Refleksi dari Tepi Kali Tualang: Wudu Terakhir Sang Panglima

“Si droe tanyoe, beuna manfaat keu ureung ramee.”
(Kita haruslah memiliki manfaat terhadap khalayak ramai)
-Panglima Ishak Daud-

 

Sebuah Refleksi Oleh: Attaya Khanza Rizkillah (Alumni DJA 2026)

Begitulah ucapan seorang panglima hebat, Ishak Daud Namanya. Beliau lahir di Aceh Timur pada 12 Januari 1960. Ia adalah anak pertama dari pasangan Muhammad Daud bin Tengku Basyah dan Nuriah. Saat kecil, Ishak hidup di lingkungan desa yang rata-rata penduduknya hidup di bawah garis kemiskinan. Ayahnya bekerja sebagai nelayan, sedangkan ibunya adalah penjual kue.

Kondisi tersebut membuat Ishak Daud merasa tidak puas. Pada awal tahun 1984, saat usianya 24 tahun, Ishak memutuskan untuk merantau ke Malaysia. Disana, Ishak bekerja serampangan, yaitu sebagai kuli bangunan dan penjaga restoran. Namun, ia tak tahan hidup di Malaysia. Pada akhirnya, ia memutuskan untuk mengadu nasib ke Singapura. Disanalah Ishak mulai mengenal Gerakan Aceh Merdeka hingga pada akhirnya ia disumpah oleh Tengku Abdullah Musa sebagai anggota GAM.

Setelah disumpah, ia dikirim ke Libya untuk mengikuti pelatihan militer berdasarkan permintaan Hasan Tiro yang mengendalikan GAM dari Swedia. Setelah menempuh pendidikan di Libya, Ishak pulang ke Aceh melalui Pelabuhan Tanjung Balai. Awalnya ia bekerja sebagai penjual ikan dan diam-diam merekrut para pemuda Aceh untuk terlibat GAM hingga pada akhirnya ia dikenal sebagai Panglima Teuntra Neugara Aceh Wilayah Pereulak.

Ishak Daud adalah sosok yang tidak hanya dikenal sebagai orang yang pandai dalam berperang. Ia adalah sosok yang sangat taat dalam beribadah. Hal itu berdasarkan pengalaman yang dialami oleh seorang jurnalis bernama Hotli Simanjuntak. Ia melihat sosok Ishak Daud sebagai seorang yang ”Siap Mati” dikarenakan kebiasaan yang ia lakukan setiap malam.

Setiap malam, Ishak Daud hampir selalu melaksanakan salat malam (tahajud) dan berdoa dalam kekhusyukan yang mendalam. Bagi Hotli Simanjuntak, ketenangan serta ketaatan ibadah yang ditunjukkan oleh Ishak Daud di tengah ancaman maut yang selalu mengintai memperlihatkan kepasrahan total seorang hamba kepada Sang Pencipta—sosok yang benar-benar siap mati kapan saja dalam kondisi suci dan taat.

Ketaatan beribadah ini bukan sekadar rutinitas malam, melainkan prinsip hidup yang dipegangnya teguh hingga akhir hayat. Lantas bagaimana peristiwa yang menjadi sebab kepergian Ishak Daud?

Peristiwa tragis tersebut berlangsung pada 8 September 2004 di pinggir sungai kawasan Tualang. Kala itu, Ishak Daud bersiap melakukan perjalanan menuju Tapaktuan karena berpindah tugas ke sana. Ia pergi bersama lima orang rombongannya, yaitu istrinya (Cut Rostina) dan tiga pengawalnya (Umar, Raider, serta Abu Bakar). Menurut Umar, sang ajudan, rencananya mereka hendak menempuh jalur laut menuju Jeunieb sebelum melanjutkan penyeberangan ke Tapaktuan.

Pada hari naas itu, Ishak Daud yang saat itu hanya mengenakan kaus dan celana jeans bersama istri dan ketiga pengawalnya sedang mengambil air wudu untuk menunaikan salat Dzuhur di tepi kali, tidak jauh dari lokasi kamp darurat mereka. Area sungai tersebut terletak di sebuah lembah yang dikelilingi perbukitan. Secara mendadak, suara rentetan tembakan terdengar dari arah atas bukit. Ishak Daud terkejut saat menyadari keberadaan mereka telah terendus oleh pasukan TNI. Umar yang berada di dekatnya segera mengambil posisi tiarap dan membalas tembakan. Umar sempat mendesak agar mereka segera mundur, memanggil Ishak Daud dengan sebutan kehormatan “Abu Chik”. Namun, ajakan itu ditolak mentah-mentah oleh Ishak yang memilih bertempur hingga titik darah penghabisan. Cut Rostina yang tengah mengandung pun menolak untuk melarikan diri demi mendampingi suaminya, padahal saat itu baru hari kelima ia berkumpul kembali bersama sang suami.

Suara dentuman peluru terus bersahut-sahutan. Mereka berupaya mencari tempat perlindungan hingga akhirnya menemukan sebuah pohon kelapa sawit untuk berlindung sambil terus membalas serbuan lawan. Ketika Umar berusaha menarik Cut Rostina ke balik pohon sawit menyusul Ishak, sebutir peluru menghantam lengannya hingga membuat tubuhnya terlempar sejauh dua meter. Walau terluka dan menyadari keberadaan sang penembak, Umar kembali mengajak Ishak untuk mundur, tetapi Ishak tetap menolaknya dan memilih terus bertempur.

Suasana pertempuran berlangsung amat sengit bak adegan film laga, di mana mereka saling bertenggang posisi untuk melindungi satu sama lain. Umar memasang badan di barisan depan dengan tubuh yang sudah berlumuran darah, sementara Ishak dan istrinya bertahan di belakang. Umar sempat berteriak meminta Ishak dan istrinya lari menyelamatkan diri agar ia yang menghadapi musuh. Namun nahas, sebutir peluru kembali mendarat dan tertancap di bagian belakang tubuh Umar. Mendengar teriakan Umar yang tertembak, Ishak Daud mencoba mengintip dari balik pohon sawit. Saat itulah, sebutir peluru tepat mengenai dahinya. Ishak pun jatuh tertelungkup dan gugur di tempat dengan darah mengalir dari hidungnya. Umar segera melepas baju dan celana Ishak hingga tersisa celana dalam saja, lalu menutupi jasadnya dengan kain hitam serta membawa pergi senjata dan buku catatan milik Ishak. Langkah ini diambil Umar sengaja agar pihak tentara tidak dapat langsung mengenali identitas sang panglima.

Sekitar pukul 14.30, intensitas pertempuran mulai mereda. Cut Rostina mendesak Umar untuk segera melarikan diri, sedangkan ia memilih tetap berada di lokasi meratapi jenazah suaminya. Saat berpisah, Umar mengingat Cut Rostina masih dalam kondisi hidup, sebelum akhirnya ia mengetahui dari pemberitaan media bahwa sang istri turut gugur dalam insiden tersebut. Meski menggendong sembilan luka tembak di tubuhnya, Umar merangkak mencari tempat aman hingga sempat hilang kesadaran. Saat terbangun, ia mendapati dirinya berada di dalam kandang babi yang berjarak sekitar 50 meter dari titik baku tembak. Setelah memastikan situasi sudah aman dan pasukan tentara telah pergi, Umar merangkak menuju pemukiman warga terdekat hingga nyawanya berhasil diselamatkan.

Tiga hari pasca-kejadian, berita tewasnya Ishak Daud langsung menggemparkan masyarakat Aceh setelah terkonfirmasi oleh media lokal. Pihak tentara akhirnya berhasil mengenali jasadnya yang dipenuhi luka tembak yang menurut dugaan Umar, jasad Ishak sempat dihujani tembakan susulan setelah ia meninggal. Dua pengawal lainnya, Raider dan Abu Bakar, juga dikonfirmasi gugur dalam pertempuran tersebut.

Kisah penyerangan ini menjadi bukti nyata atas keteladanan sosok Ishak Daud, yang tidak hanya dikenal akan keberaniannya di medan laga, tetapi juga ketaatannya yang tinggi dalam beribadah. Bagi almarhum, menunaikan kewajiban kepada Sang Pencipta adalah prioritas utama di atas segalanya. Bahkan di tengah kondisi terkepung dan persembunyian yang sangat darurat, ia tidak pernah melalaikan ibadahnya. Terbukti saat maut menjemput di tengah hujan peluru, ia sedang bersuci mengambil air wudu untuk melaksanakan salat Dzuhur.

Sampai hembusan napas terakhirnya, Ishak Daud melepaskan nyawa dalam kondisi suci dan siap menghadap Sang Khalik, sebagaimana kebiasaan ibadah malamnya yang senantiasa mempersiapkan diri menghadapi kematian. Perpaduan antara keteguhan prinsip perjuangan dan ketaatan ibadah inilah yang menjadikan sosok Panglima Ishak Daud terus dikenang dan dihormati oleh masyarakat Aceh hingga saat ini.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *