Seutas Teks deskripsi pengalaman oleh Fathaya Indah Putri (Murid Kelas IX-7)
Masyarakat Aceh memiliki berbagai tradisi yang masih bertahan hingga sekarang. Salah satunya adalah tradisi peuleuh kaoi. Tradisi ini berkaitan dengan meukaoi, yaitu berhajat, memohon, atau berdoa kepada Allah agar sesuatu yang diinginkan dapat terkabul. Ketika keinginan tersebut terwujud, orang yang berhajat akan melaksanakan apa yang sebelumnya telah diniatkan. Pelaksanaan atau penyelesaian hajat itulah yang dalam masyarakat Aceh dikenal sebagai peuleuh kaoi.
Saya pernah mengikuti tradisi tersebut bersama keluarga sekitar tiga tahun lalu. Saat itu, nenek saya memiliki hajat agar hasil panennya dimudahkan dan diberikan hasil yang subur. Nenek berniat bahwa apabila keinginannya terkabul, ia akan menyembelih dua ekor kambing sebagai bagian dari pelaksanaan hajatnya.
Beberapa bulan kemudian, harapan itu menjadi kenyataan. Tanaman di kebun nenek tumbuh subur dan hasil panennya melimpah. Kebun yang sebelumnya biasa saja seakan berubah menjadi hamparan rezeki yang menghijau. Karena hajatnya telah tercapai, nenek kemudian melaksanakan peuleuh ka oi sebagaimana yang telah diniatkannya.
Dua hari kemudian, saya bersama nenek dan anggota keluarga lainnya pergi ke Pasi, Kecamatan Kembang Tanjung. Tujuan kami adalah sebuah masjid di kawasan tersebut yang dikenal dengan nama Masjid Teungku Chik di Pasi. Letaknya tidak jauh dari pantai. Begitu tiba di sana, saya langsung merasakan suasana yang berbeda. Udara terasa sejuk dan angin pantai menyapu lembut wajah kami. Suara ombak terdengar berulang-ulang dari kejauhan, seolah-olah sedang melantunkan irama yang menenangkan hati.
Lingkungan masjid terasa teduh dan damai. Di kawasan tersebut terdapat makam seorang ulama. Nenek kemudian berdoa, sedangkan kami bersama-sama membaca Surah Yasin. Setelah itu, kegiatan dilanjutkan dengan melaksanakan salat hajat yang dalam percakapan masyarakat Aceh juga dikenal sebagai seumayang ka oi. Suasana ketika itu terasa khusyuk. Suara bacaan doa terdengar pelan, berpadu dengan desir angin dan suara ombak dari arah pantai. Bagi saya, tempat itu seperti ruang tenang yang memisahkan kami sejenak dari hiruk-pikuk kehidupan.
Setelah rangkaian doa dan salat selesai, suasana mulai berubah menjadi lebih ramai. Keluarga kami mulai memasak daging dari dua ekor kambing yang telah disembelih. Kegiatan memasak tersebut dalam bahasa Aceh biasa disebut taguen kuah sie kameng. Beberapa anggota keluarga sibuk mempersiapkan bahan, sedangkan yang lain mengurus daging dan kuah. Aroma masakan perlahan memenuhi tempat itu dan menggoda perut siapa saja yang menciumnya.
Proses memasak dilakukan secara bersama-sama. Saya melihat bagaimana setiap orang mengambil perannya masing-masing. Ada yang mengaduk kuah, menyiapkan perlengkapan, membungkus makanan, dan mengantarkannya kepada orang lain. Kesibukan itu tidak terasa melelahkan karena disertai percakapan dan kebersamaan keluarga. Tangan-tangan yang bekerja seolah tidak pernah berhenti, tetapi wajah mereka tetap terlihat gembira.
Setelah kuah sie kameng selesai dimasak, sebagian makanan tidak langsung kami santap. Beberapa saudara membaginya menjadi beberapa bagian dan membungkusnya untuk diberikan kepada masyarakat setempat. Sebagian lainnya disiapkan untuk saudara-saudara yang tidak dapat hadir. Saya melihat makanan tersebut bukan sekadar hidangan, tetapi juga menjadi jembatan yang menghubungkan keluarga dengan orang-orang di sekitarnya.
Setelah semua pekerjaan selesai, kami berkumpul di sebuah balai besar yang berada di kawasan tersebut. Di sanalah kami makan bersama. Suasananya sangat ramai. Percakapan terdengar dari berbagai arah, sementara hidangan tersaji di hadapan kami. Rasa lelah setelah mengikuti berbagai kegiatan sejak awal seperti hilang ketika seluruh keluarga duduk dan menikmati makanan bersama.
Hari itu ternyata bukan hanya keluarga kami yang datang untuk melaksanakan peuleuh kaoi. Banyak keluarga lain juga berada di sana. Beberapa di antaranya bahkan sama-sama menyembelih kambing. Tempat yang awalnya saya bayangkan akan sepi ternyata dipenuhi manusia seperti sebuah pertemuan keluarga besar.
Saya kemudian mengetahui bahwa hajat setiap orang berbeda-beda. Ada yang berhajat agar dikaruniai anak, ada yang berharap usahanya semakin maju, ada yang memohon kesembuhan dari penyakit, dan ada pula yang berharap memperoleh hasil panen yang subur seperti nenek saya. Meskipun keinginan mereka berbeda, semuanya datang membawa harapan masing-masing.
Pengalaman mengikuti peuleuh kaoi bersama nenek menjadi pengalaman yang berkesan bagi saya. Sebelumnya, saya hanya menganggap kegiatan tersebut sebagai salah satu tradisi yang biasa dilakukan masyarakat. Namun, setelah mengikutinya secara langsung, saya melihat adanya kebersamaan yang kuat di dalamnya. Keluarga berkumpul, memasak bersama, berdoa, berbagi makanan, dan menikmati hidangan dalam suasana yang penuh keakraban.
Hal yang paling saya ingat adalah suasana di sekitar masjid. Angin pantai yang sejuk, suara ombak, aroma masakan, keramaian keluarga, serta orang-orang yang datang dengan hajat berbeda-beda masih melekat dalam ingatan saya. Hari itu seperti sebuah gambar yang tersimpan rapi dalam album ingatan saya. Dari pengalaman tersebut, saya mengenal lebih dekat salah satu tradisi yang hidup di tengah masyarakat Aceh sekaligus merasakan nilai kebersamaan, berbagi, dan rasa syukur yang menyertainya.
