Cara Santri Menikmati Kemerdekaan

Kemarin, di Hari Santri Nasional, barisan santri berdiri tegap di lapangan. Mereka tetap menggunakan seragam sekolah. Tapi hari ini, mereka tidak belajar di dalam kelas, melainkan belajar langsung dari alam, membuktikan kecintaan terhadap tanah air. Terdengar deru gerakan penderek bendera berjejer rapi, menghampiri tiang bendera. Suara pembacaan ikrar terdengar lantang. Mars hari santri ikut memeriahkan upacara yang khidmat. Beberapa jam kemudian, suasana berganti total. Di halaman Dayah Jeumala Amal, meja-meja berjajar dan bahan masakan sudah tersaji di depan para peserta. Santri putra dan putri bergerak cekatan, bersiap meracik mie Aceh untuk dinilai para juri.

Dua pemandangan yang terlihat berbeda, tetapi sebenarnya bercerita tentang hal yang sama. Santri adalah bagian utuh dari Indonesia, bagian dari perjuangan mempertahankan kemerdekaan. Dan mereka, berhak merayakannya dengan banyak cara.

Alasan Hari Santri Perlu Dirayakan

Hari Santri bukan tanggal yang dipilih sembarangan. Peringatan ini berpijak pada peristiwa 22 Oktober 1945, ketika KH Hasyim Asy’ari menyerukan Resolusi Jihad. Seruan itu mengajak umat Islam, khususnya kaum santri, membela tanah air yang baru merdeka dari upaya penjajah kembali berkuasa. Kurang dari tiga minggu kemudian, pertempuran besar pecah di Surabaya dan dikenang sebagai Hari Pahlawan 10 November.

Pemerintah menetapkan 22 Oktober sebagai Hari Santri melalui Keputusan Presiden Nomor 22 Tahun 2015. Penetapan ini punya arti penting, sebab negara secara resmi mengakui bahwa pesantren dan santri bukan penonton dalam sejarah bangsa, melainkan pelaku yang ikut memperjuangkan dan menjaga kemerdekaan.

Semangat serupa juga tumbuh di Aceh. Pada Oktober 1945, para ulama Aceh mengeluarkan maklumat yang menyerukan rakyat melawan upaya penjajah kembali. Dayah, sejak lama menjadi pusat ilmu sekaligus pusat perlawanan. Bagi kita yang tumbuh di tanah ini, Hari Santri terasa dekat, karena ia merayakan warisan yang memang hidup di sekitar kita.

Salah satu bentuk menjaga kewarasan santri adalah dengan merayakan hari ini. Juga merawat ingatan tentang bagaimana peran santri saat mempertahankan kemerdekaan. Di tengah generasi yang mudah lupa pada sejarah, perayaan menjadi pengingat bahwa kemerdekaan yang masih terawat hingga detik ini adalah hasil dari berjalan beriringan antara ilmu agama, cinta tanah air, dan keberanian.

Sebagian orang mungkin bertanya, mengapa Hari Santri perlu diperingati dengan upacara. Bukankah cukup dengan doa bersama atau pengajian? Begini, upacara punya fungsi yang tidak tergantikan. Berdiri di bawah matahari pagi, menghormat bendera, memperhatikan penderek bendera mengudarakan bendera seirama dengan lagu kebangsaan, dan melantunkan ikrar santri adalah cara paling sederhana untuk mengingat secara kolektif. Tubuh yang ikut hadir menerima sinyal khidmat, tidak bisa digantikan dengan ketidakhadirannya.

Upacara juga menegaskan satu pesan yang sangat lekat dengan tradisi pesantren, yaitu cinta tanah air bagian dari iman. Santri yang khusyuk mengaji dan santri yang mencintai tanah airnya bukan dua sosok yang berseberangan. Keduanya orang yang sama. Dengan mengikuti upacara, santri menunjukkan bahwa keislaman dan kebangsaan bisa berjalan seiring.

Tak kalah penting, upacara melatih hal-hal yang kerap dianggap kecil: disiplin, ketertiban, kebersamaan, dan rasa tanggung jawab. Santri belajar berdiri sejajar dengan temannya, mendengarkan aba-aba, dan menjaga kekhidmatan bersama. Nilai-nilai ini yang kelak terbawa saat mereka menjadi guru, pedagang, pegawai, atau pemimpin di tengah masyarakat.

Ketika Racikan Berada Di Tangan Yang Tepat

Usai khidmat upacara, Dayah Jeumala Amal menggelar lomba masak mie Aceh. Dari sini pemandangan yang tersaji terasa begitu hidup. Wajah-wajah santri putra dan putri tampak gembira. Mereka meracik hidangan untuk dinilai para juri, dengan berbagai bahan yang sudah tertata di depan mereka. Banyak murid lalu-lalang menyiapkan perlengkapan, sementara para peserta tampak antusias mengolah makanan khas daerah sendiri. Dapur menjadi ruang belajar yang setara. Tidak ada kesan bahwa memasak urusan satu pihak saja; semua turun tangan, semua menikmati prosesnya.

Mie Aceh adalah hidangan kebanggaan kuliner khas Aceh yang dikenal lewat bumbu rempahnya yang kuat. Memasaknya tidak bisa asal-asalan, karena butuh ketelitian meracik bumbu dan kesabaran menjaga rasa. Para guru berinisiatif memilih memperlombakan menu ini untuk mengajak santri mencintai dan melestarikan kuliner lokal.

Bukan soal siapa yang menang, lomba ini memperlihatkan sisi santri yang sering luput dari perhatian. Santri tidak hanya identik dengan kitab, hafalan, dan majelis ilmu. Mereka juga bisa memasak, bekerja sama dalam tim, mengatur waktu, dan bertanggung jawab atas hasil kerjanya. Keterampilan hidup seperti ini adalah bekal nyata, apalagi bagi santri yang sehari-hari hidup mandiri di asrama. Meskipun, keseharian mereka tidak memasak di asrama.

Sekilas, upacara dan lomba masak seperti dua acara yang tak berhubungan. Yang satu khidmat, yang lain riuh. Namun, keduanya bermuara pada makna yang sama. Santri hadir utuh sebagai manusia Indonesia. Di lapangan, mereka mengenang perjuangan dan meneguhkan cinta tanah air. Di dapur, mereka menunjukkan kemandirian, kreativitas, dan kecintaan pada budaya sendiri.

Sampai hari ini, santri terus tumbuh dan semakin bertambah jumlahnya yang tersebar ke seluruh penjuru dunia. Mereka terus kuat dalam ilmu, teguh dalam cinta tanah air, dan terampil dalam banyak hal. Bahkan, untuk menikmati kemerdekaan pun, cukup dengan meracik semangkuk mie Aceh yang membuat juri tersenyum. Jadi santri memang banyak bisanya, dan banyak pula uniknya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *