiasaan. Bukan karena saya tidak punya hati, justru karena saya terlalu peduli untuk membiarkan kalian membuang kesempatan yang mungkin hanya datang sekali.

Ada satu kalimat yang sering saya ulang kepada murid-murid, sampai mungkin mereka bosan mendengarnya. “Selama guru masih sanggup menegur kalian, selama guru tidak diam melihat kemalasan dan kenakalan kalian, artinya mereka masih peduli dan menyayangi kalian. Justru kalian harus takut ketika guru diam dan apatis terhadap pelanggaran yang kalian lakukan.”

Mengapa begitu? Karena diam sering kali bukan tanda setuju, diam itu tanda menyerah. Guru yang berhenti menegur adalah guru yang sudah merasa lelah berharap. Ia menganggap usahanya sia-sia, lalu memilih membiarkan. Bayangkan seorang anak yang terus melanggar dan tak seorang pun lagi mau menegurnya. Ia mungkin merasa bebas, merasa menang. Padahal pada saat itulah ia sedang kehilangan sesuatu yang paling berharga. Ia telah kehilangan seorang guru yang masih percaya bahwa ia bisa menjadi lebih baik. Teguran adalah bukti kepedulian, dan menandakan kita belum menyerah.

Tentu saja, saya tidak ingin ketegasan disalahpahami sebagai kemarahan tanpa arah. Ketegasan yang baik punya batas yang jelas. Kami menegur perbuatan, bukan merendahkan pribadi. Kami keras pada aturan, tetapi pintu ruang guru dan ruang kepala sekolah tetap terbuka bagi siapa pun yang ingin bercerita, mengaku salah, atau meminta bantuan. Saya juga terus mengingatkan diri sendiri dan para guru bahwa teguran yang disampaikan tanpa kasih sayang hanya akan melukai, sedangkan kasih sayang tanpa ketegasan hanya akan memanjakan. Keduanya harus berjalan beriringan, seperti dua sayap pada seekor burung.

Orang yang pernah melihat pandai besi bekerja tahu bahwa logam tidak menjadi pedang yang tajam karena dielus. Ia dibakar, dipukul, dilipat, lalu dipukul lagi. Bagi yang tidak mengerti, itu tampak seperti kekerasan. Bagi pandai besi, itu adalah cara satu-satunya agar besi mentah berubah menjadi sesuatu yang berguna. Begitulah kami memandang pekerjaan mendidik. Ketika kami menegur, memarahi, dan tak bosan-bosannya menasihati, sesungguhnya kami sedang menempa kalian menjadi pribadi yang bermanfaat bagi diri sendiri, keluarga, masyarakat, dan agama.

Kepada murid-muridku, ustadzah ingin berkata dengan jujur. Mungkin hari ini kalian kesal. Mungkin kalian menganggap kami terlalu keras dan terlalu cerewet. Tidak apa-apa. Saya tidak sedang mencari kalian untuk menyukai saya hari ini. Saya hanya meminta kalian mempercayai satu hal, bahwa setiap teguran itu lahir dari harapan. Suatu hari nanti, ketika kalian sudah duduk di bangku kuliah, bekerja, atau memimpin keluarga sendiri, kalian akan mengingat guru yang dulu tak bosan menegur kalian. Pada hari itu, saya yakin kalian akan berterima kasih, bukan karena kami pernah marah, tetapi karena kami tidak pernah berhenti peduli.

Dan kepada para orang tua, terima kasih telah menitipkan anak-anak terbaik kita di sini, di dayah kita. Hari ini, mereka telah menjadi anak kami. Selayaknya anak, mereka akan kami tempa, hingga mereka terbentuk.  Percayalah, di balik wajah tegas kami, ada doa yang tak putus untuk masa depan anak-anak kita. Kami mungkin tidak selalu pandai menyampaikannya dengan lembut, tetapi kami mencintai mereka dengan cara yang kami yakini paling bisa mengantarkan mereka sampai ke tujuan masing-masing.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *