Red Flag

Lucu, ya. Orang-orang bisa menyimpulkan siapa kita hanya dari beberapa kesalahan, tanpa pernah bertanya apa yang sebenarnya sedang kita perjuangkan. Inilah kisahku yang katanya Bendera Merah hanya karena mereka belkum mengenalku.

Namaku Naya. Kelas XI.

Di sekolah, aku punya julukan yang lumayan populer ” red flag berjalan”

Bukan karena aku suka menyakiti orang, bukan juga karena aku punya hobi bikin drama. Julukan itu muncul gara-gara satu kejadian yang menurutku sepele, tetapi entah bagaimana berubah menjadi bahan gosip satu angkatan. Hari itu, aku membentak seorang teman yang terus mengulas kehidupan pribadiku.

“Bisa nggak, sih, sekali aja kamu nggak ikut campur urusan orang?”

Suaraku cukup keras untuk membuat beberapa kepala menoleh. Sialnya, ada yang merekam bagian itu. Tanpa konteks. Tanpa bagian ketika aku sudah berkali-kali meminta dia berhenti. Tanpa cerita tentang bagaimana aku berusaha menahan diri sejak pagi. Sorenya, video itu beredar di grup kelas. Komentar pun bermunculan.

Tanda bahaya banget.

Baru segitu aja emosian.

Pantesan teman dikit.

Aku membaca semuanya sambil duduk di tepi tempat tidur. Jempolku bergerak ingin membalas satu per satu. Ingin rasanya menjelaskan bahwa aku bukan orang seburuk yang mereka pikirkan. Namun, setelah mengetik beberapa kalimat, saya menghapusnya lagi. Untuk apa? Di dunia yang bisa menjatuhkan vonis hanya dalam lima belas detik, siapa yang mau membaca penjelasan sepanjang lima paragraf? Akhirnya, aku meletakkan ponsel dan menarik selimut sampai ke dada. Malam itu, aku belajar bahwa menjadi bahan pembicaraan yang melelahkan, bahkan ketika kita tidak tahu harus membela diri kepada siapa pun.

Keesokan harinya, suasana kelas terasa berbeda. Beberapa teman yang biasanya menyapaku kini hanya berbisik sambil sesekali melirik ke arahku. Ada juga yang terang-terangan menjauh saat aku mendekat. “Eh, hati-hati. Nanti kena semprot,” celetuk seseorang.

Mereka tertawa. Aku ikut tersenyum tipis, pura-pura tidak mendengar. Padahal, ada sesuatu di dalam dadaku yang terasa seperti diremas pelan-pelan. Aku bukan tipe orang yang mudah menangis di depan orang lain. Sejak kecil, aku terbiasa menyelesaikan masalahnya sendiri. Ayah sering bekerja di luar kota, sedangkan Ibu mengurus banyak hal di rumah. Saya tidak ingin menambah beban mereka dengan cerita-cerita kecil yang menurutku mungkin tidak penting.

Masalahnya, cerita kecil yang kupendam itu lama-lama menumpuk. Tugas sekolah. Ekspektasi keluarga. Nilai yang harus bagus. Tuntutan untuk selalu ramah. Ingin diterima. Semua orang seperti punya standar tentang bagaimana seharusnya aku berpikir. Kalau aku diam, katanya sombong. Kalau aku bicara tegas, katanya galak. Kalau aku menolak permintaan orang lain, katanya egois. Lalu, aku harus siapa jadi supaya semua orang berhenti salah paham?

Saat istirahat, aku memilih pergi ke perpustakaan. Di sana, aku duduk di dekat jendela dan membuka buku yang bahkan tidak benar-benar kubaca. “Tumben sendirian.” Aku menoleh. Itu Sera, teman sekelasku yang terkenal santai dan tidak terlalu suka ikut campur urusan orang.

“Lagi pengin sendiri,” jawabku.

Dia mengangguk, lalu duduk di kursi sebelah.

“Oke. Aku temanin diam, nih.”

Aku menggedor lagi.

“Hah?”

“Katanya pengin sendiri. Berarti nggak mau ditanya-tanya, kan? Aku nggak bakal nanya.”

Untuk pertama kalinya pada hari itu, aku tertawa asli. Aneh. Ternyata, ada orang yang bisa hadir tanpa memaksa kita menjelaskan apa pun. Sejak kejadian itu, aku mulai sering menghabiskan waktu bersama Sera. Dia tidak pernah memaksaku bercerita. Namun, setiap kali aku ingin bicara, dia mendengarkan tanpa buru-buru memberikan penilaian. Beberapa hari kemudian, aku akhirnya menceritakan semuanya. Tentang video itu. Tentang komentar teman-teman. Tentang rasa marah yang bercampur malu. Juga tentang bagaimana aku mulai meragukan diriku sendiri.

“Menurutmu, aku memang seburuk itu?” tanyaku.

Sera kembali sebentar.

“Aku tidak tahu semua hal tentang kamu, Nay. Jadi, aku tidak akan tahu dan bilang kamu selalu benar.”

Aku.

“Tapi,” lebih lanjutnya, “satu kesalahan tidak otomatis menjelaskan seluruh diri seseorang. Kamu boleh marah, tapi kamu juga perlu belajar menyampaikan kemarahan tanpa menyakiti. Mereka bisa kecewa sama sikap kamu, tapi tidak berarti mereka bisa memahami kamu.”

Aku mengangkat wajah. Kalimat itu sederhana, tetapi membuatku berpikir. Selama ini, aku sibuk membuktikan bahwa orang lain salah menilaiku. Saya lupa bertanya apakah ada bagian dari diri saya yang memang perlu diperbaiki. Mungkin aku memang terlalu mudah meninggikan suara ketika merasa disudutkan. Mungkin aku sering menyimpan masalah sampai akhirnya meledak. Namun, mengakui kesalahan tidak berarti aku harus menerima semua tuduhan. Aku bisa bertanggung jawab atas sikapku tanpa membenci diriku sendiri. Dan untuk pertama kalinya, saya merasa tidak harus memilih antara membela diri dan memperbaiki diri. Saya bisa melakukan keduanya.

Seminggu setelah video itu viral, sekolah mengadakan kegiatan presentasi proyek sosial. Setiap kelompok yang diminta mengangkat satu masalah yang dekat dengan kehidupan remaja. Kelompokku memilih tema perundungan verbal dan budaya memberi label. Awalnya, aku ingin membatalkan diri. Ironisnya rasanya berbicara prasangka ketika aku sendiri sedang menjadi korbannya. Namun, Sera berkata, “Justru kamu tahu rasanya. Kalau kamu siap, ceritamu bisa bikin orang lain mikir.”

Akhirnya, aku berdiri di depan kelas bersama anggota kelompokku. Tanganku dingin. Jantungku berdebar. Aku menatap wajah-wajah yang selama seminggu terakhir membuatku merasa tidak punya tempat. Lalu, aku mulai berbicara.

“Pernah nggak, kalian menilai seseorang hanya dari satu kejadian? Mungkin karena dia pernah marah, pernah gagal, pernah berkata kasar, atau pernah melakukan kesalahan?”

Kelas mulai tenang.

“Kita sering merasa sudah mengenal seseorang hanya karena kita mengetahui satu cerita tentang dia. Padahal, mengetahui kesalahan seseorang tidak sama dengan memahami kehidupannya.”

Aku menarik napas.

“Aku pernah melakukan kesalahan. Aku pernah marah dengan cara yang tidak tepat. Untuk itu, aku harus belajar memperbaiki diri.”

Beberapa teman saling pandang.

“Tapi aku juga pernah dinilai tanpa diberi kesempatan menjelaskan. Aku pernah dijauhi karena sebuah video yang hanya menunjukkan sebagian kecil dari kejadian sebenarnya.”

Suaraku sedikit bergetar, tapi aku terus melanjutkan.

“Dan dari situ aku belajar bahwa kita tidak harus selalu menyukai semua orang. Kita juga tidak harus membenarkan perilaku buruk siapa pun. Namun, kita tetap bisa memilih untuk tidak mempermalukan, mengucilkan, atau memberi cap kepada seseorang seolah-olah satu kesalahan adalah seluruh identitasnya.”

Ruangan itu hening. Aku menatap teman-temanku sekali lagi.

“Kalau seseorang melakukan kesalahan, tegur kesalahannya. Jangan mengubahnya menjadi nama panggilan. Karena mungkin, di balik orang yang kalian sebut bendera merah, ada seseorang yang berusaha keras menjadi lebih baik.”

Aku mengakhiri presentasi dengan satu kalimat. “Kalian boleh mengenal kesalahanku. Tapi jangan berpura-pura-pura sudah mengenal seluruh diriku.”

Kali ini, tepuk tangan terdengar dari beberapa sudut ruangan. Saya tidak tahu apakah semuanya benar-benar berubah pikiran. Aku juga tidak berharap semua orang tiba-tiba menyukaiku. Namun, aku tahu satu hal: hari itu aku tidak lagi membiarkan penilaian orang lain menentukan seluruh harga diriku.

Sore itu, sebuah pesan masuk ke ponselku. Dari teman yang dulu merekam video tersebut. ” Nay, aku mau minta maaf. Aku cuma ikut-ikutan waktu itu. Aku nggak mikir kalau dampaknya bakal sejauh ini.”

Saya membaca pesannya cukup lama. Ada bagian dari diriku yang ingin membalas dengan kemarahan. Ada juga bagian yang ingin pura-pura semuanya baik-baik saja. Akhirnya, aku menjawab dengan jujur. Makasih udah minta maaf. Aku juga masih belajar mengendalikan emosi. Tapi ke depannya, kalau ada masalah sama aku, ngomong langsung aja. Jangan rekam atau sebar potongan kejadian tanpa konteks.

Tidak ada drama. Tidak ada kalimat panjang untuk memenangkannya. Hanya batasan yang ingin dilindungi. Malamnya, aku berdiri di depan cermin kamar. Wajah yang sama. Mata yang sama. Aku yang sama. Aku masih punya kekurangan. Aku masih bisa salah. Saya mungkin akan kembali merasa marah, kecewa, atau takut ditolak. Tetapi sekarang saya tahu bahwa menjadi lebih baik bukan berarti harus menjadi sempurna di mata semua orang. Aku tidak bisa mengatur apa yang mereka katakan tentangku.

Aku juga tidak bisa memaksa semua orang memahami ceritaku. Yang bisa kulakukan adalah belajar mengenali diriku sendiri, bertanggung jawab atas tindakanku, dan berhenti menjadikan penilaian orang lain sebagai satu-satunya ukuran untuk menentukan siapa aku. Aku membuka buku catatan dan menulis satu kalimat di halaman terakhir. ” Hari ini aku berhenti sibuk membuktikan bahwa aku bukan orang buruk. Aku memilih menjadi orang yang lebih baik, satu langkah demi satu langkah.” Lalu, aku menutup buku itu.

Besok, mungkin masih ada yang berbisik ketika aku lewat. Mungkin masih ada yang mengingat video lama itu. Tidak apa-apa. Saya tidak harus memenangkan semua pendapat untuk bisa berdamai dengan diri sendiri. Sebab pada akhirnya, aku bukan sekadar cerita yang beredar di grup kelas. Bukan komentar yang ditulis orang ketika sedang bosan. Bukan pula label yang diberikan seseorang tanpa benar-benar mengenalku. Aku adalah manusia yang masih bertumbuh. Dan saya berhak mendapatkan kesempatan untuk itu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *